Kamis, Desember 29, 2011

Dongeng Pagi pada Suatu Bokis

Oleh Sunardian Wirodono

Pada suatu pagi yang entah dan bokis, Einstein, Santayana, George Bernard Shaw, Socrates, Plato, Thomas A. Edison, Voltaire, Gandhi, Khalil Gibran, Sukarno, dan entah siapa lagi, pokoknya begitu banyak nama-nama yang sering beredar pada status facebook, berkumpul. Ada juga motivator, kolumnis, perakit kata, jurnalis yang tak pernah nulis jurnal. Mereka mengadakan Musyawarah Besar Sekali (disingkat Mubesek).
"Coba, kalau kita hidup di jaman Ring Back Tone kayak Ahmad Dhani,..." Einstein membuka percakapan.
"Siapa Ahmad Dhani?" Sukarno bertanya.
"Hloh, lha itu 'kan bangsamu, Su!" Plato menukas cepat, "Itu lho, suami Mulan Jameela,..."
"Mulan Jameela? Nama yang cantik, apakah secantik wajahnya?" Sukarno mulai antusias.
"Halah si Bung ini, kalau sudah soal perempuan,..." Socrates memprotes, "Kembali ke Thukul, eh, fokus!"
"Kalau kita hidup di jaman RBT, maka kita akan kaya, karena banyak manusia mengutip renungan-renungan kita. Bayangkan, dalam satu detik ada ratusan status fb ditulis, dan banyak di antaranya hanya berisi kutipan kata-kata kita itu!" Einstein mencoba menjelaskan kegelisahannya, "dan semuanya itu gratisan! Coba hitung, berapa royalti yang bakal kita terima, andai kita berada di jaman itu,..."
"Halah," Plato menukas, "tidak semua yang bisa dihitung itu bisa dihitung,...!"
"Hei, hei, hei, kamu nyontek pendapatku ya?" Einstein sewot, "Tidak semua yang dapat menghitung dapat dihitung, dan tidak semua yang dapat dihitung dapat menghitung,... jangan dicomot seenaknya!"
"Uh, logikamu ribet!" Socrates menyela, "kembali ke fokus. Masalahnya bukan soal kita dapat royalti tidak, tapi ada gunanya nggak sih kutipan kita itu? Apa segala macam wise-word itu bisa mengubah hidup manusia? Menyelamatkan dunia ini? Nyatanya, perang masih ada, pertengkaran masih subur. Bahkan, di negaranya Sukarno itu, yang pakai Pancasila, kini berkembang perang suku, perang tarkam (antar kampung, antar kampus), antarmahasiswa,... peradaban makin ruksak! Rusak mah biasa, ruksak itu biangnya rusak!"
"Outside of a dog, a book is man's best friend. Inside of a dog it's too dark to read," tiba-tiba nongol Groucho Marx, komedian dan film star Amerika.
"Maksudnya?" George Santayana bertanya.
"Kata-kata motivasi berguna sekali dalam perjalanan hidup. Sekiranya mereka sering mengucapkan kata-kata motivasi ke orang-orang, itu bisa menjadi penambah motivasi,..."
"Ah, kamu terlalu textbook thinking!" Thomas A. Edison memotong, "hidup itu kumpulan pengalaman. Mau ini mau itu, pengalaman merekalah yang penting, dengan atau tidak dengan kata-kata bijak!"
"Hmmm,... Kata-kata itu sebenarnya tidak mempunyai makna untuk menjelaskan perasaan," tiba-tiba berujar seseorang, entah siapa tak jelas, karena hari sudah malam, dan listrik giliran padam, "Manusia boleh membentuk seribu kata-kata, seribu bahasa. Tapi kata-kata bukan bukti unggulnya perasaan. Sebelum memberi nasihat kepada manusia dengan ucapanmu, berilah mereka nasihat dengan perbuatanmu. Memang, bukti ilmu seseorang pada ucapannya, tapi bukti akal fikiran seseorang ialah perbuatannya,..."
Dan seterusnya. Obrolan itu panjang tiada habisnya. Hasilnya? Belum dirumuskan. Tapi, menurut laporan wartawan, para filsuf dan para cendekia-aulia itu lagi pada manyun, menunggu esok pagi tiba, atau tepatnya menunggu bakul bubur ayam nyelonong dalam area Mubesek.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar