Senin, April 26, 2010

Surat Penyair Muda Kepada Chairil Anwar

Mengenang kematian seseorang, bisa jadi menyesakkan. Mungkin lebih membahagiakan mengenang kelahiran. Namun, mengenang kematian penyair besar Chairil Anwar, tetap lebih menggetarkan, dan menginspirasi.
Saya menyodorkan kembali tulisan lama, yang dibuat pada 1980, sebuah tulisan yang saya ikutkan dalam lomba pengenalan karya Chairil Anwar waktu itu tingkat nasional waktu itu. Syukur, akhirnya tulisan tersebut menjadi salah satu pemenangnya (juara I, Dr. Mursal Esten, II, Sunardian Wirodono, dan III, Drs. Suripan Sadi Hutomo).
Sekedar untuk mengenang, dan mengingatkan, bahwa Chairil Anwar, yang lahir pada 18 Juli 1922 dan wafat pada 28 April 1949, adalah tokoh besar dalam dunia sastra Indonesia. Justeru, ketika ia mati muda, dan hanya menyodorkan sedikit karya. Namun ia adalah meteor yang mencerahkan bangsanya.
Jika dalam tulisan ini masih “mliyak-mliyuk”, mohon pemakluman, karena ditulis pada masanya, ketika masih berusia 19 tahun. Terima kasih pada Harian Berita Nasional Yogyakarta, yang pernah memuat tulisan ini, hingga saya menjadi memiliki dokumentasinya, juga kepada Dik Titi yang mengklipingnya, serta Wit yang memindahkannya ke computer.Terima kasih dan salam,
Sunardian Wirodono.

Oleh Sunardian Wirodono

“Sekali berarti,
sudah itu mati”



Chairil Anwar penyairku sayang.
Menyebut namamu, entah kenapa, aku selalu menjadi malu sendiri. Dari namamu, seakan aku berkaca, dalam cermin yang jernih. Dan yang tak dapat menipuku, betapa buruk rupaku! Engkau tahu kenapa? Engkau adalah seorang penyair besar, pelopor Angkatan 45.

Tapi bukan namamu itu yang membuatku malu padamu, Chairil. Puisi-puisimulah, karya-karyamulah, yang membuatku jadi malu. Kurang lebih tujuh tahun engkau menulis, tetapi menurut HB Jassin, temanmu itu, engkau hanya menulis 72 sajak asli, dua sajak saduran, kemudian 11 terjemahan, ditambah tujuh prosa asli, dan empat prosa terjemahan. Semuanya berapa, Chairil? Hanya 96.

Sembilan puluh enam tulisan dalam tujuh tahun. Tujuh puluh dua sajak asli dalam tujuh tahun.

Chairil! Chairil!
Dulu aku pernah punya keyakinan, bahwa seorang penyair yang hebat, ialah penyair yang produktif. Penyair yang banyak-banyak menulis sajak. Kau tahu, sahabatku seorang penyair muda, mengatakan padaku, bahwa sehari ia harus (kuulangi, harus) menghasilkan tiga biji sajak. Baginya, satu minggu tiga biji sajak, sudah merupakan kecelakaan besar. Luar biasa!

Tetapi apa yang dihasilkannya? O, kami ini seperti Buto Cakil dalam pewayangan. Kami hanya keluar untuk menujukkan Arjuna-lah ternyata, yang lebih sakti. Namun bukan “sekali berarti sudah itu mati.” Tidak. Lebih tetatnya, “sekali muncul, sudah itu mampus!”

Inflasi puisi dan penyair, yang melanda anak muda, seperti yang kualami juga, sebagaimana halnya proyek KB yang gagal. Memang banyak penyair yang lahir, tapi untuk apa? Sekedar lahir saja? Dan engkau tetap berdiri di sana? Tegak tak tergoyahkan. Mendekap tangan, sambil melihat kami tertatih-tatih berjalan: O, inikah penyair muda?

Ah, Chairil,sekarang aku jadi mengerti, lantas terdiam dan tertunduk, bahwa seni bukan perkara sambilan. Ia tidak bisa setengah-setengah. Ia tak bisa dihasilkan melulu dari perasaan saja. Tetapi kita juga punya otak yang menimbang, untuk memilih, mengupas, dan kadang-kadang membuangnya sama sekali.

