Kamis, Oktober 28, 2010

Membaca Peristiwa Merapi dari Sisi Berbeda

Dengan segenap beladuka pada korban atas meletusnya Gunung Merapi. Peristiwa ini, bukan pertama kalinya. Siklus Gunung Merapi, sebagai gunung berapi yang masih hidup, akan selalu demikian.
Namun peristiwa meletusnya gunung berapi, sesungguhnya bukanlah peristiwa yang tak bisa dimengerti dari sisi peradaban manusia sebagai mahkluk yang diperkenankan berpikir dan menafsir.
Ketika saya bercengkerama ke beberapa penduduk di Tutup Ngisor, Kecamatan Dukun, Muntilan (Jateng), beberapa penggali pasir yang berada di ring satu bahaya Merapi, mengatakan bahwa Gunung Merapi memberi kehidupan dan rejeki pada mereka. Sehabis gunung meletus, kata mereka, maka pasokan pasir, batu, begitu melimpah, dan menjadi sumber mata pencaharian. Demikian juga bagi para petani, pasca letusan Merapi, tanah menjadi subur, dan menjadi pengharapan untuk masa tanam berikutnya.
Jika demikian, mengapa fenomena alam itu tidak dipersahabat, sebagaimana naluri hewan-hewan yang tajam, yang akan menjauh dari Merapi, ketika peristiwa erupsi itu terjadi?

Di Jepang, setelah bencana besar Fujiyama, pemerintah dan para ilmuwan Jepang, berfikir keras mengenai hal itu. Dan hasilnya, terjadi perubahan pada kontruksi sosial dan budaya masyarakat setempat. Bentuk rumah dan kontruksinya, pekerjaan atau mata pencaharian penduduk, semua didesain untuk mengantisipasi sebagai resiko lingkungan yang rawan dan tidak stabil.
Pemerintah dan akademisi Indonesia, sesungguhnya juga bisa, mendisain setepatnya, bagaimana memposisikan hubungan masyarakat sekitar dengan Gunung Merapi, sehingga kita tidak hanya bicara soal "tanggap bencana" atau "musibah alam", padahal itu adalah peristiwa kerutinan yang bisa diperkirakan.
Artinya, sikap mental, karakter budaya, pola pikir masyarakat sekitar Merapi, adalah persoalan social enginering yang selama ini diabaikan, dan kita hanya ribut jika hal tersebut terjadi. Ribut keprihatinan, ribut aksi sosial, ribut anggaran bencana.
Berbeda dengan kasus yang terjadi di Chile, ketika presidennya di lapangan untuk bersama dalam peristiwa itu, Presiden kita justru berada di lokasi untuk menggelar rapat koorinasi terbatas dengan para mentrinya, dengan protokolernya yang bisu-tuli. Presiden terjebak dalam upacara teater yang tidak cerdas. Mempertunjukkan pembelaan, namun menyiratkan impresi kegenitan. Bahasa bodohnya berpamrih, tidak tulus, ora ngerti prioritas!



Soal Mbah Maridjan? Saya kira kontroversi itu terjadi karena kita sering kurang sabar dan bijak membaca peran-peran manusia dalam kehidupan. Yang anti klenik dan mistik, dengan serta merta akan mencibir sosok ini, namun yang sebaliknya, akan memujanya.
Mbah Maridjan, adalah sosok biasa dalam konstruksi sosial masyarakat desa, yang fenomena ini kemudian menemukan komodifikasinya oleh media yang rindu kasus dan isyu, termasuk bagaimana "rosa" mengeksploitasinya. Dalam konteks pemerintahan modern, Mbah Maridjan tentu saja warga negara biasa. Namun dalam keyakinannya sebagai abdi dalem yang mendapatkan tugas dari raja, yang katanya "tugas pemerintahan kraton", beliau menerjemahkan sebagai tanggung jawab. Ia telah memberi pengertian pada tetangga kiri-kanan untuk mengungsi, namun sebagai "penjaga yang ditugaskan", ia bertahan memohonkan pada Tuhan, keselamatan alam seisinya dalam sujud shalatnya itu. Bahwa ia kemudian gugur di medan lahar, itulah resiko seorang panglima perang, yang tidak ngacir dari tanggung-jawab. Tanpa mendeskreditkan beliau, Mbah Maridjan adalah sosok profesional, jika saja kita bisa mengabaikan efek mediasi yang dikembangkan oleh gossip selebritas media kita, Mbah Maridjan tidak seheboh dan "sejahat" pikiran kita.

Gunung Merapi meletus, sebagai peristiwa yang berdampak sosial dan ekonomi, tentu mengundang keprihatinan dan solidaritas sosial kita bersama. Namun, tidak mau memikirkan penyikapan kita atas fenomena dan pembacaan kuasa Tuhan atas alam semesta ini, bukanlah kesombongan yang dungu, melainkan kedunguan yang sombong.

Jika kita tak mampu membaca alam, mengapa kita tidak mau membaca buku?

| Sunardian Wirodono.

Foto Gunung Merapi Pasca Erupsi 2010, karya Idam Laksana, Yogyakarta.

Rabu, Oktober 13, 2010

Skandal Penjiplakan Novel Centhini 2 Perjalanan Cinta

Setelah menerbitkan novel “Centhini 40 Malam Mengintip Sang Pengantin” karya Sunardian Wirodono pada Mei 2009, merupakan novel gubahan dari sastra klasik Jawa Serat Centhini, Diva Press Yogyakarta menerbitkan novel “Centhini 2 : Perjalanan Cinta” dengan penulis bernama Gangsar R Hayuaji (yang kemudian dijelaskan sendiri oleh penulisanya merupakan nama pena dari Sri Wintala Achmad), pada Oktober 2010.

Penerbitan novel terakhir itu, sungguh menyentak saya (Sunardian Wirodono, SW). Karena dari teks-teks yang ada dalam novel itu, yang dikatakan ditulis oleh Gangsar R. Hayuaji, sebagian besar adalah apa yang saya tulis untuk melanjutkan novel pertama saya “Centhini 40 Malam Mengintip Sang Pengantin”. Bagaimana bisa, dan apa buktinya?


Sebelumnya, harus dijelas latar belakangnya. Hubungan kerja saya (SW) dengan penerbitan Diva Press (DP) tidaklah mulus. Setelah mengalami cetak ulang tiga kali, DP antusias untuk meminta saya menyegerakan penulisan novel berikutnya, yang memang saya janjikan Serat Centhini saya gubah menjadi tiga buku, yakni (1) Centhini 40 Malam Mengintip Sang Pengantin, (2) Centhini Perjalanan Cinta, dan terakhir (3) Cebolang Sang Petualang Jalang.

Hubungan kerja itu, karena persahabatan, tidak memakai perjanjian tertulis. Demikian juga tak ada kontrak, kecuali SW mendapat honorarium berdasar jumlah buku yang dicetak. Ketika saya mempertanyakan soal kontrak kerja, setelah melihat hasil cetakan ke-tiga, saya disodorkan point-point kontrak kerja yang 100% menekan penulis dan 100% menguntungkan penerbit.

