Kamis, Februari 10, 2011

Kapan Pertama Kali Serat Centhini Ditulis?



Adalah putra mahkota Kesultanan Surakarta Adiningrat, bernama Kanjeng Pangeran Adipati Anom Amengkunegara III, yang meminta kepada tiga pujangga kadipaten (wilayah kekuasaannya selaku pangeran), untuk menuliskan sebuah cerita. Bentuknya berupa tembang, bermuatan ilmu dan ngelmu Jawa, yang sebagiannya diakui sebagai pengalaman dan pengetahuan pribadinya.
Tiga pujangga itu adalah para abdi dalem, atau karyawan, kliwon carik (juru tulis), di bawah kadipaten yang menjadi wewenang sang pangeran putra mahkota, bernama Sutrasna, dan kemudian disebut Ki Ngabei Raggasutrasna, dengan disertai (2) Raden Ngabei Yasadipura II (Raden Tumenggung Sastranagara), abdidalem bupati pujangga kadipaten, dan (3) Raden Ngabei Sastradipura, abdi dalem kliwon carik kadipaten, yang mendapatkan tugas khusus mempelajari agama Islam hingga ditugaskan naik haji ke Mekah, dan kemudian bergelar Kyai Haji Mohammad Ilhar.
Di luar tiga penulis pokok ini, masih terdapat beberapa kontributor, pembantu, yang memang ditunjuk oleh sang Pangeran, yakni: (1) Pangeran Jungut Mandurareja, penguasa tanah pradikan krajan Wangga, Klaten. (2) Kyai Kasan Besari, ulama di Gebangtinatar, Panaraga, menantu Pakubuwana IV), dan (3). Kyai Mohamad Minhad, ulama besar di Surakarta.
Sebelum melakukan penggubahan, ketiga pujangga istana mendapat tugas-tugas yang khusus untuk mengumpulkan bahan-bahan pembuatan kitab. Ranggasutrasna bertugas menjelajahi pulau Jawa bagian timur. Yasadipura II, bertugas menjelajahi Jawa bagian barat, serta Sastradipura bertugas menunaikan ibadah haji, dan menyempurnakan pengetahuannya tentang agama Islam. Tiga pujangga tadi dibekali selaksa ringgit emas, untuk berkelana.
Mereka menghimpun kearifan lokal, sekaligus penyimpangannya. Menghimpun ujaran dan ajaran para pertapa, peramal, empu, pande besi, pesulap, penyamun, ulama perempuan, dhalang, penafsir mimpi, hingga sampai para paria.
Setelah survey, riset, atau observasi ke lapangan, barulah kemudian mereka kembali berkumpul untuk proses penulisan secara tim. Penulisan dimulai pada Sabtu Pahing, 17 Desember 1815. (Mengenai tanggal penulisan ini, sumber data tertulis yang paling akurat adalah dalam pupuh bait 3-4, di situ tertulis (3) "Sabtu paing lek Mukaram wewarseku, Mrakeh Hyang Surenggana, Bathara Yama Dewa Ri,..." dan (4) "...windu Adi Mangsa Sapta, Paksa Suci Sabda Ji", yang semuanya itu dalam kalendering, jatuh pada, Sabtu Pahing 25 Sura 1742, Wuku Marakeh, atau 25 Muharram 1230 Hijriah, atau dalam kalender Masehi jatuh pada hari Sabtu, tanggal 7 Januari 1815).
Data sebelumnya yang selalu menyebut Serat Centhini ditulis pada 26 Muharram 1230, tahun 1742 Jawa dan 1814 Masehi, dengan demikian semestinya tidak tepat.
R. Ng. Ranggasutrasna yang menjelajah pulau Jawa bagian timur telah kembali terlebih dahulu, karenanya ia diperintahkan untuk segera memulai menulis. Dalam prakata dijelaskan tentang kehendak sang putra mahkota, bersangkala “paksa suci sabda ji” (1742 tahun Jawa atau 1815 Masehi).
Setelah Ranggasutrasna menyelesaikan jilid pertama, datanglah Yasadipura II dari Jawa bagian barat dan Sastradipura (Kyai Haji Muhammad Ilhar) dari Mekkah. Jilid dua sampai empat dikerjakan bersama-sama oleh ketiga pujangga istana. Setiap masalah yang berhubungan dengan wilayah barat Jawa, timur Jawa, atau agama Islam, dikerjakan oleh ahlinya masing-masing.
Pangeran Adipati Anom kemudian mengerjakan sendiri jilid lima sampai sepuluh. Penyebabnya diperkirakan karena kecewa, bahwa pengetahuan tentang masalah seksualitas (persenggamaan) kurang jelas ungkapannya, sehingga pengetahuan tentang masalah tersebut dianggap tidak sempurna.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar