Senin, Desember 24, 2012

Seberapa Waras Negeri Ini, Tergantung Kamu!

Seberapa waras negeri ini, akan ditentukan oleh pemimpinnya. Apakah itu pemimpin politik, pemimpin sosial, pemimpin ekonomi, pemimpin budaya, pemimpin agama. Siapakah pemimpin itu? Ialah mereka yang dipercaya memimpin. Sifat dari percaya ialah menyerahkan diri dalam totalitas dan tanpa reserve. Haqul yakin kepemimpinan lahir atas pengakuan dan kepasrahan yang parah atas kedaulatannya. Ia lahir dari cinta yang parah.
Namun ketika kepercayaan itu tumbuh atas keraguan, terjadi proses tawar-menawar, bahkan negasi atau penolakan, dalam berbagai ekspresinya, kita mengetahui bahwa kepemimpinan itu diragukan nilai dan keberadaannya. Kenapa bisa demikian? Tentu harus dilihat proses-proses yang menyertainya. Di jaman pseudo-realitas ini, segala sesuatunya tidak berjalan sebagaimana hukum sebab-akibat.
Pemimpin pada akhirnya hanya sebuah sebutan, yang jauh dari makna ke-pemimpin-an. Hubungan patron-client kemudian menjadi hubungan dagang, hubungan kepentingan yang lebih bersifat praktis, dan meniadakan dialog yang menumbuhkan. Bahkan, kemudian kita tahu, bagaimana patron kemudian membungkus dirinya dengan benteng-benteng peneguhan diri begitu rupa, dalam citra, dalam ritual, dalam legenda dan mitos, dan perlahan kita dijauhkan dari proses membersama.
Jika pers (atau sebutlah media massa) disebut sebagai pilar ke-empat dari demokrasi, perlahan kita juga tidak meyakininya, ketika informasi adalah juga bagian dari segala siasat untuk itu. Dan tanpa undang-undang yang berpihak pada akal sehat (UU media yang pro-kapital), yang kita temui adalah kepemimpinan yang buruk, karena kekuasaan lebih mengabdi pada pasar (kapital) daripada rakyat (society). Beruntung sekarang ada social-media, seperti twitter, facebook, atau blog, yang langsung bisa mengambil alih kuasa media itu, dan membebaskan media dari kepentingan-kepentingan lamis dari apa yang disebut logika kebebasan mengembangkan bisnis.
Hukum keseimbangan alam akan selalu menjadi hakim yang agung. Sapa sing salah seleh, kata pepatah Jawa. Siapa yang bersalah akan lengser, sekali pun rakyat belum bergerak (dan memang cenderung diam). Kesadaran akan demokratisasi, adalah sesuatu yang tumbuh tanpa bisa dibendung, dengan jalan apa pun. Ini adalah keniscayaan yang membuat kita tidak perlu pesimis akan masa depan bangsa, sekali pun ia berjalan begitu lamban.
Karenanya, ketika pemimpin telah kehilangan roh ke-pemimpin-an, perlahan kita akan percaya, bahwa yang kita perlukan adalah sistem, mekanisme, aturan-aturan kemuliaan yang operasional, yang nyata. Bukan seseorang yang tubuhnya gagah, wajahnya ganteng, dadanya berbulu, harus militer, harus lelaki macho, bertampang teduh religius, harus sukses 30 tahun memimpin grup dangdhut, dan sejenisnya itu.
Dengan segala maaf, kita tidak membutuhkan satrio pinilih, kinunjara, kesisih atau apalagi satrio bergitar. Yang kita butuhkan adalah orang yang kita percaya bisa menjalankan amanat dan kepentingan kita rakyat. Jika ketika kita pilih kemudian ia berkhianat, maka mekanisme penghukuman adalah karena daulat rakyat dalam hukum yang operasional.
Setelah Sukarno, kita tidak melihat pemimpin yang ke-pemimpin-annya menumbuhkan dan membersama. Soeharto dengan kemutlakan-kemutlakannya mengajari kita formalisme dalam berfikir (juga beragama), pragmatisme dalam bertindak, dan vandalisme ketika berkuasa. Dan ibarat tanah yang selama ini tak pernah diberi makan (karena ditabur intensifikasi pupuk un-organik, untuk tujuan swa-sembada beras), kita berada dalam tanah cengkar, kerontang, dan butuh puluhan tahun untuk memulihkannya. Dengan presiden sebaik Habibie, Gus Dur, Megawati, SBY, pemulihan untuk menyambung benang putus paska Sukarno, bukan sesuatu yang mudah, apalagi jika presiden-presiden setelah Soeharto itu bukan lebih bagus, tapi malah lebih bodoh dan tak jelas.
Perjalanan tentu masih panjang. Tapi, sekarang hampir semua orang bisa melakukan penetrasi, baik perseorangan maupun sendiri-sendiri, lewat berbagai jaringan sosial-media yang mereka kuasai. Itu artinya, pemimpin yang ke-pemimpin-annya lamis, politikus yang ke-politik-annya lamis, jurnalis yang ke-jurnalistik-annya lamis, ulama yang ke-ulama-annya lamis, presiden yang ke-presiden-annya lamis, akan mendapatkan perlawanannya.
Seberapa waras negeri ini, akan berpulang pada kewarasan kita mampu melihat berbagai kelamisan itu.