Sementara, hak honorarium saya untuk cetakan ke-tiga (Oktober 2009), tidak akan diberikan sebelum saya menyelesaikan naskah ke-dua, “Centhini Perjalanan Cinta”. Saya shock, karena pada waktu itu (Februari 2010) saya sangat membutuhkannya. Dan selama itu, sama sekali tidak ada pembicaraan lebih lanjut. Sebelum itu, saya memang sudah menyerahkan beberapa bab untuk “Centhini Perjalanan Cinta”, karena saya membutuhkan uang (dengan system ijon), dan pihak DV memberikan uang muka pada saya Rp 5.000.000,00 untuk hal itu. Maaf, detailnya saya lupa mengenai hal ini.

Sekarang persoalannya, ketika permasalahan tersebut di atas tidak atau belum terselesaikan, pihak DP kemudian menerbitkan novel “Centhini 2 : Perjalanan Cinta” dengan penulis Gangsar R Hayuaji (Sri Wintala Achmad) tersebut.
Lepas dari apapun persoalan saya (SW) dengan DP, penerbitan novel atas nama Gangsar R Hayuaji itu mengandung cacat prinsipil dalam karya kreatif penulisan, yakni soal orisinalitas.

Dalam ucapan terima kasih (tak jelas dari penerbit atau penulisnya) pada novel “Centhini 2 : Perjalanan Cinta” (C2PC) itu, dituliskan ucapan terima kasih pula pada Sunardian Wirodono, yang disitu ditulis sebagai “penulis naskah lepas Centhini: Perjalanan Cinta” yang “secara tidak langsung” memberikan sumber data penulisan novel ini (C2PC, h. 5). Seolah ada penulis tetap sebagaimana proses penulisan Serat Centhini yang ditunjuk oleh Sri Susuhunan Pakubuwana V.

Tidak jelas apa maksud “secara tidak langsung” ini, karena pada halaman 418 disebutkan “Wirodono, Sunardian. “Centhini: perjalanan Cinta”. Teks lepas, Jakarta-Yogya, Maret-November 2009” pada daftar bacaan novel C2PC. Artinya Gangsar R Hayuaji tak mungkin tidak tahu soal file tulisan SW itu.

Seorang teman, lewat facebook, pernah menanyakan pada DP, apakah novel C2PC adalah karya SW? Dijawab oleh pihak DP, sama sekali tidak (Oktober 2010). Dan melalui account “Membaca Serat Centhini” (MSC) di facebook, karena mendapatkan tag kiriman dari “Centhini Literatur From Java” yang dikelola oleh Sri Wintala Achmad, SW menanyakan agar dijelaskan oleh penerbit maupun penulis, bahwa buku tersebut tidak ada kaitannya dengan SW. Hal tersebut dijawab langsung oleh Sri Wintala Achmad, bahwa novel tersebut sama sekali tidak berkait dengan SW, dan ia katakan semuanya ia tulis sendiri berdasar referensi yang ia miliki (Oktober 2010).

Baiklah. Saya ingin masuk pada bukti-bukti teks, yang ternyata, hampir semuanya copy paste dari yang saya (SW) tulis, untuk kemudian dengan nama Gangsar R. Hayuaji didaku sebagai karyanya:

Saya telah membaca novel "Centhini 2 Perjalanan Cinta" yang diakukan ditulis oleh Gangsar R Hayuaji (nama pena dari Sri Wintala Achmad), yang baru saja diluncurkan.
Novel tersebut konon mengacu pada karya sastra klasik Jawa Serat Centhini. Namun, mencermati teks novel tersebut, yang dibagi dalam empat bagian (1) Tambangraras Mencari Belahan Jiwa, 12 bab (2) Amongraga Mencari Sarang Angin, 15 Bab (3) Kelana Sang Pelarian, 3 bab, dan (4) Sang Kelana yang Kembali, 7 bab, dan (5) Kesaksian Seorang Cethi, 2 bab. 

Saya (Sunardian Wirodono) setelah membacanya, kemudian bisa memastikan, bahwa karya tersebut, khususnya pada bagian 1, hampir keseluruhan merupakan copy-paste dari apa yang telah saya tulis untuk karya yang saya juduli "Centhini Perjalanan Cinta" khususnya dari Bab 1 s.d 3 yang oleh Sdr gangsar digabung kemudian dipecah menjadi 12 bab. 

Demikian juga pada bagian 2, Sdr. Gangsar mengcopy-paste tulisan saya untuk naskah yang sama, khususnya pada Bagian Pembuka, yang kemudian dijadikannya 15 bab, dan diletakkan pada bagian ke-2. 

Peletakan bab 1-2-3 dan kemudian baru bab pembuka, jika dilihat dari struktur pengurutan naskah saya, tidak mengurangi penjiplakan yang dilakukan oleh saudara Gangsar, karena baris demi baris bisa diperbandingkan dengan kesamaan persis di atas 90%. Sdr. Gangsar hanya melakukan pengimbuhan kata, penyisipan, pengubahan sana-sini-situ, menghapus beberapa alinea, tetapi tidak mengubah struktur logika dan plot, bahkan beberapa idiom yang sengaja saya lakukan.

Bahkan, upaya pengotak-atikan (membolak-balik) urutan itu, menjelaskan lebih terang, bahwa saudara Gangsar sadar dan sengaja melakukan hal tersebut. Misalnya, mengcopy-paste bab pembuka SW, yang justeru dipakai sebagai footnote seperti pada bukunya di halaman 298-299, untuk yang ini bahkan sama sekali tidak diedit alias plek-plek-plek, padahal lebih dari 40 baris. 

Dengan demikian, novel terbitan Diva Press setebal 420 halaman itu (dikurangi 50 halaman pengantar), dari halaman 61 s.d 178 dan 181 s.d 300 (total dari 370 halaman) yang didaku Gangsar R Hayuaji sebagai karyanya itu, 236 halaman atau 63,78% adalah teks naskah yang di tulis oleh Sunardian. Dari meta-data file komputer, saya berani bertanggungjawab, naskah tersebut saya tuliskan pada periode Maret 2009-Maret 2010, sementara Gangsar menuliskannya bertitimangsa Mei 2010.

