Minggu, Mei 23, 2010

Menonton Kembali Leo Kristi di Yogyakarta

JIKA tak salah ingat, Leo Kristi bersama Konser Rakyat sudah lebih dari 10 tahun tak menyambangi Yogya dengan pementasannya. Itu pun, jumlah pementasan Leo Kristi tidaklah cukup banyak. Setidaknya, sepanjang 1979 - 1984, Leo Kristi baru berpentas empat kali di kota Gudeg (mohon koreksi jika salah).
Tenggang waktu itu, berkait dengan "tingkat produktivitas" Leo Kristi, dalam konteks industri rekaman musik indonesia dan konteks kesenian, memberikan "persoalan-persoalan tersendiri" jika hal itu mau didekati dari sisi kesenian sebagai media komunikasi.
Maka, pertunjukan musik Konser Rakyat Leo Kristi 22 Mei 2010 di Concert Hall "Dorodjatun" Taman Budaya Yogyakarta, memetakan itu semuanya. Setidaknya, terdapat tiga kelompok penonton Leo Kristi pada malam itu. (1) Komunitas penggemar musik KRLK yang menamakan kelompoknya sebagai Komplek (Komunitas Penggemar Leo Kristi) L-Kers, (2) Penggemar lagu-lagu Leo Kristi ornop (non organisasi, individu), dan (3) Generasi muda Yogyakarta, yang memiliki apresiasi kesenian yang relatif lebih terbuka karena imbas dari revolusi teknologi informasi dan pergaulan modernitas mereka.
Pada tiga kelompok ini, tanggapan atas komunikasi seni pada malam itu berbeda-beda. Pada kelompok pertama, karena acara itu adalah acara mereka, komunikasi kesenian adalah ritual. Mereka sangat faham sekali dengan apa yang akan terjadi dan terlibat.
Karena itu, mereka bisa ektase menikmati, karena bukan sekedar hiburan melainkan juga berkomunikasi antar anggota sebagai satuan keluarga fanatik.
Ini agak berbeda dengan kelompok kedua, para penggemar KRLK Ornop, adalah para fanatik Leo Kristi yang juga sudah lama mengenali Leo. Mereka adalah pembeli kaset-kaset Leo, mengapresiasi dan mengagumi, dan setidaknya pernah menjadi bagian dari perjalanan hidupnya. Kelompok ini memang direpresentasikan oleh (kebanyakan para perupa) yang pada pementasan malam itu mendominasi ruang dengan celotehan-celotehan khas gaya seniman (perupa) Yogyakarta, yang akhirnya juga mengundang komentar Leo. "Sak karepmu,... (apapun celotehanmu)!"
Pada kelompok kedua ini, mereka tidak menginginkan celotehan Leo, yang memang menurut saya juga tidak jelas maunya apa. Menjadi cerewet, sok pinter, dan sok Inggris. I love you, Leo! Mereka hanya menginginkan, Leo berdendang dengan lagu-lagu yang sangat dikenali kelompok ini. Dan itu yang tak sudi dilakukan oleh Leo yang memang sangat sulit untuk "diatur".
Pada kelompok tiga, sudah barang tentu, jika Leo Kristi tidak diketahuinya sebagai bagian dari memori kesenian, mungkin juga dianggap sebagai bagian dari musik alternatif yang mereka juga sangat kenali sebagai bagian dari keinginan mendapatkan hal yang lain. Sekali pun, dalam komunikasi seni pada malam itu, tidak ada informasi yang bisa mereka dapatkan, karena memang tidak ada komunikasi untuk "the lost generation" ini. Dan Leo dalam kasus ini, adalah seniman yang tidak sangat peduli.
Persoalan Leo Kristi (juga akhirnya tentu pada grup konser rakyatnya), justeru berada dalam soal ini. Dan tampaknya pula, bisa jadi ini memunculkan fanatisme tersendiri bagi penggemarnya, yang akhirnya berhimpun untuk "melindungi" Leo Kristi sebagai bagian dari cagar alam musik Indonesia.
Komunitas LKers pada akhirnya menjadi fasilitator dari pementasan musik-musik Leo Kristi dan Konser Rakyat-nya, baik di Jakarta dan (kemudian) di berbagai kota. Apalagi dengan munculnya masyarakat maya melalui internet (facebook, twitter, dan sejensinya itu), sosialisasi dan komunikasi komunitas ini terbantu penyebarannya.
Pentas musik KRLK pada akhirnya ditopang oleh penggemarnya dalam pengertian basic, yakni para anggota LKers saweran, atau munculnya sponsor pribadi yang (bisa dipastikan) mereka adalah generasi yang tumbuh bersama Leo, yang mungkin mereka kini berada dalam posisi atau status sosial midle-up. Para penggemar fanatik sejak remaja, hingga mereka mempunyai anak remaja pula. Suasana barisan depan kursi penonton di TBY malam itu misalnya, persis panitia reuni. Kotak-kotak makanan, minuman, foto-foto bersama, hadir suami-isteri dan anak, saling salaman, berpelukan, ciuman, bersay-hello, saling mengenalkan bahwa mereka dari luar kota (Purwokerto, Semarang, Solo, Jakarta), ekspresi kebahagiaan dari inferiority complex, atau kebangaan atas eksklusifitas kaum minoritas.
Yang semula seolah menjadi "anti tesis", pada akhirnya terasakan sebagai comfortable zone yang membuai Leo. Setidaknya, Leo akhirnya merasa nyaman bisa seenaknya berpentas semacam itu. Padahal, untuk aktivitas itu, biaya produksi yang dikeluarkan tidak sedikit. Bisa antara 50 hingga 100 juta rupiah. Tetapi tidak pernah sama sekali pementasan ini diujikan sebagai pertunjukan yang masyarakat harus membayar senimannya. Pementasan-pementasan Leo Kristi yang dikelola LKers, semuanya digratiskan (itu berbeda dengan ketika di Yogya pada 1979, 1980, dan 1984) itu panitia penyelenggara menjual karcis bagi mereka yang mau menontonnya.
Dan membandingkan pementasan-pementasan KRLK, ketika secara rutin pentas tiap 17 Agustus di TIM Jakarta, juga di rumah Wapres Adam Malik misalnya, hingga pementasan-pementasan gratisan komunitasnya ini, secara kualitatif semakin personal, alias semakin ekslusif. Artinya pula, di luar komunitas itu, KRLK semakin tidak terpermanai.