Aku masih ingat tulisanmu dulu, “Sajak terbentuk dari kata-kata, seperti juga lukisan dari cat dan sehelai kain, atau sebuah patung dari pualam, lempung, dan sebagainya, tapi mereka yang mengalami keterharuan ketika melihat suatu lukisan atau sebuah patung, tidak akan mengganggap kualitas cat dan kain, atau batu pualam. Sebagai soal yang penting ialah hasil yang dicapainya itu.”

Ya, itulah yang membuat aku mengerti, kenapa kau begitu hati-hati menulis sajak. Bahkan bisa saja sebuah sajak, selesai setelah merenung-renung selama berhari-hari, berbulan-bulan. Hal itu menunjukkan, bahwa engkau seorang penyair yang asyik bergelut dengan teknik. Tapi tidak ternyata. Bahwa engkau sendiri pun mengatakan, hasil kesenian bukanlah melulu soal teknik. Dan aku kira, engkau memang benar.

Bahwa hasil kesenian bukan melulu soal kemulusan teknik,tetapi bagaimana kedahsyatan menceritakan hidup secara intens dan otentik. Itu yang sampai kepadaku. Bahwa seni bukan perkara sambilan, bukan hal yang bisa dikerjakan setengah- setengah. Ia adalah soal mati dan hidup. Sebab kerja setengah-setengah, hanya akan membuat kita menjadi improvisator besar. Kerja improvisasi tetaplah jauh berada di bawah, dan rendah, dibanding hasil seni cipta lainnya, yang berproses atas intensitas dan ketekunan kreatif.

Siapakah engkau sebenarnya Chairil? Itulah yang menarikku, untuk menulis surat kepadamu. Meski aku tahu, surat ini takkan pernah sampai kepadamu, seorang penyair besar, namun hanya mampu ‘menulis sajak sejumlah tujuhpuluhdua biji?

Kenapa engkau menulis puisi? Dan untuk apa menjadi penyair?

Aku sering mendapat pertanyaan seperti itu. Bahkan ada pula yang bertanya, “untuk siapa sebenarnya puisi itu? Kalau misalkan untuk masyarakat, kenapa puisi justru sering membingungkan masyarakat?” Pertanyaan ini sering menggodaku, untuk menyadarkan kepada para penanya. Puisi adalah sebuah dunia komunikasi dua arah. Jelas dia diperuntukkan, bukan hanya dirahasiakan. Sebab puisi adalah yang menjadi pijar-pijar keindahan, atas dasar kebenaran dan kemanusiaan.

Itulah sebabnya, puisi senantiasa hadir, bukan untuk dimengerti tetapi untuk dinikmati. Ia multi-interpretable. Ia bukan sebuah dunia yang praktis-pragmatis. Nah, disinilah letak kesalahan itu. Orang-orang selalu mengganggap, dan memposisikan, bahwa puisi tak banyak beda dengan makanan yang tinggal telan.

Sajak mempunyai dunia sendiri, ia punya hukum-hukum tersendiri. Ia tak mungkin, dan memang tak harus identik, dengan kehidupan nyata sehari-hari, meski ia berangkat dari sana juga. Moral sajak bukanlah moral yang praktis-pragmatis.

Namun kenapa orang-orang selalu salah tangkap, atau katakanlah bingung terhadap puisi? Dan yang lebih celaka lagi, khususnya bagi orang-orang yang tak terbuka, mereka dengan membabi-buta lantas menuduh, bahwa puisi adalah dunia mimpi, rengekan penyair yang patah hati, atau tumpahan generasi sakit hati.

Chairil , tentu saja menyakitkan hati bukan? Tapi baiklah, kita terima saja tuduhan itu. Bahwa kehidupan sekarang sudah demikian garang. Orang-orang saling berkejaran, memburu mimpi-mimpi berkilatan. Kemajuan berpikir, pembangunan yang dilakukan pemerintah, kemajuan tingkat industri dan teknologi. Semuanya itu telah membuat manusia lebih percaya kepada daya rasionalnya, daripada sesuatu yang bersifat emosional. Manusia terlalu sibuk dengan dunia luarnya, dan ia tak punya waktu lagi untuk merenung , bercermin, menoleh ke belakang, tentang apa yang telah diperbuatnya. Inilah bagiku, Chairil, yang menyebabkan puisi pun dipandang dari segi yang praktis, memperkosa puisi dengan telanjang.

Keadaan ini bukannya tak berbahaya. Dari sudut materi kebendaan, barangkali tahapan masyarakat termasuk kaya duniawi, tetapi nilai kerohanian? Kosong sama sekali. Manusia telah kehilangan daya untuk bermain-main.

Barangkali aneh, kenapa manusia harus berfantasi, manusia harus punya daya untuk bermain-main?

Chairil, penyairku sayang.
Engkau tentu mengerti, bahwa jika manusia ingin hidup terus, ia harus mencari keuntungan dari pengalamannya yang paling kaya, yaitu sejarahnya sendiri. Harus mampu membebaskan diri dari rutinitas. Harus berani membuat diri berjarak pada masa lampau, dengan cara merayakannya. Dari situlah daya fantasi bisa membebaskan diri dari kehidupa yang terjebak borjuasi, established, arrive.

Fantasi membuka kemungkinan ladang baru. Bisa menikmati hidup dengan lebih kaya dan intens, dengan lebih gembira dan kreatif. Para ahli ilmu jiwa menerangkan, bahwa orang yang tak mempunyai kesadaran akan waktu, masa lampau, masa kini, dan masa depan, sungguh dia telah mengalami desintegrasi sebagai manusia.

Mereka menghapus segala mimpi, menghapus segala kenangan, hiduplah demi masa kini yang nyata. Boleh saja tentu, dan silakan! Tapi ia akan mengalami depresi. Ini juga berlaku bagi masyarakat bangsa. Masyarakat yang sudah menjadi sinis terhadap sejarahnya, adalah manusia yang sinis pula terhadap masa depannya. Dan itu berarti padamlah daya juangnya.

Kita harus hidup realistis, kata kaum pragmatis. Dan karena itu anjurannya, memecahkan soal-soal rasional, tak perlu diganggu oleh fantasi. Dunia ini harus dibagi menjadi dua, menjadi dunia fantasi dan dunia fakta. Dan keduanya, harus dipisahkan jauh-jauh, hanya kepada kenyataan saja kita menaruh hormat.

Chairil, dari pendapat di atas itulah, salah satu sebab, kenapa orang menjadi sinis terhadap puisi, salah satu manisfestasi daya fantasi manusia yang sah. Dari sinilah penyair menjadi manusia aneh, di mata masyarakat. Dan menganggap bahwa penyair hanyalah manusia gila. Manusia yang kerjanya bermenung-menung, dengan pakaiannya yang khas, kumal dan jarang mandi. Tetapi, aku kemudian menyergahnya dengan pertanyaan, apakah yang dimaksud kenyataan itu?

Ternyata yang bernama kenyataan , tak selalu punya arti yang sama. Engkau tentunya lebih mengerti Chairil, bahwa peranan fanstasi, ternyata amat besar. Penemuan-penemuan baru dalam bidang teknik, sering diakibatkan oleh fantasi, oleh insiprasi-ilham, sebab fantasi juga merupakan bakat untuk hidup. Oleh fantaai kita boleh mengambil jarak terhadap obyek dan proyeksi, kita bisa memperluas pandangan.

Masyarakat membutuhkan pembaruan, dan pembaruan dapat dirintis oleh para pemimpin kita, oleh mereka yang berani mempergunakan fantasinya. Tentu saja, fantasi yang dimaksudkan disini, ialah fantasi yang diteruskan. Fantasi yang mengatasi struktur kenyataan sehari-hari. Fantasi dalam arti harus berpangkal pada kenyataan, dan berpulang pula kepadanya. Fantasi bukanlah kompensasi, tetapi ia merupakan kegiatan intelek kita.

Dan jika mencoba menjawab pertanyaan, mengapa sajak itu membingungkan masyarakat, aku menjawabnya, karena masyarakat sudah kehilangan daya fantasinya. Ia sudah asyik masyuk dengan dunia yang serba praktis. Dan ini juga dikenakan dalam menikmati sebuah sajak.

Tetapi apakah kita harus menyalahkan masyarakat? Ah , itu perbuatan membabi buta. Kupikir kita memang harus memaklumi diri, mencoba untuk bersikap terbuka. Kita tinjau dahulu bagaimana sastra modern berbentuk tulisan, maka pertama-tama ia menembus kepada orang -orang yang mengerti baca-tulis, dan yang paling dini, ia menembus lewat tembok-tembok sekolah. Tapi bagaimana sastra diperlakukan di sekolah-sekolah? Pelajaran ini ternyata lebih banyak berkutat dengan angka-angka. Kapan Pujangga Baru lahir? Siapa pelopornya? Kapan Angkatan ‘45 muncul? Siapa penggeraknya? Apa saja karya penyair itu? Dan sejenisnya!

Begitukah? Wajarkah ini? Itulah se,babnya jika kita bertanya kepada anak sekolah, penyair A itu siapa? Mereka pasti mengenal baik-baik. Kapan lahirnya, apa saja buah karyanya? Tapi adakah mereka membaca karya sastranya? Orang tahu, anak-anak SD barangkali juga tahu, siapa engkau Chairil. Chairil Anwar, penyair besar Indonesia. Pelopor Angkatan ‘45. Kumpulan sajaknya ada tiga, “Deru Campur Debu”, “Kerikil Tajam, dan Yang Terhempas dan Yang Putus”. serta yang terakhir “Tiga Menguak Takdir” bersama Rivai Apin dan Asrul Sani.

Tapi adakah mereka membaca sajak-sajakmu? Masyarakat lebih mengerti, apa-siapa kamu, tapi tidak mengerti bagaimana dan mengapa kamu? Jadi, mengapa kita harus terbuka dan memaklumi keadaan ini? Padahal, segala sesuatu bermula, dari kenyataan juga, seni merupakan barang mewah, atau lebih tepatnya barangkali. Aneh!

Tentu saja kita tak usah menertawakan atau mengejeknya, sebab itu tak akan mengubah keadaan. Lebih utama, kitalah yang melangkahkan kaki mendekati mereka. Sebab selama masyarakat bersikap pasif terhadap sastra, selama itu pulalah keadan akan sama saja. Dan boleh jadi, justru akan bertambah buruk. Kita tak menginginkan bahwa seni merupakan barang mewah, merupakan benda asing, yang bertengger di menara gading.

Chairilku, penyairku!
Selama Tuhan masih menghendaki, bahwa dunia ini masih bersih, maka penyair akan tetap lahir, dan bermunculan . Sebab penyair (atau manusia yang mempunyai citra budi Tuhan), adalah orang yang peka membaca, akan ke mana arah larinya jaman.

Karena semestinya, seorang seniman, penyair, haruslah seorang pemimpin yang berani, membuka hutan belukar dan menciptanya bagai ladang-ladang baru, sebagai tempat bernaung. Dan lewat puisi-puisinya, penyair menyampaikan kegelisahnnya tentang misteri hidup. Obsesinya adalah, pencarian makna hidup yang hakiki. Esensi kehidupan ini dicoba diperhitungkannya, apakah hidup ini sebenarnya, mengapa dan bagaimana hidup ini, siapakah hidup itu?

Sebuah sajak adalah sebuah dunia tersendiri. Ia boleh dikatakan sebagai fantasi kegiatan intelek kita. Berangkat dari kenyataan, dan berpulang juga dari kenyataan. Hanya selama proses puitik terjadi dalam diri penyair, ia mengalami sublimasi dan ini personal sifatnya. Ia tergantung kepada intensitas pengalaman hidup penyairnya.

Puisi lantas mempunyai hukum-hukum tersendiri, realitas dan kebenaran sendiri. Oleh karena itu, seperti aku katakan di atas, ia tak harus identik dengan kenyataan hidup sehari-hari. Meskipun ia berangkat dari sana.

Dunia sajak adalah dunia imajinatif, impresif, yang ia berbeda dengan dunia keseharian yang praktis-pragmatis. Namun keduanya bisa saling berhubungan. Keduanya bisa saling bersentuhan. Saling mencerminkan diri, itulah jika terjadi perbedaan antara keduanya. Dan karena itu wajar serta tak perlu diperdebatkan. Apa yang mungkin dalam dunia sajak, belum tentu ada dunia nyata, dan begitu sebaliknya. Dari perbedaan yang timbul itu, keduanya bisa saling melengkapi, saling berhubungan dan salin g mencerminkan. Sebab, sebuah sajak bukanlah menunjuk kepada sikap perbuatan, namun ia menujuk kepada sikap batin. Sehabis menghayati sajak, tidak cukup berhenti pada menghayati saja, memahaminya saja, tapi mesti juga menghubungkannya dengan kehidupan, mencari relevansinya bagi kehidupan.