Saya kutipkan dari file SW “Bab Satu : Cinta Begitu Membelenggu”
| WANAMARTA. YANG ADA HANYALAH SUNYI SEPI. MATAHARI memang tetap bersinar di langit. Bahkan, seolah tiada jemu. Setiap pagi. Setiap sore. Di langit yang sama. Datang dan pergi.
Tapi betapa membosankan bagiku.
Hari demi hari, begitu terasa lambat.
Sangat lambat.
Entah berapa lama sudah. Denayu Tambangraras berkelana dalam diam, di atas tempat peraduannya. Ya, tempat peraduan, karena demikianlah hari-hari dan malam-malamnya, diadukan dalam kesendirian.
Sementara itu, aku, si Centhini, sebagai cethi, pembantu setia Tambangraras, pun hanya berada dalam diam. Tiada mengerti harus berbuat apa. Bukannya tiada daya, namun lebih karena tiada cara, agar Denayu Tambangraras melepaskan diri dari derita. Yang kulakukan hanyalah menemani, melayani, dan menjadi perantara, dari siapa pun yang ingin menemuinya. Karena hanya padaku, Denayu sudi menumpahkan isi hatinya. Dan hanya padaku, Denayu percaya.
Masa-masa yang sulit, juga bagaimana aku harus menceriterakan kepadamu, betapa tidak masuk akalnya ini semua. Cinta kepati-pati Denayu, pada Syekh Amongraga, menjadikan semuanya ini tidak masuk akal, tak bisa dinalar, setidaknya oleh nalarku.
Kenapa cinta begitu membelenggu? Dan bukannya membebaskan?
Ah, pertanyaan yang tidak cukup cerdas, justeru karena terlalu dipikirkan.
Masih ingat, bagaimana pada malam ke-40 hari perkawinannya, Syekh Amongraga pergi tanpa pamit pada isterinya, Tambangraras? Yang terjadi kemudian, hanya duka derita.
Denayu Tambangraras setelah itu, tiada mau melakukan apa pun. Tidak mandi, tidak bersalin pakaian. Makan dan minum pun, jika tak dipaksa, tak akan dilakukannya. Yang ia lakukan, hanyalah menderas Alquran, shalat, berdzikir.
Saat-saat keluar dari kamarnya, hanyalah untuk berwudhu, atau ke pakiwan. Selebihnya, tak ada.
Ia mengenakan pakaian serba putih, sebagaimana selembar kain yang hanya disampirkan di tubuh kurusnya.
Dan itu terjadi bukan saja berhari-hari, berpekan-pekan. Melainkan ketika bulan purnama telah berganti beberapa kali. Mungkin saja satu tahun lebih, aku tidak tahu pasti. Tapi nanti kau bisa merunutnya, seberapa lama perjalanan Syekh Amongraga di tempat-tempat yang ia datangi, untuk mencari dua adiknya, dengan meninggalkan isterinya!
Alasan yang menurutku dibuat-buat. Sangat dibuat-buat.
Apa sesungguhnya alasan yang sebenar-benarnya? Memang hendak meninggalkan Tambangraras, sebagaimana para lelaki meninggalkan perempuan yang telah dicecap sari-madunya? Sebegitu jugakah Amongraga yang bergelar syekh itu? Syekh apa pula namanya, dan darimana gelar itu didapatkannya?
“Centhini,…” suara Denayu Tambangraras perlahan.
Tersadar aku dibuatnya. Kupandangi perempuan kurus kering yang tepekur di atas ranjangnya, di depanku.
“Apa yang ada dalam pikiranmu kiranya?” Tambangraras menatapku.
“Tak ada,” jawabku keceplosan. Jengkel.
“Kita harus menerimanya,…”
“Untuk alasan apa, Denayu?” aku balik bertanya. Dengan nada meninggi.
“Tidak semua harus ada alasannya,…”
Jawaban Denayu Tambangraras mengecewakanku. Betapa dulu, ketika kami masih kanak-kanak, kami diminta untuk memberikan alasan. Semua benda yang bergerak di muka bumi ini, selalu dengan alasan-alasan. Tak ada yang tidak. Dan Ki Bayi Panurtha, akan selalu menuntut mengapa begini mengapa begitu. Tak boleh salah menjawab, dan tak boleh segala sesuatu dilakukan tanpa sebab dan tujuan yang pasti. Agar kami mengetahui dan waspada, mengenai baik-buruk segala sesuatu.
Tapi, kenapa justeru jauh waktu kemudian, ketika kami telah dianggap aqil-balikh, sama sekali kita tidak boleh mempertanyakannya? Dan diminta untuk menerima segala hal begitu saja?
Menyebalkan.

Kemudian, ini yang saya baca dari “Centhini 2 : Perjalanan Cinta” oleh Gangsar R. Hayuaji, pada bab 1, hal 61 – 64: | Sebagaimana kemarin, matahari masih terbit dan terbenam di langit Wanamarta. Datang dan pergi dengan membawa kabar yang sama. Hingga hidup hanya putaran roda kereta dalam kelengangan jalan. Melaju jauh menuju kota kesunyian hati tak bertepi. Betapa brengsek dan membosankan!
Entah sudah berapa lama Denayu Tambangraras berkelana dalam sunyi peraduannya. Tempat di mana ia selalu menghabiskan waktunya untuk mengadukan kesunyian hati pada cermin. Cermin yang selalu basah dengan air mata kepedihan.
Sementara aku si Centhini, cethi setia Denayu Tambangraras, tidak mengerti harus berbuat apa. Bukannya tidak berdaya, melainkan tidak tahu cara bagaimana membantu Denayu Tambangraras untuk terlepas dari belenggu nestapa. Pekerjaan yang kulakukan hanya menemani, melayani, dan menjadi perantara dari sesiapa yang ingin menemuinya. Karena hanya kepadaku, Denayu sudi menumpahkan isi hatinya. Hanya kepadaku, Denayu percaya.
Betapa sulit, manakala aku harus menceriterakan segala sesuatu yang tak masuk akal. Cinta kepati-pati Denayu Tambangraras pada Syekh Amongraga menjadikan segala sesuatu tidak masuk akal. Cinta yang membelenggu. Tidak memerdekakan. Cinta yang semakin tidak jelas hakikatnya. Memicu ketololan, ketika dipikirkan.
Makin terbersit di benak. Seusai melintasi empatpuluh malam perkawinannya, Denbagus Amongraga meninggalkan Wanamarta. Meninggalkan nestapa di dalam hati Denayu Tambangraras. Nestapa yang kemudian menyerupai ampas kopi, melarut kental di dasar cangkir.
Semenjak kepergian Denbagus Amongraga, Denayu Tambangraras tidak perduli dengan dirinya. Tidak mau mandi dan bersalin busana. Tidak mau merias wajah dan melulur tubuh langsatnya. Tidak mau makan dan minum. Hari-harinya hanya dihabiskan untuk menderas al-Quran, shalat, dan berdzikir.
Betapa iba aku pada Denayu Tambangraras. Perempuan yang tidak pernah lepas dari busana serba putih. Selembar kain yang hanya dibalutkan pada tubuh kurus keringnya. Perempuan yang hanya keluar dari tempat peraduan bila ingin berwudlu dan buang air besar dan kecil di pakiwan.
Di satu sisi, aku iba pada Denayu Tambangraras. Di sisi lain, aku jengkel pada Denbagus Amongraga yang pergi tanpa alasan. Apakah kepergiannya karena ingin meninggalkan Denayu Tambangraras? Apakah karena ingin mencari kedua adiknya yang tidak diketahui di mana rimbanya? Apakah ingin mencari jati diri? Semua masih teka-teki.
“centhini…” Denayu Tambangraras yang terpekur di ranjang sontak memecah lamunanku, “Apa yang tengah kamu pikirkan?”
“Ehm…”
“”Tidak perlu kamu pikirkan Centhini!” pinta Denayu Tambangraras. “Aku menerima semua ini.”
“Apa alasan Denayu menerima perlaku tidak adil dari Syekh Amongraga? Kekupu liar yang bergegas meninggalkan mawar layu, sudah dicecap sari madunya.”
“Barangkali sudah menjadi takdir.” Wajah Denayu Tambangraras serupa bulan terlindungi tirai awan tipis. “Karenanya, tidak ada alasan mengapa aku harus menerima semua ini.”
Jawaban Denayu Tambangraras membuatkan kecewa. Karena semasih kanak, aku selalu diajarkan untuk memberikan alasan atas segala yang diterima. Semua benda yang bergerak di muka bumi pun selalu hadir dengan alasan. Bahkan, Ki Bayi Panurta selalu menuntut agar segala sesuatu yang dilakukan berpijak pada alasan dan kepastian tujuan. Inilah pengetahuan yang berharga bagi manusia, agar senantiasa waspada terhadap segala sesuatunya.
Namun sesudah dewasa, aku justeru tidak diperbolehkan untuk menanyakan mengapa segala sesuatu harus diterima tanpa alasan. Sungguh menyebalkan!. Terlebih saat menyaksikan kepedihan Denayu Tambangraras yang harus menerima perlakuan tidak adil dari Denbagus Amongraga.