Kamis, Desember 06, 2012

Menjadi Presiden dan Popularitas

Apakah demokrasi yang mengajarkan kesetaraan itu berbeda di Papua?
Sebenarnya, apa maksud Cak Imin (PKB) ketika berkata, makin dihina Rhoma Irama makin popular. Apakah ia tidak mendukung Rhoma Irama dan meminta kita menghentikan hinaan, agar Rhoma tidak popular? Atau, kita harus nambah penghinaan biar Rhoma popular karena PKB mulai menimbang kemungkinan pencapresan Rhoma? 
Itu terserah kalkulasi Cak Imin saja deh. Mau ngomong apa saja bebas, asal jangan melarang orang berkomentar cem-macem. Karena mereka bikin ribuan statemen di ruang publik dan berkait dengan kepentingan hajat hidup serta masa depan publik, maka adil kiranya kalau publik memberikan feedbacknya.
Kalau Cak Imin demen ama Rhoma Irama, dan hanya dipendam dalam hati, itu urusan dia tentu. Tapi ketika disampaikan ke publik, ia sedang membeli imbal-balik. Dan dalam jual-beli kepentingan, adalah wajar jika tidak terjadi transaksi kepentingan pula. Karena kerja belum apa-apa, sudah ribut soal kursi, bagaimana publik mengapresiasi? Apalagi jika ternyata ukurannya berbeda. Bukankah hinaan atau pujaan adalah bentuk lain dari transaksi itu?
Jadi, soal hina-menghina, haruslah dilihat dalam konteks apa, sebelum membawa dalil-dalil yang serem seperti dosa dan neraka. Lagi pula, belum pernah ada pembakuan kata "popular" berarti baik, benar, dipercaya, apalagi dipilih. Tetangga saya dulu pernah "popular" karena ia maling ayam plus maling jemuran plus maling tempe goreng. Apakah dia layak jadi capres juga? Cak Imin juga popular jadi Menteri Tenaga Kerja yang tidak jelas konsep dan visi ketenagakerjaannya, apakah Cak Imin dengan demikian juga pantas jadi Capres, atau mau jadi Cawapresnya Rhoma Irama, rebutan posisi dengan Aceng, yang didunia maya sudah dipajang sebagai cawapres Rhoma? Atau Cak Imin mau belajar menyanyi atau mencipta lagu dangdhut?
Itu mah semua terserah dia sajalah. Popularitas bukan jaminan orang itu baik atau tidak, sekali pun orang yang tidak baik juga bisa jadi presiden. Karena pemilu memang bukan untuk mengukur kemuliaan hati seseorang, apalagi kepantasannya untuk memimpin. Berapa kali kita mengadakan pemilu, dan kita terus saja merasa tertipu? Dan itu bukan ciri-khas Indonesia, karena juga terjadi di beberapa negeri lainnya.
Karena yang lebih penting dari semua itu, bukanlah sosok presiden, melainkan sistem kepresidenan yang terkontrol terukur, terawasi, dan operasional. Artinya, lebih penting adalah munculnya rakyat yang berdaya. Rakyat yang tidak mudah menjadi sinis ketika ada pendapat rakyat lainnya yang kritis, dan si rakyat yang satu tidak memojokkannya rakyat lainnya (apalagi dengan dalil agama dan etnis) hanya karena berbeda cara pandang. Karena daya kritis adalah juga akumulasi cinta untuk saling mengingatkan.
Kita merindukan, pada masanya kelak, yang bernama presiden adalah sesuatu yang biasa-biasa saja, tidak perlu dilumuri dengan mantra-mantra macam satrio piningit atau atau satrio kinunjara, atau apalagi satrio aris munandar. Kita hanya ingin melihat entah itu pada JK, MMD, ABS, DI, JW, atau siapapun nama yang memiliki kepantasan dari pandangan rakyat, ia haruslah sosok yang jelas jejak-rekamnya. Presiden dan sebangsatnya itu, semestinya orang yang bekerja atas nama daulat rakyat.
Dan sesungguhnya hal itu gampang dilihatnya, sekiranya kita sedikit pinter membaca media kita, yang juga bukan pilar demokrasi yang kokoh karena pemilik di belakangnya.
Ketika TV-One ngomong bahwa ARB dan Golkar bagus, sama sekali sulit kita mengerti, darimana ngukurnya. Sama sebagaimana di mana bagusnya Nasdem, SP, atau HTS menurut Metro TV, MI, MNC, Sindo dan lain sebagainya itu.
Ketika politik membuat blangsak, maka sastralah yang akan membersihkan, kata sang sastrawan. Tapi ketika media busuk, kita hanya butuh masyarakat yang kritis. Baca dan dengarkan mediamu, hidupkan TV-mu, hidupkan pikiranmu, dan tetap merdeka. Tidak ada urusan dengan polling dan popularitas.

Rabu, November 14, 2012

Kasus Rhoma Irama, Berpolitiklah dengan "Bismi Rabbika"