Dari sinilah kita bisa mengerti, adakah sajak hanya melulu sebuah permainan?

Kalau sampai waktuku
Ku ‘mau tak seorangpun ‘kan merayu
Tidak juga kau

Tak perlu sedu sedan itu

Aku ini binatang jalang
Dari kumpulannya yang terbuang

Biar peluru menembus kulitku
Aku tetap meradang , menerjang

Duka dan bisa kubawa berlari
Berlari
Hingga hilang sedih peri

Dan aku lebih tak peduli

Aku mau hidup seribu tahun lagi


Demikianlah engkau menulis dalam sajakmu “Aku”. Lantang dan beringas. Dan ini pun tak luput dari tafsiran yang dangkal. Sajak ini, jika ditangkap secara verbal, maka tak ayal engkau dituduh sebagai orang yang brutal, anti-sosial, dan tak percaya kepada Tuhan, pemberontak kelas berat. Namun benarkah itu? Jika ditangkap begitu saja, sangat mungkin sekali.

Inilah salahnya, Chairil, mengapa orang suka mengatakan sajak adalah dunia sakit hati penyairnya, lantaran ia gila atau sentimentil. Padahal, jika kita menangkapnya secara simbolik, akan tersembul sebuah nafas pemberontakan jaman, pada saat dimana sajak itu engkau tulis.

Sajak bertahun 1943 itu, jaman Indonesia masih dalam cengkeraman penjajah Jepang. Dari gambaran itu, aku mengerti kenapa engkau meradang, kenapa ingin hidup seribu tahun lagi. Sajak itu memang terdengar individualistis. Tetapi aku yakin, bahwa itu bukan egoisme. Tetapi ia merupakan individu dari individu-individu. Personal dalam pengertian karakter hakiki manusia.

Ia semestinya bukan sekedar rangkaian kata-kata, sentimentalitas cengeng penyairnya, ratap tangis, karena kehilangan kasihnya,…

Sebuah sajak, memang sebuah pernyataan yang personal. Tetapi ia personal yang unversal. Pembaca yang kemudian dituntut untuk memahami, bahwa sejak dilahirkan penyairnya, dengan pertaruhan jiwa, pikiran dan perasaannya, bahkan seluruh kehidupannya, berhasil memasuki dunia yang lebih besar dari dirinya, dan menyatukan dirinya dengan dunia.

Kemudian dari itu diciptakan kembali sebuah dunia tafsirannya, dunia yang diselaminya, dirasakannya, dilihatnya, sebagai dunia baru. Inilah sebabnya, mengapa sebuah sajak bersifat personal-universal. Sebab berbicara tentang hakekat kehidupan, orang sebagai bukan orang-perorang, melainkan menjadi milik khas manusia. Walau pun pengalaman atau pun daya tangkap manusia terhadap kehidupan, bisa sangat berbeda-beda. Namun dari ketidaksamaan itu, bisa saling melengkapi. Inilah bukti bahwa manusia juga makluk yang sosial. Ia tak bisa hidup sendiri, tetapi saling bergantung satu sama lainnya.

Jerit sekian juta rakyat Indonesia untuk merdeka, bebas lepas dari belenggu penjajah, itulah suara alam yang ditangkap oleh seorang penyair. Sajak ‘Aku’ merupakan simbolisme Indonesia yang sedang berjuang merebut kembali kemerdekaannya. Dari sini engkau, Chairil, hanyalah seorang transformator keinginan seluruh bangsa.

Dengan pembawaan yang intens, menerima, merasakan, dan memikirkan pengaruh sekitarnya, dan melontarkan kembali lewat kekakuannya. Engkau jadikan derita seluruh bangsa menjadi deritamu sendiri.

Chairil, oleh karena itu, kadang begitu sedih, jika mendengar engkau marah kepada kami. Bukan karena kami bodoh, dan mengacuhkanmu, namun agaknya orang-orang yang malas untuk merenung, berkaca ke dalam jagat dalamnya, itu yang tak mereka punya. Mereka begitu percaya terhadap kemampuan sang akal. Untuk dapat membaca ke mana larinya jaman, aku yakin kita tak hanya percaya kepada kepandaian, tetapi terutama terletak kepada kejujuran kita dalam menilai langkah-langkah yang telah diambil. Sebab masalah kemanusiaan, bukanlah milik para ilmuwan eksak saja, tetapi juga milik kaum moralis, budayawan, dengan para pencatat jamannya seperti engkau Chairil.

Kebijaksanaan, nah inilah dia, hanya milik orang-orang yang jujur dan berani melihat buruk mukanya di cermin. Itulah seorang pemimpin yang dibutuhkan. Seperti katamu juga, seorang seniman haruslah seorang perintis jalan, adik, “penuh keberanian, tenaga hidup. Tidak segan memasuki hutan rimba, penuh binatang-binatang buas, mengarungi lautan lebar, tak bertepi, seniman adalah tanda dari hidup yang melepas-bebas.

Jangan pula menceraikan diri dari penghidupan, berkesendirian,... kita tak boleh lagi sebagai alat musik kehidupan, kita pemain lagu dari penghidupan, membikin kita selamanya berterus-terang. Karena keberanian, kesadaran, kepercayaan, dan pengetahuan kita punya.”

Ah, Chairil, tentunya engkau lebih mengerti, daripada aku. Aku begitu kagum dengan begitu banyak buku-buku yang telah engkau lahap, dan dengan petualanganmu yang mempesona itu. Sedang aku? Malas baca buku. Miskin pengalaman, tak berani bertualang, lekas puas dengan beberapa puisi, yang tercipta begitu saja.

Tapi, bagaimana aku berani kurang ajar, berani bicara soal puisi kepadamu, Chairil? Duh, duh,… Chairil, pantaskah aku?

Chairil Anwar, penyairku sayang.
Ijinkan, ijinkan aku mengagumimu. Bukan lantaran aku hendak mendewakan kamu, sebab kamu adalah manusia juga, dan tak lepas pula dari cacat. Tetapi sekali lagi, ijinkan bahwa engkau telah membuka cakrawala baru dalam hatiku. Dan karena itulah aku mengagumimu.

Aku tak bisa tidur
Orang ngomong, anjing
Nggonggong
Dunia jauh mengabur
Kelam mendinding batu
Dihantam suara bertalu-talu
Dia sebetulnya api dan abu

Aku hendak bicara
Suaraku hilang , tenaga terbang
Sudah! tidak jadi apa-apa!
Ini dunia enggan disapa
Ambil peduli

Keras membeku air kali
Dan hidup bukan hidup lagi

Kuulangi yang dulu kembali
Sambil tutup telinga terpicing
Mata
Menunggu roda yang mesti
Tiba


Sajakmu di atas yang berjudul ‘Kesabaran’ sungguh mengerikan dan membuat aku sedih. Kenapa engkau tak ambil peduli, pada dunia yang enggan disapa, Chairil? Adakah engkau patah hati, terhadap dunia yang tak berkesudahan ini?Aku lantas tercenung, betapa gelapnya nanti?

Chairil! Bagaimana pun penyair harus tetap hadir, manakala Tuhan masih menghendaki kehidupan ini lebih bersih. Dan untuk mencucinya dengan pijar-pijar keindahan, atas dasar kebenaran dan kemanusiaan, penyairlah yang akan mencatat laju dunia ini. Dengan kerinduan, semangat pada dunia yang fana ini, dan ia pula yang mengajak kita kepada dimensi hidup yang baru.

Aku pernah membaca sebuah tulisan, yang kurang lebih begini “Seorang penyair, adalah seorang yang menyajikan pengalaman tertentu kepada masyarakatnya. Pengalaman yang disajikan, adalah khas milik dia, dan bersifat representati f , konkrit. Berbeda dengan seorang ilmiah, yang menyajikan pengalamannya secara akal, deskriptif -analisis.

Penyair menyajikan pengalamanya yang paling bermakna, dalam bentuk kesatuan yang hayati, untuk dialami kembali oleh pembaca atau pendengarnya. Meski seorang ilmiawan mempunyai pengalaman yang sama dengan seorang penyair, tetapi ia akan menyajikan pengalamannya secara berbeda dengan seorang penyair. Ia akan menggambarkan pengalamannya secara akal. Ia tidak menyajikan pengalamannya itu, melainkan gambaran ‘tentang’ pengalaman itu. Sedangkan seorang penyair, seperti digambarkan di atas, akan menyajikan pengalaman dengan segala perasannya, yang dilandasi daya hayatnya, terhadap kehidupan. Intens atau tidak, tergantung pada kekayaan batin masing-masing.

Oleh karen itu, puisi sebagaimana dunia penyair, adalah sebuah tafsiran, yang teramat luas. Ia multi-interpretable, sesuai pula dengan daya intensitas, penghayatan masing-masing penanggapnya. Tetapi, Chairil, sayangnya ia menjadi barang yang begitu digampangkan, ia menjadi barang dengan penikmat tertentu saja. Sebab apa boleh buat, orang-orang demikian terpesona dengan hal-hal yang serba akal. Mereka lebih memandang daya rasionya, padahal kau tahu bukan? Hal itu terasa pincang. Sebab manusia, di samping hidup dengan rasio, memiliki juga emosi dan daya imajinasi.

Agaknya daya imajinasi ini, yang bersifat emosional, dipandang lebih rendah daripada daya rasionalnya.

Padahal menurut beberapa ahli jiwa, bahwa berfantasi, berimanjinasi, adalah sebuah kegiatan mental yang tarafnya sama dengan kegiatan-kegiatan lain. Berfantasi adalah contoh pertama dari kesadaran imajinatif.

Tentu saja kita bertanya, kenapa dibutuhkan imajinasi itu? Jawabnya, karena cakrawala pemikiran kita terlalu kompleks, sehingga tak dapat dijadikan atau dimiliki darah daging kita secara rasional saja. Antara kenyataan dan kemungkinan, tentu saja kalimat itu akan terasa aneh, lebih-lebih di Indonesia yang sedang giat-giatnya membangun.

Dan kemudian kita akan mendengar berondongan jargon: Kita harus meninggalkan angan-angan, imajinasi, kita harus hidup secara realistis, tak ada waktu untuk berkhayal, dengan mengimpikan kemungkinan-kemungkinan, segalanya harus serba nyata dan pasti. Pokoknya membangun dan membangun. Jangan yang lain, jangan bermimpi di siang bolong.

Tentu saja pembangunan harus jalan terus. Tetapi pembangunan untuk apa? Untuk siapa? Untuk manusia dan untuk kemanusiaan tentunya, demikian paling tidak yang tertulis dalam Undang-undang Dasar 1945. Bahwa pembangunan adalah demi kemakmuran dan kesejahteraan rakyat. Tetapi kemakmuran dan kesejahteraan rakyat macam apa? Macam rakyat Amerika? Eropa?

Sementara itu, kita dihadapkan pada kenyataan yang lain. Sungai dan laut kita telah tercemar dengan kotoran-kotoran teknologi. Udara tak lagi jernih karena polusi, hutan makin menipis.

Teknologi membuat segala-galanya. Namun meski semua bisa dicapai oleh teknologi, sumber-sumber tenaga bumi kita semakin lama semakin menyusut. Sementara penduduk makin bertambah, dan peperangan dahsyat atas berbagai kepentingan, tak bisa dihindari lagi. Mereka mau lari ke mana? Hutan rimba sudah tiada, tak ada ruang yang mau berbagi, mereka tak bisa kembali lagi ke sana.

Adakah kita mau mempercepat keadaan itu, sebagaimana gerimis mempercepat kelam? Membangun? Tentu saja kita mengatakan silahkan! Namun terhadap masalah yang menyangkut masa depan, hendaknya kita berfikir lebih jauh akan segala sebab dan akibat yang dari segi kebudayaan dipandang merosot, dan mendapatkan perlakuan yang layak.

Pembangunan yang membabibutakan manusia yang serba rasional, dan memperhitungkan hidup manusia dengan melulu kekuatan pikirnya (sementara ia lupa masalah manusia bukanlah masalah yang angka-angka, manusia bukan obyek, melainkan di situ ia berperan juga), maka ia menjadi subyek yang harus pula menggerakkan dirinya secara penuh.

Namun sekali lagi, jika di sini kita sebutkan tentang daya fantasi, bukan berarti bahwa tulisan ini hendak mengajak untuk melulu berangan-angan dan tak usah kerja. Silakan bermimpi, sekedar mimpi yang timbul dari angan-angan kosong. Tidak. Mimpi yang kita maksud adalah mimpi yang berangkat dari kenyataan yang kembali ke kenyataan pula. Ia harus mimpi yang diteruskan.

Jika ada yang menuduh bahwa anak muda kita terlalu banyak berfantasi, aku tidak setuju dengan pendapat itu. Mereka memang sering melamun, tetapi hal itu adalah melamun kosong. Melamun akibat kekosongan yang menganga. Bukan fantasi yang kreatif. Mereka kesepian tetapi tak bisa menggunakannya sebagai senjata kreatifnya. Mereka mengeluh, tetapi bukan lebih kreatif.

