Kamis, Oktober 28, 2010

Membaca Peristiwa Merapi dari Sisi Berbeda

Dengan segenap beladuka pada korban atas meletusnya Gunung Merapi. Peristiwa ini, bukan pertama kalinya. Siklus Gunung Merapi, sebagai gunung berapi yang masih hidup, akan selalu demikian.
Namun peristiwa meletusnya gunung berapi, sesungguhnya bukanlah peristiwa yang tak bisa dimengerti dari sisi peradaban manusia sebagai mahkluk yang diperkenankan berpikir dan menafsir.
Ketika saya bercengkerama ke beberapa penduduk di Tutup Ngisor, Kecamatan Dukun, Muntilan (Jateng), beberapa penggali pasir yang berada di ring satu bahaya Merapi, mengatakan bahwa Gunung Merapi memberi kehidupan dan rejeki pada mereka. Sehabis gunung meletus, kata mereka, maka pasokan pasir, batu, begitu melimpah, dan menjadi sumber mata pencaharian. Demikian juga bagi para petani, pasca letusan Merapi, tanah menjadi subur, dan menjadi pengharapan untuk masa tanam berikutnya.
Jika demikian, mengapa fenomena alam itu tidak dipersahabat, sebagaimana naluri hewan-hewan yang tajam, yang akan menjauh dari Merapi, ketika peristiwa erupsi itu terjadi?

Di Jepang, setelah bencana besar Fujiyama, pemerintah dan para ilmuwan Jepang, berfikir keras mengenai hal itu. Dan hasilnya, terjadi perubahan pada kontruksi sosial dan budaya masyarakat setempat. Bentuk rumah dan kontruksinya, pekerjaan atau mata pencaharian penduduk, semua didesain untuk mengantisipasi sebagai resiko lingkungan yang rawan dan tidak stabil.
Pemerintah dan akademisi Indonesia, sesungguhnya juga bisa, mendisain setepatnya, bagaimana memposisikan hubungan masyarakat sekitar dengan Gunung Merapi, sehingga kita tidak hanya bicara soal "tanggap bencana" atau "musibah alam", padahal itu adalah peristiwa kerutinan yang bisa diperkirakan.
Artinya, sikap mental, karakter budaya, pola pikir masyarakat sekitar Merapi, adalah persoalan social enginering yang selama ini diabaikan, dan kita hanya ribut jika hal tersebut terjadi. Ribut keprihatinan, ribut aksi sosial, ribut anggaran bencana.
Berbeda dengan kasus yang terjadi di Chile, ketika presidennya di lapangan untuk bersama dalam peristiwa itu, Presiden kita justru berada di lokasi untuk menggelar rapat koorinasi terbatas dengan para mentrinya, dengan protokolernya yang bisu-tuli. Presiden terjebak dalam upacara teater yang tidak cerdas. Mempertunjukkan pembelaan, namun menyiratkan impresi kegenitan. Bahasa bodohnya berpamrih, tidak tulus, ora ngerti prioritas!



Soal Mbah Maridjan? Saya kira kontroversi itu terjadi karena kita sering kurang sabar dan bijak membaca peran-peran manusia dalam kehidupan. Yang anti klenik dan mistik, dengan serta merta akan mencibir sosok ini, namun yang sebaliknya, akan memujanya.
Mbah Maridjan, adalah sosok biasa dalam konstruksi sosial masyarakat desa, yang fenomena ini kemudian menemukan komodifikasinya oleh media yang rindu kasus dan isyu, termasuk bagaimana "rosa" mengeksploitasinya. Dalam konteks pemerintahan modern, Mbah Maridjan tentu saja warga negara biasa. Namun dalam keyakinannya sebagai abdi dalem yang mendapatkan tugas dari raja, yang katanya "tugas pemerintahan kraton", beliau menerjemahkan sebagai tanggung jawab. Ia telah memberi pengertian pada tetangga kiri-kanan untuk mengungsi, namun sebagai "penjaga yang ditugaskan", ia bertahan memohonkan pada Tuhan, keselamatan alam seisinya dalam sujud shalatnya itu. Bahwa ia kemudian gugur di medan lahar, itulah resiko seorang panglima perang, yang tidak ngacir dari tanggung-jawab. Tanpa mendeskreditkan beliau, Mbah Maridjan adalah sosok profesional, jika saja kita bisa mengabaikan efek mediasi yang dikembangkan oleh gossip selebritas media kita, Mbah Maridjan tidak seheboh dan "sejahat" pikiran kita.

Gunung Merapi meletus, sebagai peristiwa yang berdampak sosial dan ekonomi, tentu mengundang keprihatinan dan solidaritas sosial kita bersama. Namun, tidak mau memikirkan penyikapan kita atas fenomena dan pembacaan kuasa Tuhan atas alam semesta ini, bukanlah kesombongan yang dungu, melainkan kedunguan yang sombong.

Jika kita tak mampu membaca alam, mengapa kita tidak mau membaca buku?

| Sunardian Wirodono.

Foto Gunung Merapi Pasca Erupsi 2010, karya Idam Laksana, Yogyakarta.

2 komentar:

  1. Artikel yang bijak dan membuat kita menjadi lebih proporsional dalam melihat bencana alam. Beberapa fenomena alam dapat diprediksi. Mestinya pemerintah bisa lebih siap & tanggap dengan sistem penanggulangan bencana yang terstruktur. Bukan dengan metode 'kebakaran jenggot' :)

    BalasHapus
  2. Manusia memang tempat khilat dan lupa tapi mari kita baiki khilaf, lupa kita kepada Tuhan.

    BalasHapus