Sabtu, Desember 31, 2011

Deklarasi Sunardian Wirodono 2012

Oleh Sunardian Wirodono

PEMANDANGAN UMUM. Pada dasarnya, facebook adalah penemuan Mark Zuckerbergh yang menarik pada abad teknologi informasi ini. Dan sebagaimana ditekadkan oleh si anak muda terkaya di dunia itu, ini adalah jejaring sosial yang akan menemani perjalanan anak bangsa di seluruh dunia, sekali pun ada banyak ketidakkonsistenan dalam perkembangan aturan-aturannya yang aneh dan tidak boleh diganggu-gugat.
Dulu pertama kali, fb memakai slogan menganjurkan dengan media ini kita bisa memperbanyak hubungan antar individu dengan siapa saja dan sebanyak-banyaknya manusia, pada perkembangannya kemudian membatasi kita hanya boleh meng-add yang sudah kita kenal. Masalahnya, kita kenal di mana dan kenal siapa? Lagi pula, jika itu bahasa teknis, "ngapain" kalau sudah kenal (terkoneksi di fb) kita masih pula meng-add-nya? Apakah mesin program bisa menguraikan dan mengidentifikasi kita "sudah" dan "belum" kenal? Sementara itu pula, di fb yang kemudian bisa diakses dengan handphone, pada akhirnya "turun derajad" bukan lagi sebagai media sosial, melainkan lebih merupakan "media komunitas" dalam bentuk yang lebih eksklusif.
Senyampang dengan itu, fb juga memberi keleluasaan untuk munculnya identitas "palsu", apalagi dengan kemudahan mendaftarnya yang bisa dengan sembarang (atau semudah) membuat email baru, membuat facebook tidak memiliki kemampuan untuk mengidentifikasi, menyeleksi atau memverifikasi, sehingga nilai bias media ini menjadi sangat tinggi. Sebagai media sosial, kredibilitas fb masuk dalam kategori rendah, setingkat lebih tinggi dari nomor hape (di Indonesia), karena tingkat akuntabilitas dan kredibilitasnya sangat sulit diverifikasi (dan mungkin juga dikonfirmasikan), apalagi dengan nama-nama "tak beridentitas". Yang muncul kemudian pernyataan-pernyataan pribadi, persoalan-persoalan privat yang dipublikasikan tanpa filter, sesuai karakter masing-masing yang beragam. Di dalam masyarakat lisan (tutur), yang menyatakan pendapat pribadi pun belumlah merupakan kebiasaan, maka berkomunikasi "tulis" melalui fb, semakin mempertinggi terjadinya kekacauan berkomunikasi. Ia hanya "memperbaiki" teknis berkomunikasi dalam bentuk "cara" mendelivery atau mendistribusi, tetapi bukan pada content.
Ia menjadi tak lebih sebagaimana orang berkirim "sms" atau "mms" melalui handphone, hanya dengan kelebihan bisa serentak kepada banyak pihak yang terkoneksi dan hanya sekali klik (tidak perlu memforward satu-persatu). Demikian pula, dengan tidak terjadinya akselerasi sosial pada para facebooker, maka akhirnya terjadi "seleksi alamiah". Tersedianya ruang interaktif, yang serentak dan terbuka itu, membuat beberapa facebooker pada akhirnya membatasi diri, dengan jalan menyeleksi, meremove atau mendelete "sahabat" menjadi "bukan lagi sahabat", dan seterusnya.
Hal itu bisa jadi bersebab karena karakter medianya. Sebagai media yang interaktif, namun bersifat indirect, dengan keragaman facebooker, juga bisa menimbulkan bias, friksi, dan berbagai gesekan yang menimbulkan akibat-akibat berbeda. Itu akan sangat tergantung pada sensitivitas dan sensibilitas para pelakunya. Betapa mudah orang "menjalin" persahabatan namun juga begitu gampang kita "melenyapkan" persahabatan dengan satu kali click. Apalagi jika fb dipakai sebagai medan pertempuran pribadi, area maki-maki namun tidak dalam tempat yang adil. Ada begitu banyak salah paham dan sakit hati, yang tidak terselesaikan secara proporsional, baik dari soal politik, agama, dan persoalan cinta-mencinta.
Atau bisa jadi itu semua karena sekali pun bersahabat di dunia maya, yang mudah itu, ternyata tidak atau belum tentu diimbangi dengan proses persahabatan yang memadai, sebagaimana proses persahabatan di dunia nyata. Di dunia maya, persahabatan tidak difasilitasi dan tidak akseleratif dengan kemampuan teknologi komunikasi yang progresif dan bebas nilai. Yang tumbuh pada fb kemudian adalah suburnya grup-grup kepentingan atau komunitas minat (terbuka, tertutup, maupun rahasia) yang jauh lebih berkembang. Pada sisi inilah, media jejaring sosial menemukan formatnya yang lebih pas. Sementara akun-akun pribadi, yang pada awalnya seolah berlomba mendapat teman sebanyak-banyak, hingga batas maksimalnya mencapai 5000 nama, pada akhirnya juga tidak lagi menjadi daya tarik, karena toh sebenar-benarnya dari capaian 5000 nama itu, toh interaksi yang terjadi bisa jadi tak lebih dari 50%, bahkan mungkin hanya 25%, atau bahkan sesungguh-sungguhnya tak pernah lebih dari 1% belaka.
Empat tahun sudah saya bermain-main facebook, dengan lima akun (dua akun dengan nama pribadi, kini terkoneksi dengan 8.000-an nama), dan tiga akun berdasar minat dan kepentingan, menghimpun 7.000-an nama), membuat saya mempunyai kesimpulan, bahwa media sosial seperti fb ini, mengajarkan saya pada soal sensitivitas dan sensibilitas. Dari sana saya bisa memahami dengan nyata, bagaimana keberagaman manusia Indonesia (setidaknya yang terkoneksi dengan saya tentu).
Namun secara umum, saya meyakini, bahwa sebagian besar manusia Indonesia, masih menjunjung tinggi nilai-nilai kemuliaan, sekali pun kadang itu pengetahuan normatif, yang tak jarang cara mengekspresikannya bisa berlawanan dengan nilai materi yang diekspresikan. Misalnya menuding pihak lain sebagai buruk, namun dengan cara yang jauh lebih buruk. Maunya mengajarkan cinta kasih dan kebenaran, namun tidak dengan cara yang mencerminkan sikap itu. Dan sejenisnya. Itu lebih karena tidak atau belum terjadinya proses internalisasi antara yang meresap masuk dalam pikirannya, untuk kemudian ditransformasikan dalam media tulis. Dan itu persoalan benar.
KESIMPULAN. Media komunikasi tertulis, seperti fb, twitter, dan lain sejenisnya, tumbuh subur. Sayangnya tidak diimbangi dengan akselerasi modernisasi dalam bentuk tingkatan kesadaran untuk belajar, tentu saja dengan media membaca. Kita tanpa proses, langsung berkomunikasi dengan bahasa tulisan. Sementara, bacaan masyarakat kita hari-hari ini adalah bacaan yang sudah tereduksi oleh karakter medianya, seperti membaca monitor hp, membaca monitor ipad, notebook dengan google atau video bokep, televisi, yang semuanya medium (= mediocre), eksploitatif, dan bukannya eksploratif sebagaimana karakter media seperti buku (yang tingkat penetrasinya paling bontot, 5% atas kesadaran komunikasi dan informasi manusia). Dan itulah potret yang bisa dilihat dari mayoritas wall pada akun-akun fb kita.
PERNYATAAN. Dengan pemandangan seperti itu, rasanya cukup alasan bagi saya untuk menutup ruang interaksi saya di fb, karena berkomunikasi tertulis (tepatnya lagi ngobrol dengan tulisan), tentu membutuhkan energi bagi saya yang berprofesi sebagai penulis. Adalah dua hal berbeda secara prinsip, dari apa yang dimaksud "ngobrol melalui tulisan" pada persepsi dan perspektif kita. Tentu, saya tidak akan menutup akun fb saya, dan semoga saya tetap memproduksi kata untuk mengisi wall saya, tetapi saya menon-aktifkan reaksi atau respons para sahabat untuk ber-like this atau berkomen. Dengan sepenuh mohon maaf atas hal itu. Terima kasih atas pertemanan selama ini, juga berbagai bentuk partisipasinya. Semoga kita semua senantiasa sudi berjuang untuk menjadi lebih baik dari yang sudah. Selamat tahun baru 2012, selamat menempuh hidup baru. | Sunardian Wirodono, Penulis. Yogyakarta, 31 Desember 2011

Tidak ada komentar:

Posting Komentar