Rhoma Irama mencapreskan diri, sesungguh hak azasi beliau, dan siapapun warga Negara Indonesia. Tak ada yang salah di situ. Namun ketika hak azasi itu digunakan dan akan bersangkut-paut dengan hak-hak public, kita tidak pantas mengaitkan dengan dalil-dalil normative soal; “Biarin saja, itu toh hak azasi”, “Jangan mengritik orang lain, lihat dirimu sendiri”, “Dalam agama dilarang berghibah, belum tentu kau lebih baik,…” dan seterusnya dan seterusnya.
Pandangan itu benar secara normative, namun menyesatkan karena mempunyai tendensi (dan kemampuan) mereduksi, mengikis, fungsi berbagai perbedaan untuk perbandingan dan saling mengingatkan.
Teks-teks agama, bukannya tidak tepat untuk soal-soal politik, namun lebih pada persoalan bagaimana membaca teks. Di dalam Quran dan Hadis ada begitu banyak teks, dan Muhammad telah mengingatkan kita, bagaimana agar selalu melihat asbabul wurud dan asbabun nujumnya. Melihat teks-teks dalam konteks, atau sebagaimana Tuhan memerintahkan “Iqra!” Bacalah. "Iqra, bismi Rabbika,..." Bacalah dengan nama Tuhanmu. Pada “nama Tuhanmu” itulah, artinya juga bukan sekedar membaca, karena ketika kita benar-benar membaca “dengan nama Tuhanmu”, pastilah sebagai manusia integrated, di sini akan masuk pula berbagai pertimbangan, agar kita tidak bodoh banget, tidak membabi-buta, menggunakan akal-sehat, menggunakan nurani, punya daya kritis, namun juga punya empati, bisa berjarak. Karena membabi buta juga dengan sendirinya meniadakan “dengan nama Tuhan” itu, karena tagline-nya adalah soal keseimbangan atau keadilan. Bayangkan, di mana logikanya bertakbir “Allahu Akbar” tapi sambil mengamuk merusak segala hal dengan senjata pedang atau parang, padahal musuhnya tak bersenjata, atau kaum lemah yang mesti dilindungi? Padahal Kanjeng Nabi telah mencontohkan perilaku etik dalam peperangan, yang jauh lebih berat dibanding apa yang kau hadapi! Jadi, bacalah dengan nama Tuhanmu, bukan dengan nafsu kebodohanmu.
Oleh karena ketika orang memakai “nilai-nilai” agama sebagai preferensi, haruslah diingatkan, itu nilai normative atau intrinsic yang menjadi kesatuan perilaku? Karena formalisme agama juga menunjukkan fakta, betapa bisa dan sering tidak sejalannya kepatuhan akan syariat agama dengan praksis kehidupan kesehariannya. Contoh paling gampang, betapa dari jutaan haji dan hajah kita, berapa yang mendekati 5% perilaku Kanjeng Nabi Muhammad shallahullahu allaihi wassallam (itu pun kalau kita mengaku punya ukuran-ukuran yang presisi)?
Karena Rhoma Irama tidak berada di ruang hampa, dan cita-citanya pasti juga akan menyangkut hajat hidup banyak orang, maka pastilah hal itu menimbulkan riak dan gelombang, akan memunculkan getaran atau resonansi. Pastilah hal tersebut mengundang bukan saja respons, melainkan juga reaksi. Itu hokum alam. Maka hak azasilah juga orang yang menerima, menolak, dan tertawa njungkel-njempalik mensinisinya.
Semua itu terjadi tentu karena bekalan atau modal yang ada pada Rhoma. Antara apa yang dikatakannya tentang modalnya, tentu dalam proposal pengajuan itu, masyarakat akan memverifikasinya. Dan jika yang muncul adalah reaksi negative, semua pasti sesuai hukum aksi-reaksi. Kalau pun yang muncul adalah penyambutan positif, hal tersebut juga akan muncul dari hokum yang adil. Hanya karena demokrasi modern masih punya banyak cacat dan kelemahan system, maka ukuran itu sering dianggap tidak sahih, terutama oleh yang dirugikan. Artinya, di sini soal kematangan kita berada dalam proses yang akan membuat system itu membaik atau tersandera oleh nafsu kebodohan kita.
Karena itu juga jangan segera ngamuk kalau ada yang menolak pencapresan Rhoma Irama, karena itu pertanda ketidaksiapan mengajukan proposal. Jika kalian dewasa, tentu bukan dengan menista yang menolak, melainkan memberi ruang dan waktu, agar kalian mendapatkan masukan, perbandingan, yang ujungnya adalah pertimbangan atau koreksi.
Kita juga tidak mengerti, ulama-ulama dan habib-habib yang sering disebut mendukung itu siapa saja? Apakah jika bernama ulama dan habib ia adalah manusia yang representative dan harus dituruti atau ditakuti? Saya tidak takut ulama dan habib, siapapun, karena yang saya takuti hanyalah Allah subhanahu wa ta’alla, karena bagi saya jelas, tidak ada Tuhan selain Allah. Dan pastilah, saya yakin, ulama atau habib bukan Tuhan. Kalau pun mereka Tuhan, pastilah mereka bukan Allah, karena sekali lagi tidak ada Tuhan selain Allah.
Kalau mereka mengaku Tuhan, yang ketika perintahnya tidak diikuti mereka kemudian mengutuk kita? Jika hal itu terjadi, lha ngapain mesti takut, karena mereka sendiri masihlah manusia yang merasa ketakutan ketika orang tidak menghargai petunjuknya?
Rhoma Irama boleh maju terus sebagai capres. Tapi sebagai warga bangsa, saya tak perlu minta ijin siapapun untuk menolaknya, karena saya punya hak paten untuk itu. Namun, jika boleh mengingatkan, ukuran-ukuran yang dipakai oleh Rhoma Irama, yang konon merupakan kata-kata para ulama dan habib itu, sangat naïf.
Ukuran Rhoma Irama (yang konon berdasar preferensi para ulama dan habib) adalah Rhoma Irama sukses memimpin grup music dangdut selama 40 tahun. Rhoma Irama terbiasa berkhutbah di masjid pada tiap Jumat dan Idul Fitri. Ukuran bahwa penggemarnya banyak, pendukungnya fanatic dan militant. Bahwa ia tokoh pluralis, bahwa dia dulu telah beberapa kali menolak tawaran itu. Semuanya terlalu sumir untuk preferensi mendapatkan ukuran seorang presiden. Kenapa tidak merenungi julukan “raja dangdut” yang dia dapatkan dengan sendirinya, yang semua itu didapat dengan perjuangan dan doa, setelah berkelana sebagai satria bergitar selama bertahun-tahun?
Namun tentu tidak serta merta “pengalaman” mendapatkan gelar “raja dangdut” itu bisa linier dan dicopy-paste dalam perjalanannya untuk mendapat gelar “presiden Republik Indonesia”, karena pastilah outline itu menuntut kisi-kisi yang juga spesifik berbeda.
Sementara rakyat punya sensitivitas dan sensibilitasnya sendiri, bagaimana ia bereaksi dan merespons berbagai nama seperti Aburizal Bakrie, Mahfud Md, Dahlan Iskan, Jokowi, Jusuf Kalla, Rizal Ramli, Prabowo Subianto, Wiranto, Megawati, Anies Baswedan, Sri Mulyani, Ani Yudhoyono, Hatta Radjasa, dan lain sebagainya yang bermunculan di ruang-ruang media kita.
Dalam kasus pilgub Jokowi-Ahok belum lama lalu, sudah terbuktikan, bahwa Rhoma Irama beserta para ulama dan habib pendukungnya, bukannya tidak laku, melainkan tidak “bismi rabbika”.
Berpolitik dengan manusia, tetaplah mesti dalam konteks “bismi rabbika” itu. Yakni ada konteks di dalamnya, berkeadilan, berketulusan, dan diharuskan kita bersiyasah dengan santun. Mereka yang tidak berpolitik dengan santun, akan mendapat imbalan yang setimpal. Lebih banyak menuai reaksi daripada respons. Sialnya, kita sering tak bisa membedakan antara reaksi dengan respons. Untuk hal yang sepele saja kita sering tidak bijak, apalagi soal yang besar.
Jika Rhoma Irama ingin maju sebagai capres, bolah-boleh saja. Tapi jangan nangis kalau duit habis diporoti oleh para calo dan penumpang gelap, yang Rhoma Irama sendiri merasa sudah cukup kaya-raya untuk itu. Sistem kepolitikan Indonesia, masih saja memungkinkan para calo, dan para avonturir, untuk memakainya sebagai ladang keuntungan dan kepentingan mereka sendiri. Omong kosong dengan dalil-dalil yang mereka munculkan di sana, karena pasti akan terlihat kamuflatif dan tidak diukur dengan ‘bismi rabbika’ tadi.
Bagaimana syarat menjadi capres yang baik? Rakyat selalu mempunyai sensitivitas dan sensibilitas radar mereka, yang otomatis semua itu terbangun karena kita tidak hidup di ruang hampa. Kebenaran itu tidak dibangun dari satu sisi, melainkan dari jalinan kebersamaan, dalam aksi-reaksi yang terus-menerus terjadi. Di sana rakyat telah mempunyai kriterianya, betapapun mesin politik bergerak, keuangan yang kuasa, dan sebagainya.
Bahkan, jika pun ketika panitia pemilihan bertindak curang, berhasil merekayasa perolehan suara, dan tidak ketahuan, pasti pada praktiknya nanti juga akan ketahuan dari praksis kepemimpinannya. Dan untuk itu telah tersedia hukumannya sendiri.
Rakyat tidak akan menuntut bagaimana keabsahan Partai Demokrat dalam Pemilu dan Pilpres 2009 misalnya. Rakyat juga tidak akan melakukan hal itu dalam Pilkada DKI 2012 kemarin, apakah satu atau dua putaran. Namun, hukum alamnya jelas; Juru masak yang bodoh (apalagi penipu), bisa dipastikan kualitas masakannya pun juga tidak lezat, bahkan bisa meracuni.

Selasa, November 13, 2012

Raja Dangdut Turun Pangkat Jadi Presiden




Masih mau membaca kisah capres Raja Dangdut, nggak? Kalau nggak, nggak usah dilanjutin ngebacanya. Kalau masih mau lanjut, begini ceritanya:
Syahdan, menurut sahibul bokis sebokis-bokisnya, Raja Dangdut pun mendaftar ke Panitia Pilpres. Pada saat wawancara, pansel (panitia seleksi) bertanya, “Selanjutnya, tolong Anda sebutkan pahlawan, atau tokoh idola, Anda?”
“Ehm, alhamdulillah, sebagai seorang yang nasionalis yang sangat mengenali bangsa ini, saya mengidolakan orang Indonesia. Dia adalah Pangeran Diponegoro. Bangsa ini akhlaknya telah terlempar, tidak ada lagi budi pekerti. Semua terjebak pada tindakan korupsi, anarkisme, tawuran antar suku, karena tidak adanya akhlak,…. Sekarang ini saya siap tampil. Ada keterpanggilan, melihat kondisi bangsa ini masih jauh dari cita-cita. Sebenarnya saya sudah menjadi pemimpin informal. Setiap Jumat saya menjadi khatib Jumat, Idul Fitri, dan dalam ceramah-ceramah memberi motivasi dan solusi untuk bangsa ini. Jadi menjadi pemimpin politik tidak kaget untuk saya. Saya sangat siap dan kenal dengan bangsa ini,… Ini pernyataan saya. Sudah dimuat di detikcom 12/11/2012, tolong di-cek. Internet itu sahih, bisa dipercaya, seperti waktu saya bilang Ibu Jokowi itu Kristen, itu saya baca di internet! Berarti sahih! Internet tidak mungkin gibah,…” Raja Dangdut pun pidato panjang lebar.
Begitu mantap dan meyakinkan kata-kata yang meluncur dari sang capres ini. Pansel pun begitu terkesan dan kagum, ternyata raja dangdut ini sangat nasionalis dan bangga dengan tokoh dalam negeri, karena semula dikiranya idolanya dari Arab dan para habib mulu.
“Tapi, Tuan, ini belum masa kampanye, jadi kembali ke pokok masalah,” kemudian pansel melanjutkan pertanyaan yang ringan-ringan saja, seputar Pangeran Diponegoro, “jika demikian, Anda pasti tahu, kapan Pangeran Diponegoro meninggal ‘kan?”
“Astagfirullah,…” Raja Dangdut kaget, “meninggal? Kapan? Innalillahi,…”
Tentu saja pansel ikut-ikutan kaget, tapi juga kecewa dengan reaksi capres ini.
Sesi wawancara mesti break maghrib.
Sebagai nasionalis, kabar tentang meninggalnya Pangeran Diponegoro sangat menyedihkan hatinya. Sampai di luar ruangan, dia bergegas menemui seseorang yang diketahuinya dari Yogyakarta, “Maaf, ya Mas, ini Mas SW ‘kan? Mmm, apa benar sih Pangeran Diponegoro sudah meninggal?”
Tentu saja pertanyaan itu menggelikan, tapi bagaimana pun dijawab juga oleh SW (hihihi, numpang beken), “Lho, ‘kan sudah lama, Paduka. Masa nggak tahu sih? Ngedangdut teyus sih. Nggak sempet lihat film November 1828 Teguh Karya, ya?”
“Ooo, sudah lama ya? Kok saya belum pernah denger ya, subhanalloh. Kapan sih Mas SW?”
“Yaa,… sekitar lapan belas lima-lima (1855), Paduka!”
Capres itu membelalakkan matanya, “Haaaah? 18.55? Habis maghrib, dong?”
Orang-orang yang mendengar pun membelalakkan mata.
"Menjelang Isya itu,..." kata Sang Raja Dangdut menjelaskan.
"Iya,..." tukas SW sembari menghela nafas."
"Katanya, sebelumnya terlibat peperangan, betul?"
"Betul, 1825-1830,..."
"Perang itu cuma berlangsung lima menit saja?"
Kini orang-orang yang mendengarnya meledak. Pingsan.

Raja Dangdut Jadi Presiden

Dalam sebuah kotbahnya, Rhoma Irama yang sang capres, berteriak dengan garangnya, “Bangsa ini akhlaknya telah terlempar, tidak ada lagi budi pekerti,…!”
Kerumunan massa mengelu-elukan, sambil berteriak-teriak dan mengacungkan tangan. 
Dari kerumunan, terlihat seorang Ibu terhimpit dan mau muntah. Bak pahlawan, Rhoma Irama loncat, turun dari panggung, meruyak kerumunan massa, mendekat, “Ibu pusing?
 Mau muntah?”
Ibu itu sembari memegangi kepala, mengangguk.
“Tenang. Ibu berada di tangan yang benar.”
“Bolehkah saya melihat wajahmu, Nak?”
Sang Capres senyam-senyum India. Ia tahu wajahnya sudah menyembuhkan banyak penyakit para pengagum dan pemujanya, “Tentu saja boleh Ibu. Kenapa?”
“Biar saya segera bisa muntah, Nak,…”

A Beautiful Mind, John Nash

John Nash, Prof. John F. Nash Jr., seorang matematikawan peraih nobel (uniknya) dalam bidang ilmu ekonomi 1994. Berkat penemuannya, terjadi perubahan antara lain dalam sistem pengupahan buruh. Meski pun dia adalah seorang matematikawan jenius tapi tak simpatik dan agak apatis.
Tahun 1947 ketika bersekolah di perguruan tinggi Princeton dengan beasiswa Carniege, John Nash mahasiswa yang unik. Ia tidak menyukai perkuliahan dan suka membolos. Menurutnya berkuliah hanya membuang waktu dan mengekang kreativitas seseorang. Hanya membuat otak menjadi tumpul. Nash lebih suka belajar secara otodidak. Memahami dan memecahkan dinamika pergerakan natural melalui pemikirannya sendiri yang sangat kreatif. Nash lebih banyak meluangkan waktu di luar kelas, demi mendapatkan ide orisinil untuk meraih gelar doktornya. Hingga, dari penemuannya, dia berhasil diterima di pusat penelitian bergengsi, Wheeler Defense Lab di MIT.
Namun di lain sisi, Nash mengidap penyakit gangguan jiwa, skizofrenia, suatu gangguan jiwa dimana penderitanya tidak bisa membedakan antara halusinasi dan kenyataan. Sebenarnya penyakit itu sudah dideritanya sejak dia berada di Princeton, namun semakin parah ketika ia mengajar di MIT.
Hidup Nash mulai berubah ketika ia diminta Pentagon memecahkan kode rahasia yang dikirim tentara Soviet. Di sana, ia bertemu agen rahasia William Parcher. Dari agen rahasia tersebut, ia diberi pekerjaan sebagai mata-mata. Pekerjaan barunya ini membuat Nash terobsesi sampai ia lupa waktu dan hidup di dunianya sendiri.
Dan ketika dipertemukan di kafe, dengan Alicia, perempuan yang nantinya menjadi isterinya, John Nas dengan enteng mengatakan, "Tak usah berpanjang lebar, yang kita butuhkan pertukaran cairan bukan? Langsung saja kita bicarakan soal seks,…" Alicia marah dan menampar pipi John Nash, dan meninggalkannya.
Namun Alicia pada akhirnya mengenali Nash, seorang lelaki dengan dunianya sendiri. Yang sibuk dengan angka-angka. Yang bisa tenggelam di kamarnya sendirian berhari-hari, berminggu-minggu.
Namun ketika menerima penghargaan Nobel 1994, di Stockholm, Swedia pada bulan Desember, John Nash tahu, bahwa apa yang selama ini dilakukannya, adalah karena perempuan yang dicintai, Alicia, isterinya. Yang menemaninya dalam suka dan suka, dan terutama saat-saat John Nash dalam situasi under-pressure.

Di depan orang-orang yang menghadiri penerimaan anugerah Nobel itu, juga di depan Alicia, John Nash (dalam film "A Beautiful Mind" diperankan oleh Russell Crow, 2001), berpidato tanpa lepas pandangan pada isterinya, "Aku selalu percaya kepada angka. Di dalam persamaan dan logika, yang mengarah kepada alasan. Tetapi setelah pencarian seumur hidup seperti itu, aku bertanya apa sesungguhnya logika itu? Siapa yang memutuskan alasan? Pencarianku telah membawaku melalui fisik, metafisik, khayalan, dan kembali. Dan aku telah membuat penemuan terpenting dalam karirku. Penemuan paling penting dalam hidupku, hanya ada di dalam kemisteriusan persamaan cinta, sehingga alasan logis dapat diterapkan. Aku semata-mata di sini malam ini karenamu. Kaulah alasanku. Kaulah (isteriku) semua alasanku. Terima kasih."
Kata Leonardo da Vinci (1452-1519), pelukis, arsitek dan insinyur Italia itu, mereka yang menyukai praktik tanpa teori bagaikan pelaut yang menjalankan kapal tanpa kompas dan kemudi. Dia tidak pernah tahu di mana akan terdampar. Benarkah? Entahlah, tapi menurut Rene Decartes (1596-1650), pakar matematika Perancis, agak lebih sederhana; Memiliki otak cemerlang tidaklah cukup, (karena) yang penting, kita bisa menggunakannya dengan baik. 

Amir Hamzah Pujangga Baru Indonesia


SENYUM HATIKU , SENYUM
Amir Hamzah

Senyum hatiku, senyum
gelak hatiku, gelak
dukamu tuan, aduhai kulum
walaupun hatimu, rasakan retak.

Benar mawar kembang
melur mengirai kelopak
anak dara duduk berdendang
tetapi engkau, aduhai fakir, dikenang orang sekalipun tidak.

Kuketahui, terkukursulang menyulang
murai berkicau melagukan cinta
tetapi engkau aduhai dagang
umpamakan pungguk merayukan purnama.

Sungguh matahari dirangkum segara
purnama raya di lingkung bintang
tetapi engkau, aduhai kelana
siapa mengusap hatimu bimbang?

Diam hatiku , diam
cubakan ria, hatiku ria
sedih tuan, cubalah pendam
umpama disekam, api menyala.

Mengapakah rama-rama boleh bersenda
alun boleh mencium pantai
tetapi beta makhluk utama
duka dan cinta menjadi selampai ?

Senyap, hatiku senyap
adakah boleh engkau merana
sudahlah ini nasip yang tetap
engkau terima di pangkuan bonda.

Tengku Amir Hamzah bernama lengkap Tengku Amir Hamzah Pangeran Indera Putera (lahir di Tanjung Pura, Langkat, Sumatera Timur, 28 Februari 1911 – meninggal di Kuala Begumit, 20 Maret 1946) adalah seorang sastrawan Indonesia angkatan Pujangga Baru. Dari lingkungan keluarga bangsawan Melayu (Kesultanan Langkat) dan banyak berkecimpung dalam sastra serta kebudayaan Melayu.
Amir Hamzah bersekolah menengah dan tinggal di Pulau Jawa pada saat pergerakan kemerdekaan dan rasa kebangsaan Indonesia bangkit. Disitu ia memperkaya dirinya dengan kebudayaan modern, kebudayaan Jawa, dan kebudayaan Asia yang lain. Selama di Pulau Jawa, ia bergaul dengan tokoh pergerakan asal Jawa, seperti Mr.Raden Pandji Singgih dan K.R.T Wedyodiningrat.
Dalam kumpulan sajak Buah Rindu (1941) yang ditulis antara tahun 1928 dan tahun 1935, terlihat jelas perubahan saat lirik pantun dan syair Melayu menjadi sajak yang lebih modern. Bersama dengan Sutan Takdir Alisjahbana dan Armijn Pane ia mendirikan majalah Pujangga Baru (1933). Oleh H.B. Jassin dianggap sebagai tonggak berdirinya angkatan sastrawan Pujangga Baru. Kumpulan puisi yang lain, Nyanyi Sunyi (1937), juga menjadi bahan rujukan klasik kesusastraan Indonesia. Ia pun melahirkan karya terjemahan, seperti Setanggi Timur (1939), Bagawat Gita (1933), dan Syirul Asyar (tt.).
Amir Hamzah terbunuh dalam Revolusi Sosial Sumatera Timur yang melanda pesisir Sumatra bagian timur (Kuala Begumit, 1946) di awal-awal tahun Indonesia merdeka, dimakamkan di pemakaman Mesjid Azizi, Tanjung Pura, Langkat. Diangkat menjadi Pahlawan Nasional Indonesia, berdasarkan SK Presiden RI Nomor 106/ tahun 1975, tanggal 3 November 1975.

Minggu, November 11, 2012

Perjalanan Kupu-kupu, Perjalanan Kehidupan


 Seorang anak kecil berlari-lari kecil di tepian hutan pagi. Ia bermain dan berceloteh dengan riang. Hingga akhirnya ia merasa lelah, dan berbaring di bawah pohon rindang. 

Tengah berbaring, tiba-tib
a matanya tertuju sebuah benda yang bergerak-gerak di sebatang dahan.
Ia segera bangkit. Mendekati dan kemudian mengamati benda tersebut. Ternyata adalah sebuah kepompong kupu-kupu.
Bayi kupu-kupu yang berada dalam kepompong itu, menggeliat berusaha keluar. Bukan usaha yang mudah, karena lubang kepompong itu tampak terlalu kecil. Membuat calon kupu-kupu itu kesulitan untuk keluar.
Sekian waktu mengeliat-geliat, bayi kupu-kupu itu terdiam sejenak. Mungkin istirahat karena kecapaian.
Anak kecil yang sedari tadi mengamati kejadian itu, merasa iba melihatnya. Karena ingin menolong sang kupu-kupu, anak itu berlari ke rumahnya, mengambil gunting, kemudian kembali ke kepompong itu.
Dengan penuh kehati-hatian, sang anak membedah kepompong dengan guntingnya, sehingga kulit itu terbuka. Anak kecil itu merasa lega. Namun dia merasa heran, karena kupu-kupu itu badannya kecil. Sayapnya tak bisa mengembang dengan sempurna.
Walau kupu-kupu itu berusaha berkali-kali, tetap saja tak mampu mengepakkan sayapnya. Kupu-kupu itu pun tak pernah bisa terbang.
Alangkah malangnya.



Entahlah, adakah anak kupu-kupu itu, atau anak kecil yang penolong itu, pernah membaca dongeng. Bahwa kesulitan yang datang, akan menempa kita menjadi sosok yang kuat menjalani kehidupan.
Sebenarnya kupu-kupu tersebut tengah dalam proses untuk menguatkan tubuh dan sayapnya. Namun karena datangnya bantuan, justru membuat proses tersebut terganggu, dan membuat sang kupu-kupu menjadi lemah, dan tak bisa terbang.
Demikianlah juga manusia. Ketika kita sering menghadapi kesulitan dan cobaan hidup, dan kita berusaha untuk mencari jalan keluar, dengan menggunakan seluruh potensi dan kemampuan yang kita miliki, sesungguhnya itu berarti kita tengah menguatkan sayap-sayap kita, agar sentausa dan bisa terbang menuju kesuksesan.
Kemudahan dan kenyamanan dalam hidup, diam-diam suka menyebabkan kita menjadi statis. Tidak memiliki variasi dalam hidup, yang menyebabkan kemandegan untuk mengembangkan kreativitas dan penempaan mental.
Kesulitan demi kesulitan, sesungguh-sungguhnya, adalah obat mujarab, agar kita tetap dinamis dan berkembang kreativitasnya. Orang-orang sukses adalah orang yang suka akan tantangan dan kesulitan, karena disitulah mereka menemukan semangat, dan gairah hidup.
Bahkan, tak segan, mereka sengaja membuat kesulitan-kesulitan, ketika kondisi mereka sudah nyaman. Air tenang membahayakan, tapi air beriak memberikan tantangan, meski kebanyakan akan berkata ‘air beriak tanda tak dalam’. Sedalam apakah pengetahuan kita tentang kedalaman?
Welas tanpa alis, kata orang Jawa, ialah justeru ketika dengan bantuan kita, yang lahir adalah belenggu. Betapa banyak anak-anak kita, generasi muda, justeru tumbuh dalam kedunguan dan ketakutan, karena dalih kasih-sayang orangtua yang penuh kekhawatiran di balik hardikan-hardikannya, atau bahkan pemanjaan-pemanjaannya.



Orang yang Selalu mengeluh ketika dihadapkan pada kesulitan dan permasalahan, serta selalu mengharapkan bantuan dan pertolongan orang lain dalam menghadapinya, akan menjadi manusia yang lemah, dan tak akan pernah menemukan kesejatiannya, juga kesuksesannya yang sejati, yakni menjadi diri-sendiri. Metharming with love for you fam and who-ever!


Orang-orang yang Mudah Dicuciotak


Tidak semua orang bisa dengan mudah dicuci otak (brainwashing). Namun beberapa orang tertentu justru sangat mudah terpengaruh atau dicuci otak.
Ini beberapa tipikal orang yang mudah dicuci otak. Dan boleh dicoba.
Beberapa faktor psikis dapat membuat orang mudah terpengaruh dengan proses cuci otak:
1. FAKTOR PSIKIS YANG LABIL. Misal memiliki rasa negatif, bingung atau ragu dengan identitas dirinya sendiri.
2. PSIKOLOGIS YANG SOMBONG. Tak hanya orang yang psikisnya labil, yang mudah dicuci otak. Orang yang percaya diri berlebihan, alias kesombongan psikologis, juga bisa dengan mudah dipengaruhi.
Misal orang-orang yang egois dan bangga, bahwa apapun yang ia percaya secara otomatis adalah benar, namun tidak didukung dengan pengetahuan yang luas dan mendasar.
3. ORANG YANG MENGALAMI TEKANAN FISIK DAN MENTAL. Hal ini karena kondisi tersebut membuat orang menjadi kelelahan, tidak berdaya, hingga akhirnya mengurangi kemampuan berpikir, dan menolak pengaruh baru yang diberikan.
Kenapa dengan tipikal tersebut gampang dicuci otak? Karena dalam cuci otak ada tiga prinsip dasar yang bisa mengenai orang-orang seperti contoh di atas.
Dalam psikologi, studi tentang cuci otak sering disebut dengan reformasi pikiran (thought reform) yang masuk dalam lingkup pengaruh sosial. Teknik cuci otak ini nantinya bisa mengubah sikap, kepercayaan dan perilaku orang.
Cuci otak merupakan bentuk parah dari pengaruh social, yang menggabungkan semua pendekatan untuk menyebabkan perubahan dalam cara berpikir seseorang. Hal itu terjadi tanpa persetujuan orang tersebut, dan sering bertentangan dengan kehendaknya (DiscoveryHealth).
Karena cuci otak adalah bentuk pengaruh invasif, teknik ini memerlukan isolasi lengkap dan ketergantungan subjek. Itu sebabnya, kegiatan cuci otak kebanyakan terjadi pada kamp penjara atau tempat dengan pengawasan penuh. Atau bisa juga, pada keluarga yang tertutup.
Si agen pencuci otak (brainwasher) harus memiliki kontrol penuh atas target (brainwashee), sehingga menyebabkan pola tidur, pola makan dan pemenuhan kebutuhan dasar manusia lainnya. Tergantung pada kehendak agen. Agen dalam hal ini, bisa berwujud orangtua, dan target bisa berupa anak.
Dalam proses cuci otak, agen secara sistematis memecah identitas target ke titik yang tidak bekerja lagi. Agen kemudian menggantikannya dengan satu set perilaku, sikap dan keyakinan yang bekerja di lingkungan target saat ini. Itulah yang membuat kebanyakan target bisa melupakan kepercayaan, dan keyakinan yang dilakukannya, sebelum proses cuci otak.
Beberapa definisi cuci otak, memerlukan adanya ancaman bahaya fisik. Definisi lain bergantung pada paksaan non-fisik dan control, sebagai sarana efektif untuk menegaskan doktrin atau pengaruh.
Terlepas dari definisi yang digunakan, banyak ahli percaya,  bahwa efek dari proses yang paling sering terjadi dari cuci otak adalah efek jangka pendek. Artinya identitas lama korban, pada kenyataannya, tidak diberantas. Tetapi hanya disembunyikan. Jika 'identitas baru' dihentikan, maka keyakinan awalnya akan mulai kembali normal.
Selamat mencoba.

Sabtu, November 10, 2012

Dongeng Malming tentang Nenek yang tidak Sopan


Syahdan menurut sahibul bokis, pada suatu malming, adalah seorang Muda Rupawan naik bis. Namanya juga malming, habis mandi tadi sekujur tubuh sudah di body-wash dengan aneka pewangi. Dua belah keteknya juga udah disemprot-semprot. Rambutnya klimis kayak Pak Beye. Siapa tahu ada yang nyantol.
Saat itu, Tokoh Kita melihat seorang nenek tampak mual-mual dan ingin muntah. Lalu Tokoh Kita nan Rupawan menghampiri, dan bertanya pada nenek tersebut dengan ramah, "Kenapa Nek, nenek mual ya?"
"Iya, Nak..." Nenek tua (ya masak nenek muda) itu kemudian balik bertanya, "Nak, boleh lihat mukanya sebentar?"
"Boleh, Nek,…” Sang Muda Rupawan menyahut dengan penuh senyum, “kenapa Nek?"
"Biar muntahnya gampang, Nak,…!"

Dongeng Malming tentang Sarung


Hujan turun dengan derasnya di malming ini. Betapa menyebalkan. Bukan soal hujan itu, tapi sejak sore tadi, William Wallace (nama tokoh kita ini, biar keyen dikit), terpaksa harus nemenin bokap ceweknya. Betapa menyebalkan, apalagi yang bokap tak bergeser duduknya. Padahal acara bola Timnas, yang berjalan nggak mutu itu, sudah lama usai. Kapan kesempatan untuk generasi muda bangsa untuk beraksi kalau begini ini? Huh!
"Sudahlah, Nak Wallace, nggak usah gelisah," berkata bokap si cewek, "Nak Wall tidur saja di sini, kalau pulang nanti malah kehujanan, masuk ngain,..."
Sebenarnya, tawaran itu sesuai harapan bangsa. Tapi si double u double u (WW) itu mesti jaga performance, "Ah tidak usah, Pak. Nanti malah merepotkan. Lagian, nggak nyampe lima menit udah nyampe ke kost, Pak,..."
Rumah, tepatnya tempat kost WW memang dekat, namanya juga cinlok, agar hemat transport.
"Tidak kok. Nak Wall bisa tidur di kamar tamu,... Mmmm, ya udah, bapak tinggal dulu ya," jawab si bokap sambil beranjak melangkah masuk ke kamarnya.
Jihaaaa, merdeka!
William Wallace pun penuh semangat. Si pacar berinisiatif membuatkan minuman hangat, dan meninggalkannya  menunggu sendirian di ruang tamu.
Tak lama kemudian, sang cewek muncul sembari membawa minuman. Namun, ternyata si WW tak ada.
Ruang tamu kosong.
Namun, tak berapa lama kemudian, muncullah WW dari balik pintu depan, dengan pakaian basah kuyup sambil membawa kain sarung, "Maaf Dik, aku tadi pulang ke kost bentar, ambil sarung ini," kata WW yang basah kuyup, "soalnya, aku nggak bisa tidur kalau nggak pakai sarung kesayanganku ini,..."

Kamis, November 08, 2012

Anekdote Negeri Kaya Raya; Indonesia Raya


Ketika kau haus, kau minum Aqua, yang 74% sahamnya milik Danone dari Perancis. Atau ketika kau hendak memulai atau mengakhiri harimu, kau hirup Teh Sariwangi yang 100% saham milik Unilever dari Inggris. Mau agak manis? Ada gulaku yang diimpor.

Apalagi yang kau banggakan? Minum susu? Susu SGM, yang kata takglinenya dibikin Rendra “semanis susu Ibu” itu? Perusahaan itu kini 82% sahamnya dikuasai Numico Belanda. Lalu mandi pakai Lux dan gosok gigi dengan Pepsodent, itu produk Unilever Inggris.
Bagaimana sarapan pagi kita? Nikmati beras impor dari Thailand.
Mereka yang suka ngisep rokok, boleh isep rokok produk Sampoerna yang 97% saham milik Philip Morris Amerika.
Sudah barang tentu, keluar rumah naik motor atau mobil buatan Jepang, China, India, Eropa, tinggal pilih. Sesampai di kantor tinggal nyalain AC buatan Jepang, Korea, China. Pakai komputer, hp, BB, dengan berbagai operator Indosat, XL, Telkomsel? Semuanya milik asing; Qatar, Singapura, Malaysia.
Mau belanja? Ada Carefour dari Perancis, atau ke Alfamart dengan 75% saham Carefour? Masih ada Giant, ini punya Dairy Farm International, Malaysia yang juga pemilik saham Hero.
Sementara malam-malam iseng nongkrong ke Circle-K? Starbuck? Makan ayam goring dari Koloner Sanders? Dan seterusnya dan sebagainya? Kehabisan duit cash? Ada ATM, ada phone banking, tinggal pencet di BCA, Danamon, BII, yang semuanya akan memberi keuntungan pada para pemiliknya dari luar negeri.
Bank Niaga saja, hanya namanya, pemilik juga dari negeri asing. Belum kalau kau mau bangun rumah, dengan semen Tiga Roda,  Indocement, yang sekarang milik Heidelberg Jerman dengan menguasai 61,07%. Begitu juga Gresik, milik Cemex Meksiko, Semen Cibinong milik Holcim Swiss.

Dan kini kenyataannya harus impor susu sampai 90%, dan mesti didatangkan dari Selandia Baru. Total impor pangan pada 2011 mencapai Rp 125 triliun. Sebanyak 2 juta ton beras per tahun impor dari Vietnam, Thailand, China, India, dan Pakistan. Jagung dibeli dari India, Argentina, dan AS. Kedelai impor 70 persen dari AS, Malaysia, Brasil, dan Thailand. Terigu impor 100 persen dari Australia.
Belum pula daging sapi impor 30 persen dari Australia. Gula impor 30 persen, gandum 5 juta ton per tahun. Tak cuma garam yang kita beli 50 persen dari Australia, India, Singapura, tapi juga dari Selandia Baru, dan Jerman.
Ikan asin saja, ikan asin Bro, pun impor. Padahal 40 jenis ikan impor itu, ternyata ada di perairan kita.