Impresi. Amatiran
Akibat lebih jauh dari semua ini, pementasan Konser Rakyat Leo Kristi memang selalu amatiran. Dari tematik pementasan, sama sekali tidak terepresentasikan, hingga akhirnya sering pementasannya tidak pernah memberikan impresi mendalam, kecuali impresi personal karena kedekatan emosional penontonnya pada sang pujaan. Ia hanya media katarsis personal, namun tidak pernah mampu menggerakkan, karena pada sisi konseptual, Leo juga bukan seorang yang mampu meyakinkan. Celotehan-celotehannya malam itu, tidak ada yang baru, kecuali disampaikan dalam English version saja.
Leo Kristi, tentu saja bukan Bob Dylan. Dan Leo juga sangat meyakini itu, karena ia lebih memuja Woody Guthrie (1912-1967), orang yang bukan saja juga dikagumi oleh Bob Dylan, melainkman bahkan didaku sebagai guru penyanyi balada itu. Tentu saja Leo juga tak akan nyaman dibandingkan dengan Bob, karena kalah jauh produktivitasnya. Namun, menyamakan diri dengan Woody Guthrie, tentu Leo juga harus mengerti, bahwa masyarakat di mana Woody tumbuh, tidak didapatkannya di Indonesia. Dan sebagai sesuatu yang "menggerakkan", Woody sebagai seniman betapa sangat inspiratif.
Maka, Konser Rakyat Leo Kristi kemudian hanya menjadi "memukau" ketika dinikmati dari kaset, CD, atau MP3 yang eksklusigf tersimpan dalam media-player para pemujanya. Dan pada sisi itu, betapa impresi syair-syairnya yang ajaib itu, menjadi lebih kuat, berbanding dengan artikulasi dan aksentuasi penyanyian Leo yang begitu piawai menggunakan mulut sebagai salah satu unsur alat musik yang integral. Pada sisi itulah, proses kesenian Leo kristi begitu sangat menggetarkan.
Sementara di panggung? Aksi Leo Kristi bagi saya cenderung menyedihkan. Karena Leo Kristi semestinya juga menghargai saya sebagai orang yang (karena hafal lagu-lagunya) tahu, bahwa dia lupa syairnya, dia lupa mestinya masuk ke refrain atau coda. Dia orang yang asyik dengan diri-sendiri, dan sesungguhnya tak cukup waktu saya (penonton lain juga) untuk "memomong" bayi besar bernama Leo Kristi yang sudah berumur 61 tahun itu.
Pengalaman saya pribadi, ketika menjadi director music pada tv program musik (2003 di TV-7), ketika mengundang Konser Rakyat Leo Kristi sebagai bintang tamu, menyadarkan saya, Leo sesungguhnya membutuhkan orang lain yang mampu meyakinkannya tentang framing media. Karena ketika tampil untuk pengambilan gambar, Leo Kristi bersama grupnya, begitu mempesona karena perfect dan clean.
Sepulang menonton konser rakyat Leo Kristi di TBY malam itu, saya jadi teringat film "This Is It" Michael Jackson (yang mestinya baru akan dipentasan Juli 2010 mendatang di London). Michael Jackson di situ tampak, bukan hanya seorang penghibur, melainkan seorang yang menguasai materi, musik, lyric, bahkan koreografi. Dari proses latihannya saja, This Is It sangat perfect.
Saya sebagai penggemar berat Leo Kristi, sangat tersinggung ketika ada yang mengatakan "jangan bandingkan Leo Kristi dengan Michael Jackson" karena segala sesuatunya berbeda. Bagi saya, Leo Kristi lebih besar dari Jacko. Sayangnya, ia hidup dalam masyarakat yang berbeda dengan para fanatikus Jacko. Bahkan, berbeda dengan masyarakat pemuja Woody Guthrie, pemusik rakyat pujaan Leo Imam Soekarno itu.
Jadi? Saya baru sampai pada kesimpulan, bahwa menonton (dan menikmati) Konser Rakyat Leo Kristi adalah memaknai salah satu keajaiban kesenian di Indonesia. Dan saya tetap saja setia mendengarkan rekaman lagu-lagu Leo Kristi.

Sunardian Wirodono
Penggemar Konser Rakyat Leo Kristi, Ornop

2 komentar:

  1. caygdt@gmail.comSenin, Juni 28, 2010

    saya menjadi termangu mangu mengapresiasi tulisan penjenengan,kata katanya menjadi mendalam,seperti leo saat mengungkap ,"angin malam yang berbisik padaku....mengapa bersedih....hmm teringat waktu saya masih di sma ,tahun 80 an, sosok leo yang sewaktu konser ,sembari membelalakan cahaya matanya menggugah saya ,melihat dan mendengar kaset kaset leo,saya tentu penggemar fanatik ,nampaknya belum ada yang sejajar dengan Leo ,sang troubador yang perlente, he he ,kadang kadang memang sakarepe dewe,itulah leo yang sering terbawa angin entah kemana,sesekali di surabaya, acap kali pula di malang, bareng dengan anak anak dewan kesenian malang. saya pernah menjari jejak penyanyi yang sesekali mendampingi ,seorang mahasiswa unibraw " Grace " mahasiswa peraih pembaca puisi terbaik tk perguruan tinggi",sehingga saat konser nya pernah disisipkan pembacaan puisi. tentu hal ini menjadi baru.apapun nampaknya Lagunya leo tetep menggetarkan rasa sesaat berangan angan(mungkin sudah kadung bersenyawa dengan aliran darah saya)... bukalah pintu yang kuketuk tapi tidak dengan air matamu ....salam( cahyono sma 8 malang meski usia hampir tengah abad sementara tetap merdeka hmm..)

    BalasHapus
  2. sebagai generasi muda yang baru mengenal leo kristi saya sangat menyukai lagu, syair dan lirik leo kristi. ini merupakan aset yang sangat berharga bagi indonesia. inilah indonesia yang sesungguhnya.

    BalasHapus