Fantasi di sini yang kumaksud ialah fantasi kreatif. Berdialog dengan alam, dengan kennyataan. Sebab dengan fantasi itu, bukan bertentangan dengan pikiran yang logis melainkan melengkapinya.

Chairilku yang baik.
Oleh karenanya, Chairilku, penyair akan tetap hadir. Dan meski telah tiada, ada yang ditinggalkannya. Puisi-puisi adalah sepercik kebenaran manusiawi. Ia memang tak berlaku umum dan cocok dengan segala cuaca. Tetapi sekali masuk, ia akan langsung menukik ke dasar kalbu, tentang hakekat hidup, tentang kerinduan, dan semangat, pada masa silam dan masa mendatang. Dan itulah yang membuat manusia ingin memberi nilai pada hidupnya.

Sajak-sajak yang kau tinggalkan, akan tetap berguna. Ia sebagai penjaga jiwa hidup. Minimal sebagaimana penjaga sejarah. Itu pun jika kita menyadarinya. Karena jika pun ada banyak mutiara terpendam, tetaplah tidak bakal menarik jika kita malas menggosoknya hingga berkilap.

Hanya bagi orang yang bermata jeli sajalah, ia akan berguna. Puisi-puisi adalah, sekali lagi, pijar keindahan yang berdasarkan kebenaran, dan kemanusiaan. Tentang hidup, tentang maut, tentang kegaiban, dan segala misteri kehidupan ini. Dan sajak-sajakmu, Chairil, mengajakku terus untuk mengadakan dialog. Dengan diri-sendiri, dan dialog dengan sang maha ghalib, tentang apa arti cita-cita, masa depan, semangat, kerinduan, harapan, dan kenyataan.

Di situlah, sajak berdiri sebagai suatu dunia tafsiran. Ia tidak hadir secara telanjang, ia merupakan dunia rekaan, yang kaya akan makna kehidupan. Menggugah kesadaran batin, dan untuk kemudian direfleksikan dalam kehidupan sehari-hari, untuk kemudian menjejak langkah lebih maju. Sajak-sajakmu, Chairil, adalah juga pertanyaan yang bukan saja milikmu. Ia adalah pertanyaan manusia.

Chairil Anwar, sayang.

Memang tragis, engkau mati muda, tetapi dalam usia semuda itu, engkau adalah bara api, yang panas membakar, siapa saja. Sekarang barulah terasa, kuakui dengan jujur, bahwa dengan diam-diam kamu telah memberikan jalan kepadaku. Ke arah dunia yang lebih sedikit jernih.

Aku mengerti engkau adalah manusia biasa. Bagaimana pun juga besarnya semangat hidup, bagaimana pun juga tingginya cita-cita, tetapi apa artinya jika dengan tanpa kita tahu dan tanpa kita mau tahu, datang dan terhempaslah segalanya? Kehidupan hanyalah sebuah pematang begitu kecilnya, begitu mungilnya. Padahal lautan maha dalam, mukul dentur selama. Betapa akan hancur lebur seketika, jika laut murka dan pematang sirna. Pematang itu akan terasa sia-sia dipupuk:

Lautan maha dalam
Mukul dentur selama
Nguji pematang kita
Hingga hancur remuk redam
Kurnia bahagia
Kecil setumpuk
Sia-sia dilindung, sia-sia di pupuk


Chairil Anwar, penyairku sayang.
Sebagai anak muda, aku mengagumimu. Ini tanpa malu-malu aku tulis surat ini kepadamu.

Chairil, Chairil, Chairil.
Aku mendoa semoga engkau mendapat ampun dari Tuhan, meski hilang sonder pusaka, sonder kerabat. Meski tidak minta ampun, atas segala dosa, tidak memberi pamit, pada siapa saja. Aku tidak pernah berkeberatan, untuk memamitkan dan memintakan ampun segala perbuatanmu. Sebagai manusia biasa juga, bahwa engkau memanglah bukan nabi. Meski dari puisimu, engkau telah menuliskan segalanya.

Chairil Anwar,
Chairil Anwar,
Chairil Anwar.


Jatimulyo, 15 April 1980

Tidak ada komentar:

Posting Komentar