Lantas, apa makna klaim pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono terkait keberhasilan pertumbuhan ekonomi sebesar 6,7 persen sebagai capaian yang tinggi, setara dengan China, India, dan Korea?
Menyesatkan.
Pertumbuhan ekonomi Indonesia sama sekali berbeda dengan Korea, India, dan China, karena mereka memang ditopang oleh produksi, produktivitas Industri yang dikerjakan oleh bangsanya sendiri. Indonesia? Seperti yang bisa dibaca pada awal tulisan ini.
Ekonomi yang tumbuh di Indonesia adalah milik asing. Perusahaan raksasa asing, merekalah yang mengeruk dan menangguk kekayaan dan keuntungan bangsa ini.
Yang meningkat keuntungannya adalah perusahaan migas, namun 85 persen di antaranya milik asing. Batubara yang juga 75 persen dikuasai asing, mengalami keuntungan. Kemudian perusahaan tambang mineral, 95 persen adalah milik Freeport dan Newmont. Bahkan, industri perbankan kita, 65 persen dimiliki asing. Tak hanya itu, sektor perkebunan sekitar 50 persen sampai 65 persen dimiliki asing.
Semua yang tumbuh di negeri ini, milik bangsa lain. Lantas darimana pertumbuhan ekonomi itu diklaim sebagai success story?

Sementara itu, parahnya, pertumbuhan ekonomi Indonesia juga ditopang oleh utang luar negeri, surat utang atau obligasi negara. Saat ini utang pemerintah mencapai Rp 2.000 triliun. Utang swasta mencapai Rp 1.000 triliun. Sebagian besar bersumber dari luar negeri.
Setiap tahun, pemerintah dan swasta membayar bunga dan cicilan utang pokok lebih dari Rp 350 triliun. Padahal, pertumbuhan ekonomi Indonesia kurang dari Rp 100 triliun berdasarkan harga konstan tahun 2000. Jadi mau apa? Mak dikipe!
Dengan demikian, pertumbuhan ekonomi Indonesia sama sekali tidak cukup untuk membayar bunga utang dan cicilan utang dan pokok, baik milik pemerintah maupun swasta.
Sementara masyarakat Indonesia dipaksa hidup dengan kredit konsumsi. Tahun 2012 total kredit konsumsi mendekati Rp 700 triliun, dengan bunga yang sangat tinggi, mencapai 32 persen.
Pemerintahan SBY membangun ekonomi dengan mencekik rakyatnya sendiri demi mengabdi pada asing.
Sudah demikian, bak jatuh ketimpa tangga, lapangan kerja langka, pengangguran meluas, upah rendah, lebih dari 75 persen bekerja di sektor informal, tanpa jaminan keberlangsungan hidup yang jelas.
Banyak ekonom yang kritis terhadap klaim keberhasilan pemerintah, mereka tak ragu menyebut pertumbuhan ekonomi pemerintahan SBY adalah pertumbuhan palsu, sama dengan pertumbuhan ekonomi pada era kolonial. Pertumbuhan ekonomi bagi orang asing, bangsa lain, tetapi menistakan bangsa sendiri.
Dan semakin tak berharganya kita, ketika bangsa ini pun hanya bisa mengandalkan korupsi, sebagai satu-satunya produk asli dalam negeri yang paling handal.
Negeri ini, Indonesia Raya yang konon kaya raya, memang dalam situasi menyedihkan, sangat.


Di bawah ini, daftar peringkat penyelenggarakan pemerintahan daerah yang korup. Ini hanya sebagian kecil. Belum kita masukkan korupsi di level birokrasi pemerintahan pusat. Di eksekutif, di legislative, bahkan di judikatif. Demikian juga permainan KKN (Korupso, Kolusi, Nepotisme) dalam perselingkungan pemerintah dan swasta. Bisa lebih buruk lagi, karena angkanya jauh lebih gede.

PERINGKAT KORUPSI DI PEMERINTAHAN PROVINSI SE INDONESIA

Berdasar ihtiar hasil pemeriksaan Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) pada semester II tahun 2011, dari tata-kelola pemerintahan daerah tingkat I (propinsi) se Indonesia, ditemukan kerugian negara mencapai Rp 4.174.640.290.000 (4,1 trilyun) dengan 9.703 kasus. Fitra (Forum Indonesia untuk Tranparansi Anggaran) mengolah data itu dan membuat pemeringkatan propinsi terkorup, yang hasilnya tak jauh beda dengan yang telah diungkap PPATK, sebagai berikut:

01). DKI Jakarta, Rp 721, 5 miliar, 715 kasus
02). Aceh Rp 669,8 miliar dan 620 kasus
03). Sumatera Utara, Rp 515,5 miliar, 334 kasus
04). Papua, Rp 476,9 miliar, 281 kasus
05). Kalimantan Barat, Rp 289,8 miliar, 334 kasus
06). Papua Barat, Rp 169 miliar, 514 kasus
07). Sulawesi Selatan, Rp 157,7 miliar, 589 kasus
08). Sulawesi Tenggara, Rp 139,9 miliar, 513 kasus
09). Riau, Rp 125,2 miliar, 348 kasus
10). Bengkulu, Rp 123,9 miliar, 257 kasus
11). Maluku Utara, Rp 114,2 miliar, 732 kasus
12). Kalimantan Timur, Rp 80,1 miliar, 244 kasus
13). Sumatera Selatan, Rp 56,4 miliar, 239 kasus
14). Nusa Tenggara Barat, Rp 52,8 miliar, 307 kasus
15). Sulawesi Tengah, Rp 52,8 miliar, 294 kasus
16). Sulawesi Barat, Rp 51,3 miliar, 335 kasus
17). Gorontalo, Rp 48,8 miliar, 203 kasus
18). Maluku, Rp 47,8 miliar, 326 kasus
19). Nusa Tenggara Timur, Rp 44,4 miliar, 219 kasus
20). Jawa Barat, Rp 32,4 miliar, 363 kasus
21). Lampung, Rp 28,4 miliar, 181 kasus
22). Sumatera Barat, Rp 27,4 miliar, 188 kasus
23). Kalimantan Selatan, Rp 22,8 miliar, 221 kasus
24). Kalimantan Tengah, Rp 21,4 miliar, 153 kasus
25). Banten, Rp 20,1 miliar, 207 kasus
26). Kepulauan Riau, Rp 16,1 miliar, 109 kasus
27). Sulawesi Utara, Rp 16 miliar, 227 kasus
28). Jambi, Rp 15,8 miliar, 172 kasus
29). Jawa Timur, Rp 11,424 miliar, 153 kasus
30). Jawa Tengah, Rp 10,4 miliar, 145 kasus
31). Bali, Rp 6,2 miliar, 81 kasus
32). DIY, Rp 4,7 miliar, 23 kasuss
33). Kepulauan Bangka Belitung, Rp 1, 9 miliar, 76 kasus