Stop sampai di sini.

Saya hanya ambilkan contoh kasusnya pada contoh di atas, karena pada hampir semua bagiannya, teknik copy paste dan pengubhannya sama persis.

Gangsar R. Hayuaji hanya mengcopy paste dari file Sunardian Wirodono, untuk kemudian dia tambahkan ini dan itu, diselipin kata lain, diubah sedikit kalimatnya. Namun struktur logika, idiomatika, dan beberapa penyebutan sama persis.

Memang tidak seratu persen copy-paste, namun itu tetap merupakan kerja pencurian. Bekerja di atas keringat penulis lain, untuk kemudian ditambah sana-sini-situ.
Penyebutan Denayu Tambangraras, adalah orisinal dari saya karena tidak ada penyebutan itu pada teks asli, yang ini juga dipakai oleh Gangsar, namun ia keliru ketika menyebut Syekh Amongraga dengan sebutan padanan denayu yakni Denbagus Amongraga, karena ia sudah beristeri dan bahkan disebut syekh (karena itu, saya tak pernah menyebut Denbagus Amongraga).

Semuanya, benar-benar sama persis sis dari awal sampai akhir. Jika SW memulai dengan pengantar berupa ihtisar perjalanan Syekh Amongraga, maka Gangsar langsung mengcopy paste bab satu sebagai pembuka. Dari copy paste tersebut, barulah ia edit di sana-sini-situ, tetapi sekali lagi dengan struktur kalimat dan logika yang sama persis dengan apa yang sudah ditulis oleh SW.

Yang paling dan sangat menyedihkan, pengutipan teks asli dari Serat Centhini dan juga terjemahannya, sama persis dengan apa yang ditulis oleh SW (Halaman 74-75-76-77) Pleg sama. Hanya pintarnya Gangsar, file bab satu SW, dipecah menjadi dua bab. Namun satu sama lain urutannya persis. Pola itu, dipakai untuk bab-bab berikutnya. Ada pula teknik lain, bagian dari teks narasi dicopy paste untuk kemudian dijadikan footnote (lihat C2PC halaman 298-299) total sebanyak 40 baris sama persis. 

Untuk diketahui, teks naskah SW yang ada pada pihak DP adalah Bab Pembuka, Bab 1, 2, 3, serta Bab Terakhir (total semua lima file naskah, dari 12 file naskah yang direncanakan, atau) dari seluruh 10 bab yang direncanakan (tidak termasuk Prolog Bab Pembuka dan Epilog Bab Terakhir). Artinya, pada bab 4-5-6-7-8-9-10 sama sekali belum terjamah meski sudah diberikan strukturnya. Tapi untuk diingatkan, dari 4 bab yang sudah ditulis SW itu, semuanya dipakai oleh Gangsar dengan cara dipecah satu bab menjadi dua bab, dan seterusnya dengan teknik menyisipkan satu dua kata atau sedikit diubah kalimatnya. Dari 4 bab itu menjadi bahan baku (atau total sekitar 63,78%) bagi penulisan novel itu.

Ada yang dengan teknik copy paste, namun dihilang beberapa aliea, untuk kemudian masuk pada aliea berikutnya, tapi tetap dari milik SW. Misal sehabis mengutip Serat Centhini (C2PC hal 101-103) kemudian disambung hal 104 dengan alinea pembuka:


“Gemerosak dedaunan bercumbuan dengan angin malam. Bergoyangan ke kiri dan kanan. Di dalam ruang peraduan Ki jayengraga, Endhuk yang merasakan selangkangannya sakit menangis tanpa suara. “Ampuni aku, apa yang tengah tuan lakukan padaku?”

adalah sama persis dengan file SW dengan urutan setelah kutipan tembang, ada 10 aliena yang dihapus, langsung ke (kutipan dari file SW):

“Gemerosak daunan, bercumbuan dengan angin malam. Bergoyangan kekiri, ke kanan. Ke kiri. Ke kanan.
Tiba-tiba tubuh Endhuk terasa panas. Betisnya terasa basah, dan lekat. Ia menjerit kaget. Tubuhnya menggigil, dan tiba-tiba lunglai tiada daya.
“Apakah ini ayah, kenapa di selangkanganku ini, trasa basah dan lekat? Seperti air kencing tetapi ini kental sekali,...” Endhuk bertanya-tanya penuh kecemasan.
(SW. Bab 2, halaman 12-13).


Apakah bedanya? Beberapa pengubahan yang dilakukan Gangsar, missal penyebutan Ayah menjadi Tuan, menunjukkan penulis tersebut sama sekali tidak menguasai dan membaca Serat Centhini asli. Ia hanya berdasar pada teks yang ditulis SW. Apalagi, dalam C2PC juga dikutipkan syair dari “Serat Nirartha”terjemahan Prof Dr. Poerbatjaraka, sungguh sama sekali mengacaukan logika waktu Serat Centhini (dengan alasan apapun interpretasi kreatifnya).

Atau pada akhir bab 10 C2PC Gangsar hal 162-164, yang pola penuturan, struktur logika dan pengutipan teks asli Serat Centhini, bahkan juga terjemahannya, sama persis dengan yang ditulis oleh SW (teks asli SW tentang hal itu pada Bab 3: Keajaiban di Wanataka, untuk membuktikan tanggal penulis, system meta data computer bisa menjelaskan dan bukan rekayasa apalagi ada tanggal pengiriman file tersebut via email ke DP yang tidak bisa dihapus, tulisan SW dibuat pada meta data terakhir 1 Desember 2009). 

Dalam forum yang tepat, saya (SW) bersedia menyodorkan fakta-fakta itu lebih rinci, karena jumlah copy paste itu hampir menyeluruh. Yang membedakan hanya dipecah-pecah, beberapa alinea dihilang, disisiplin kata baru tapi tidak mengubah struktur kalimat dan logika, strutur urutannya sama persis.

Bagi saya, Centhini 2: Perjalanan Cinta yang didaku sebagai tulisan Gangsar R. Hayuaji itu, sama sekali tidak berangkat dari Serat Centhini aslinya, tetapi berangkat dari teks yang dibuat oleh SW. Bahkan, pada referensi yang ditulisnya, sama persis dengan apa yang dituliskan oleh SW, hanya ditambahi beberapa judul buku. Lumayan untuk gagah-gagahan. Penulisan footnote pun, meniru pola SW, bahkan (dan sekali lagi) yang paling menyedihkan, terjemahan Serat Centhini yang dilakukan dengan susah payah oleh SW di copy paste begitu saja, semuanya (kecuali halaman 377 dst). Model ini celakanya, ia terjebak pada pola penggubahan dan idiomatika yang dikembangkan SW, tanpa mengerti aslinya bagaimana. Misal penyebutan nama, tempat, pengadeganan. Penyebutan Denbagus Amongraga, yang salah secara teks tersebut tentu karena terjebak mengikuti pengembangan idiom SW untuk Denayu Tambangraras. Demikian juga penyebutan “ayah” menjadi “tuan” oleh Gangsar misalnya, karena teks asli memang si Endhuk diminta menyebut Ki Jayengraga sebagai “ayah”, bukan tuan! Dan seterusnya.

Apakah kesimpulannya?

Apakah itu semua terjadi, karena DP merasa telah membayar pada SW, dan sama sekali tanpa kontrak kerja tertulis, hingga menganggap teks SW sudah sah milik DP, untuk kemudian boleh dipakai siapa saja dengan mendaku sebagai tulisannya? Padahal, persoalan yang terjadi antara DP dengan SW juga sama sekali belum diselesaikan secara baik-baik, belum ada kata putus?

Namun, sekali lagi, apakah cukup alasan kemudian, Sri Wintala Achmad dengan memakai nama gangsar R. Hayuaji mendaku teks-teks dalam novel C2PC sebagai karyanya, padahal jelas-jelas sebagian besar adalah bukan tulisannya, melainkan tulisan SW yang sudah dipegang oleh DP, dan itu diakui oleh penulis sendiri di halaman 418, sebagai bagian dari “bahan bacaan”? Bukankah artinya tidak ada alasan mengelak tidak tahu dan sebagainya, jika bukan hanya kalimat per kalimat, melainkan titik koma, suku kata dan idiomnya sama persis dengan yang ditulis SW? dalam meta-data file-file SW bertiti mangsa Maret-November 2009/Maret 2010, sementara dalam C2PC tulisan Gangsar bertanggal Mei 2010! Setidaknya tenggang waktu dua bulan.

Lantas, apa yang kemudian mesti dilakukan atas hal ini? Sesungguhnya, atas nama UUHC, saya bisa menuntut saudara Sri Wintala Achmad selaku pemegang nama Gangsar R Hayuaji, yang mengklaim bahwa novel “Centhini 2 : Perjalanan Cinta” adalah karya tulis orisinalnya, atas bukti-bukti yang saya beberkan tersebut. Setidaknya minimal bisa menuntut Rp 500 juta, yang tentu lumayan bisa untuk mencetak sendiri novel saya dan dibagikan gratis.

Namun, sebagai sesama penulis, dan saya berharap Sri Wintala Achmad kelak tumbuh menjadi penulis yang baik, saya hanya menunggu pengakuan dia, bahwa yang dia lakukan bukanlah tindakan yang patut dilakukan oleh mereka yang bekerja di lapangan kreatif. Apalagi ketika di cover buku tersebut disebutkan bahwa novel tersebut penuh ajaran luhur dan sejenisnya.

Saya, Sunardian Wirodono, menunggu saudara Sri Wintala Achmad, di forum mana pun hendak diadakan.

Bagi saya, apa yang dilakukan Sri Wintala Achmad sebagai penulis, sangatlah menyedihkan. Karya kebudayaan yang besar, ternyata hanya disikapi secara lemah karena imbalan honorarium, namun tanpa perilaku kreatif yang memadai. Apalagi jika membaca pengantar penulis yang luar biasa panjang (dari hal 7 s.d 57, yang ditulis bertanda Cilacap-Yogyakarta, Mei 2010), terlihat lebih banyak copy-paste tulisan-tulisan mengenai Centhini yang bisa di-downdload dengan mudah dari internet

Innalillahi wa inna illahi roji’un.


Yogyakarta, 13 Oktober 2010
Sunardian Wirodono

Senin, Mei 31, 2010

PIDATO BUNG KARNO 1 JUNI 1945

Sejarah Lahirnya Pancasila

PENGANTAR : Membaca kembali pidato Bung Karno (Sukarno) pada 1 Juni 1945 di depan BPUPKI (yang kemudian dikenal sebagai kelahiran dasar negara Republik Indonesia, Pancasila), sungguh kita seolah mendapatkan kuliah mengenai kebangsaan dan kenegaraan secara paripurna.

Pidato Sukarno ini, secara konseptual, tetap aktual dan aktual, justru di tengah degradasri bangsa yang terasa makin formalis, sektarian, pragmatis, dan fragmentaris.

Menjelang kekalahannya di akhir Perang Pasifik, tentara pendudukan Jepang berusaha menarik dukungan rakyat Indonesia dengan membentuk Dokuritsu Zyunbi Tyoosakai atau Badan Penyelidik Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI).

Badan ini mengadakan sidangnya yang pertama dari tanggal 29 Mei sampai 1 Juni 1945, dengan acara tunggal menjawab pertanyaan Ketua BPUPKI, Dr. KRT Radjiman Wedyo diningrat, “Indonesia merdeka yang akan kita dirikan nanti, dasarnya apa?”

Hampir separuh anggota badan tersebut menyampaikan pandangan-pandangan dan pendapatnya. Namun belum ada satu pun yang memenuhi syarat suatu sistem filsafat dasar untuk di atasnya dibangun Indonesia Merdeka.

Pada tanggal 1 Juni 1945, Bung Karno mendapat giliran untuk menyampaikan gagasannya tentang dasar negara Indonesia Merdeka, yang dinamakannya Pancasila. Pidato yang tidak dipersiapkan secara tertulis terlebih dahulu itu diterima secara aklamasi oleh segenap anggota Dokuritsu Zyunbi Tyoosakai.

Selanjutnya BPUPKI membentuk Panitia Kecil untuk merumuskan dan menyusun Undang-Undang Dasar dengan berpedoman pada pidato Bung Karno itu. Dibentuklah Panitia Sembilan (terdiri dari Ir. Soekarno, Muhammad Hatta, Mr. AA Maramis, Abikusno Tjokrokusumo, Abdulkahar Muzakir, HA Salim, Achmad Soebardjo dan Muhammad Yamin) yang bertugas “merumuskan kembali Pancasila sebagai Dasar Negara berdasar pidato yang diucapkn Bung Karno pada tanggal 1 Juni 1945, dan menjadikan dokumen itu sebagai teks untuk memproklamasikan kemerdekaan Indonesia.”

Demikianlah, lewat proses persidangan dan lobi-lobi akhirnya Pancasila penggalian Bung Karno tersebut berhasil dirumuskan untuk dicantumkan dalam Mukadimah Undang-Undang Dasar 1945, yang disahkan dan dinyatakan sah sebagai dasar negara Indonesia Merdeka pada tanggal 18 Agustus 1945 (yang oleh rezim Orde Baru Soeharto, dibakukan sebagai hari lahir Pancasila untuk mereduksi peranan Sukanro sebagai penggali Pancasila, lihat buku "Pancasila Bung Karno", Paksi Bhinneka Tunggal Ika, 2005).

Inilah pidato yang bersejarah itu…
| Sunardian


Paduka Tuan Ketua Yang Mulia!
Sesudah tiga hari berturut-turut anggota-anggota Dokuritsu Zyunbi Tyoosakai mengeluarkan pendapat-pendapatnya, maka sekarang saya mendapat kehormatan dari Paduka Tuan Ketua yang mulia untuk mengemukakan pendapat saya. Saya akan menetapi permintaan Paduka Tuan Ketua yang mulia. Apakah permintaan Paduka Tuan Ketua yang mulia? Paduka Tuan Ketua yang mulia minta kepada sidang Dokuritsu Zyunbi Tyoosakai untuk mengemukakan dasar Indonesia Merdeka. Dasar inilah nanti akan saya kemukakan di dalam pidato saya ini.

Maaf beribu maaf! Banyak anggota telah berpidato, dan di dalam pidato mereka itu diutarakan hal-hal yang sebenarnya bukan permintaan Paduka Tuan Ketua yang mulia, yaitu bukan dasarnya Indonesia Merdeka. Menurut anggapan saya, yang diminta oleh Paduka Tuan Ketua yang mulia ialah – dalam bahasa Belanda – Philosofische grondslag (dasar filosofi-Ed.) dari Indonesia Merdeka. Philosofische grondslag itulah fondamen, filsafat, pikiran yang sedalam-dalamnya, jiwa, hasrat yang sedalam-dalamnya untuk di atasnya didirikan gedung Indonesia Merdeka yang kekal dan abadi. Hal ini nanti akan saya kemukakan, Paduka Tuan Ketua yang mulia. Tetapi lebih dahulu izinkanlah saya membicarakan, memberitahukan kepada Tuan-Tuan sekalian, apakah yang saya artikan dengan perkataan “merdeka”.

“Merdeka” buat saya adalah political independence, politieke onafhankelijkheid (kemerdekaan politik, dalam bahasa Inggris dan Belanda-Ed.). Apakah yang dinamakan politieke onafhankelijkheid?

Tuan-tuan sekalian! Dengan terus-terang saja saya berkata: Tatkala Dokuritsu Zyunbi Tyoosakai akan bersidang, maka saya, di dalam hati saya banyak khawatir, kalau-kalau banyak anggota yang – saya katakan di dalam bahasa asing, maafkan perkataan ini – zwaarwichtig (seolah-olah amat berat, dalam bahasa Belanda-Ed.) akan perkara-perkara kecil. Zwaarwichtig sampai – kata orang Jawa – jelimet (dengan teliti, rinci dan lengkap, dalam bahasa Jawa-Ed.). Jikalau sudah membicarakan hal yang kecil-kecil sampai jelimet, barulah mereka berani menyatakan kemerdekaan.

Tuan-tuan yang terhormat! Lihatlah di dalam sejarah dunia, lihatlah kepada perjalanan dunia itu.

Banyak sekali negara-negara yang merdeka, tetapi bandingkanlah kemerdekaan negara-negara itu satu sama lain! Samakah isinya, samakah derajatnya negara-negara yang merdeka itu? Jermania merdeka, Saudi Arabia merdeka, Iran merdeka, Tiongkok merdeka, Nippon merdeka, Amerika merdeka, Inggris merdeka, Rusia merdeka, Mesir merdeka. Namanya semuanya merdeka, tetapi bandingkanlah isinya!

Alangkah bedanya isi itu! Jikalau kita berkata: Sebelum negara merdeka, maka harus lebih dahulu ini selesai, itu selesai, itu selesai sampai jelimet, maka saya bertanya kepada Tuan-tuan sekalian kenapa Saudi Arabia merdeka, padahal 80 persen dari rakyatnya terdiri dari kaum Badui, yang sama sekali tidak mengerti akan hal ini atau itu.

Bacalah buku Armstrong yang menceriterakan tentang Ibn Saud! Di situ ternyata, bahwa tatkalah Ibn Saud mendirikan pemerintahan Saudi Arabia, rakyat Arabia sebagian besar belum mengetahui bahwa otomobil perlu minum bensin. Pada suatu hari otomobil Ibn Saud dikasih makan gandum oleh orang-orang Badui di Saudi Arabia itu! Toh Saudi Arabia merdeka!

Lihatlah pula – jikalau Tuan-tuan kehendaki contoh yang lebih hebat – Sovyet Rusia! Pada masa Lenin mendirikan Negara Sovyet, adakah rakyat Sovyet sudah cerdas? Seratus lima puluh milyun rakyat Rusia adal rakyat Musyik (golongan yang percaya adanya Tuhan, tetapi tak menganut suatu agama-Ed.) yang lebih dari 80 persen tidak dapat membaca dan menulis; bahkan dari buku-buku yang terkenal dari Leo Tolstoi dan Fulop Miller, Tuan-tuan mengetahui betapa keadaan rakyat Sovyet Rusia pada waktu Lenin mendirikan negara Sovyet itu. Dan kita sekarang di sini mau mendirikan Negara Indonesia Merdeka. Terlalu banyak macam-macam soal kita kemukakan!

Maaf, Paduka Tuan Zimukyokutyoo (Kepala Kantor Tata Usaha untuk Lembaga Tinggi, dalam bahasa Jepang, yang berada di bawah pemerintah militer Jepang untuk mengurus persiapan sidang-sidang BPUPKI-Ed.)! Berdirilah saya punya bulu, kalau saya membaca Tuan punya surat, yang minta kepada kita supaya dirancangkan sampai jelimet hal ini dan itu dahulu semuany! Kalau benar semua hal ini harus diselesaikan lebih dulu, sampai jelimet, maka saya tidak akan mengalami Indonesia Merdeka, Tuan tidak akan mengalami Indonesia Merdeka, kita semuanya tidak akan mengalami Indonesia Merdeka… sampai di lubang kubur!

(Tepuk tangan riuh)

Saudara-saudara! Apakah yang dinamakan merdeka? Di dalam tahun 1933 saya telah menulis satu risalah. Risalah yang bernama Mencapai Indonesia Merdeka. Maka di dalam risalah tahun 1933 itu, telah saya katakan, bahwa kemerdekaan, politieke onafhkelijkheid, political independence, tak lain dan tak bukan, ialah satu jembatan, satu jembatan emas. Saya katakan di dalam kitab itu, bahwa di seberangnya jembatan itulah kita sempurnakan kita punya masyarakat.

Ibn Saud mengadakan satu negara di dalam satu malam – in one night only – kata Armstrong di dalam kitabnya. Ibn Saud mendirikan Saudi Arabia Merdeka di satu malam sesudah ia masuk kota Riyadh dengan 6 orang! Sesudah “jembatan” itu diletakkan Ibn Saud, maka di seberang jembatan – artinya kemudian dari pada itu – Ibn Saud barulah memperbaiki masyarakat Saudi Arabia. Orang yang tidak dapat membaca diwajibkan belajar membaca, orang yang tadinya bergelandangan sebagai nomade (suku yang berpindah-pindah tempat, atau pengembara, dalam bahasa Belanda-Ed.), yaitu orang Badui, diberi pelajaran oleh Ibn Saud jangan bergelandangan, dikasih tempat untuk bercocok-tanam. Nomade dirubah lagi oleh Ibn Saud menjadi kaum tani – semuanya di seberang jembatan.

Adakah Lenin ketika dia mendirikan negara Sovyet-Rusia Merdeka telah mempunyai Dneprprostoff, dam yang maha besar di sungai Dnepr? Apa ia telah mempunyiai radio-station, yang menyundul ke angkasa? Apa ia tel mempunyai kereta-kereta api cukup, untuk meliputi seluruh negara Rusia? Apakah tiap-tiap orang Rusia pada waktu Lenin mendirikan Sovyet-Rusia Merdeka telah dapat membaca dan menulis? Tidak, Tuan-tuan yang terhormat! Di seberang jembatan emas yang diadakan oleh Lenin itulah, Lenin baru mengadakan radio-station, baru mengadakan sekolahan, baru mengadakan creche (tempat penitipan bayi dan anak-anak pada waktu orangtua bekerja-Ed.), baru mengadakan Dneprprostoff! Maka oleh karena itu saya minta kepada Tuan-tuan sekalian, janganlah Tuan-tuan gentar di dalam hati, janganlah mengingat bahwa ini dan itu lebih dulu harus selesai dengan jelimet, dan kalau sudah selesai, baru kita dapat merdeka. Alangkah berlainannya Tuan-tuan punya semangat – jikalau Tuan-tuan demikian – dengan semangat pemuda-pemuda kita yang 2 milyun banyaknya. Dua milyun ini menyampaikan seruan pada saya, 2 milyun pemuda ini semua berhasra Indonesia Merdeka sekarang!

(Tepuk tangan-riuh)

Saudara-saudara, kenapa kita sebagai pemimpin rakyat, yang mengetahui sejarah, menjadi zwaarwichtig, menjadi gentar, padahal semoboyan Indonesia Merdeka bukan sekarang saja kita siarkan? Berpuluh-puluh tahun yang lalu, kita telah menyiarkan semboyan Indonesia Merdeka, bahkan sejak tahun 1932 dengan nyata-nyata kita mempunyai semboyan “INDONESIA MERDEKA SEKARANG”. Bahkan 3 kali sekarang, yaitu Indonesia Merdeka sekarang, sekarang, sekarang!

(Tepuk tangan-riuh)

Dan sekarang kita menghadapi kesempatan untuk menyusun Indonesia Merdeka, kok lantas kita zwaarwichtig dan gentar-hati! Saudara-saudara, saya peringatkan sekali lagi, Indonesia Merdeka, political independence, politieke onafhankelijkheid, tidak lain dan tidak bukan ialah satu jembatan! Jangan gentar!

Jikalau umpamanya kita pada saat sekarang ini diberikan kesempatan oleh Dai Nippon (Kekaisaran Jepang Raya-Ed.) untuk merdeka, maka dengan mudah Gunseik-kan (Kepala Pemerintahan Militer Tentara Pendudukan Jepang-Ed.) diganti dengan orang yang bernama Tjondro Asmoro, atau Soomubutyoo (Kepala Departemen Urusan Umum-Ed.) diganti dengan orang yang bernama Abdul Halim. Jikalau umpamanya Butyoo-Butyoo (Kepala Departemen-Ed.) diganti dengan orang-orang Indonesia, pada sekarang ini, sebenarnya kita telah mendapat political independence, politieke onafhankelijkheid – in one night, di dalam satu malam!

Saudara-saudara, pemuda-pemuda yang 2 milsiyun, semuanya bersemboyan: Indonesia Merdeka, sekarang! Jikalau umpamanya Balatentara Dai Nippon, sekarang menyerahkan urusan negara kepada Saudara-saudara, apakah Saudara-saudara akan menolak, serta berkata: mangke rumiyin – tunggu dulu – minta ini dan itu selesai dulu, baru kita berani menerima urusan negara Indonesia Merdeka?

(Seruan: Tidak! Tidak!)

Saudara-saudara, kalau umpamanya pada saat sekarang ini Balatentara Dai Nippon menyerahkan urusan negara kepada kita, maka satu menit pun kita tidak akan menolak, sekarang pun kita menerima urusan itu, sekarang pun kita mulai dengan negara Indonesia yang Merdeka!

(Tepuk tangan menggemparkan)

Saudara-saudara, tadi saya berkata, ada perbedaan antara Sovyet-Rusia, Saudi Arabia, Inggris, Amerika dan lain-lain, tentang isinya. Tetapi ada satu yang sama, yaitu rakyat Saudi Arabia sanggup mempertahankan negaranya. Musyik-musyik di Rusia sanggup mempertahankan negaranya. Rakyat Amerika sanggup mempertahankan negaranya. Rakyat Inggris sanggup mempertahankan negaranya. Inilah yang menjadi minimum-eis (tuntutan minimum, dalam bahasa Belanda-Ed.). Artinya, kalau ada kecakapan yang lain, tentu lebih baik, tetapi manakala sesuatu bangsa telah sanggup mempertahankan negerinya dengan darahnya sendiri, dengan dagingnya sendiri, pada saat itu bangsa itu telah masak untuk kemerdekaan. Kalau bangsa kita, Indonesia, walaupun dengan bambu runcing, Saudara-saudara, semua siap sedia mati, mempertahankan tanah air kita Indonesia, pada saat itu bangsa Indonesia adalah siap-sedia, masak untuk Merdeka.

(Tepuk tangan riuh)

Cobalah pikirkan hal ini dengan memperbandingkannya dengan manusia. Manusia pun demikian, Saudara-saudara! Ibaratnya, kemerdekaan saya bandingkan dengan perkawinan. Ada yang berani kawin, lekas berani kawin, ada yang takut kawin. Ada yang berkata: Ah, saya belum berani kawin, tunggu dulu gaji 500 gulden. Kalau saya sudah mempunyai rumah gedung, sudah ada permadani, sudah ada lampu listrik, sudah mempunyai tempat tidur yang mentul-mentul (memantul, dalam bahasa Jawa-Ed.), sudah mempunyai meja-kursi yang selengkap-lengkapnya, sudah mempunyai sendok garpu perak satu kaset, sudah mempunyai ini dan itu, bahkan sudah mempunyai kinder-uitzet (pakaian untuk anak-anak, dalam bahasa Belanda-Ed.), barulah saya berani kawin.

Ada orang lain yang berkata: Saya sudah berani kawin kalau saya sudah mempunyai meja satu, kursi empat – yaitu meja mkan, lantas satu zitje (tempat duduk untuk bersantai, dalam bahasa Belanda-Ed.) – lantas satu tempat tidur.

Ada orang yang lebih berani lagi dari itu, yaitu Saudara-saudara Marhaen! Kalau dia sudah mempunyai gubug saja dengans satu tikar, dengan satu periuk: dia kawin. Marhaen dengan satu tikar, satu gubug: kawin. Sang klerk (jurutulis, dalam bahasa Belanda-Ed.) dengan satu meja, empat kursi, satu zitje, satu tempat tidur: Kawin.

Sang Ndoro (atau Bandoro, berarti majikan atau tuan, dalam bahasa Jawa-Ed.) yang mempunyai rumah gedung, electrische-kookplaat (alat masak listrik, dalam bahasa Belanda-Ed.), tempat tidur, uang bertimbun-timbun: Kawin. Belum tentu mana yang lebih gelukkig (berbahagia, dalam bahasa Belanda-Ed.), belum tentu mana yang lebih bahagia, Sang Ndoro dengan tempat tidurnya yang mentul-mentul, atau Sarinem dan Samiun yang hanya mempunyai satu tikar dan satu periuk, Saudara-saudara!

(Tepuk tangan dan tertawa)

Tekad hatinya yang perlu, tekad hatinya Samiun kawin dengan satu tikar dan satu periuk, dan hati Sang Ndoro yang baru berani kawin kalau sudah mempunyai gerozilver (peralatan makan dari perak, dalam bahasa Belanda-Ed.) satu kaset plus kinder-uitzet – buat 3 tahun lamanya!

(Tertawa)

Saudara-saudara, soalnya adalah demikian: Kita ini berani merdeka atau tidak? Inilah, Saudara-saudara sekalian, Paduka Tuan Ketua yang mulia, ukuran saya yang terlebih dulu saya kemukakan sebelum saya bicarakan hal-hal yang mengenai dasarnya satu negara yang merdeka. Saya mendengar uraian Paduka Tuan Soetardjo beberapa hari yang lalu, tatkala menjawab apakah yang dinamakan merdeka, beliau mengatakan: Kalau tiap-tiap orang di dalam hatinya telah merdeka, itulah kemerdekaan. Saudara saudara, jika tiap-tiap orang Indonesia yang 70 milyun ini lebih dulu harus merdeka di dalam hatinya, sebelum kita dapat mencapai political independence… saya ulangi lagi, sampai lebur kiamat kita belum dapat Indonesia Merdeka!

(Tepuk tangan riuh)

Di dalam Indonesia Merdeka itulah kita memerdekakan rakyat kita! Di dalam Indonesia Merdeka itulah kita memerdekakan hatinya bangsa kita! Di dalam Saudi Arabia Merdeka, Ibn Saud memerdekakan rakyat Arabia satu per satu. Di dalam Sovyet-Rusia Merdeka Stalin memerdekakan hati bangsa Sovyet-Rusia satu per satu.

Saudara-saudara! Sebagai juga salah seorang pembicara berkata, kita bangsa Indonesia tidak sehat badan, banyak penyakit malaria, banyak disentri, banyak penyakit hongerudeem (penyakit busung lapar, dalam bahasa Belanda-Ed.), banyak ini banyak itu. “Sehatkan dulu bangsa kita, baru kemudian merdeka.”

Saya berkata, kalau ini pun harus diselesaikan lebih dulu, 20 tahun lagi kita belum merdeka. Di dalam Indonesia Merdeka itulah kita menyatukan rakyat kita, walaupun misalnya tidak dengan kinine, tetapi kita kerahkan segenap masyarakat kita untuk menghilangkan penyakit malaria dengan menanam ketepeng kerbau. Di dalam Indonesia Merdeka kita melatih pemuda kita agar supaya menjadi kuat, di dalam Indonesia Merdeka kita menyehatkan rakyat sebaik-baiknya. Inilah maksud saya dengan perkataan “jembatan”. Di seberang jembatan – jembatan emas – inilah baru kita leluasa menyusun masyarakat Indonesia Merdeka yang gagah, kuat, sehat, kekal dan abadi.

Tuan-tuan sekalian! Kita sekarang menghadapi satu saat yang maha penting. Tidakkah kita mengetahui, sebagaimana telah diutarakan oleh berpuluh-puluh pembicara, bahwa sebenarnya international recht – hukum internasional – menggampangkan pekerjaan kita? Untuk menyusun, mengadakan, mengakui satu negara yang merdeka, tidak diadakan syarat yang neko-neko (macam-macam, dalam bahasa Jawa-Ed.), yang jelimet. Tidak! Syaratnya sekedar bumi, rakyat, pemerintah yang teguh! Ini sudah cukup untuk international recht. Cukup, Saudara-saudara. Asal ada buminya, ada rakyatnya, ada pemerintahnya, kemudian diakui oleh salah satu negara lain yang merdeka, itulah yang sudah bernama: Merdeka. Tidak peduli rakyat dapat baca atau tidak, tidak peduli rakyat hebat ekonominya atau tidak, tidak peduli rakyat bodoh atau pintar, asal menurut hukum internasional mempunyai syarat-syarat suatu negara merdeka, yaitu ada rakyatnya, ada buminya dan ada pemerintahannya – sudahlah ia merdeka.

Janganlah kita gentar, zwaarwichtig, lantas mau menyelesaikan lebih dulu 1001 soal yang bukan-bukan! Sekali lagi saya bertanya: Mau merdeka apa tidak? Mau merdeka apa tidak?

(Jawab hadirin: Mau!)

Saudara-saudara! Sesudah saya bicarakan tentang hal “merdeka”, maka sekarang saya bicarakan tentang hal “dasar”.

Paduka Tuan Ketua yang mulia! Saya mengerti apakah yang Paduka Tuan Ketua kehendaki! Paduka Tuan Ketua minta dasar, minta philosofische grondslag, atau – jikalau kita boleh memakai perkataan yang muluk-muluk – Paduka Tuan Ketua yang mulia meminta suatu Weltanschauung (pandangan hidup, dalam bahasa Jerman-Ed.), di atas mana kita mendirikan negara Indonesia itu.

Kita melihat dalam dunia ini, bahwa banyak negeri-negeri yang merdeka, dan banyak di antara negeri-negeri yang merdeka itu berdiri di atas suatu Weltanschauung. Hitler mendirikan Jermania di atas national sozialistische Weltanschauung – filsafat nasional-sosialisme telah menjadi dasar negara Jermania yang didirikan oleh Adolf Hitler itu. Lenin mendirikan negara Sovyet di atas satu Weltanschauung, yaitu Marxistische, Historisch-Materialistische Weltanschauung. Nippon mendirikan negara Dai Nippon di atas satu Weltanschauung, yaitu yang dinamakan Tenno Koodoo Seishin. Di atas Tenno Koodoo Seishin inilah negara Dai Nippon didirikan. Saudi Arabia, Ibn Saud, mendirikan negara Arabia di atas suatu Weltanschauung – bahkan di atas satu dasar agama – yaitu Islam. Demikian itulah yang diminta oleh Paduka Ketua yang mulia: Apakah Weltanschauung kita, jikalau kita hendak mendirikan Indonesia yang merdeka?

Tuan-tuan sekalian, Weltanschauung ini sudah lama harus kita bulatkan di dalam hati kita dan di dalam pikiran kita, sebelum Indonesia Merdeka datang. Idealis-idealis di seluruh dunia bekerja mati-matian untuk mengadakan bermacam-macam Weltanschauung, bekerja mati-matian untuk me-realiteit-kan Weltanschauung mereka itu. Maka oleh karena itu, sebenarnya tidak benar perkataan anggota yang terhormat Abikoesno, bila beliau berkata, bahwa banyak sekali negara-negara merdeka didirikan dengan isi seadanya saja, menurut keadaan. Tidak! Sebab misalnya, walaupun menurut perkataan John Reed, “Sovyet-Rusia didirikan dalam 10 hari oleh Lenin cs.” – Reed di dalam kitabnya Ten days that shook the world, Sepuluh hari yang menggoncangkan dunia… walaupun Lenin mendirikan Rusia dalam 10 hari, tetapi Weltanschauung-nya telah tersedia berpuluh-puluh tahun. Terlebih dulu telah tersedia Weltanschauung-nya, dan di dalam 10 hari itu hanya sekedar direbut kekuasaan, dan ditempatkan negara baru itu di atas Weltanschauung yang sudah ada. Dari 1895 Weltanschauung itu telah disusun. Bahkan dalam revolusi 1905, Weltanschauung itu “dicobakan”, di-generale-repetitie-kan.

Lenin di dalam revolusi tahun 1905 telah mengerjakan apa yang dikatakan oleh beliau sendiri generale-repetitie dari revolusi tahun 1917. Sudah lama sebelum tahun 1917, Weltanschauung itu disedia-sediakan, bahkan diikhtiar-ikhtiarkan. Kemudan, hanya dalam 10 hari, sebagai dikatakan oleh John Reed… hanya dalam 10 hari itulah didirikan negara baru, direbut kekuasaan, ditaruh kekuasaan itu di atas Weltanschauung yang telah berpuluh-puluh tahun umurnya itu. Tidakkah pula Hitler demikian?

Di dalam tahun 1933 Hitler menaiki singgasana kekuasaan, mendirikan negara Jermania di atas National-sozialistische Weltanschauung.

Tetapi kapankah Hitler mulai menyediakan dia punya Weltanschauung itu? Bukan di dalam tahun 1933, tetapi di dalam tahun 1921 dan 1922 beliau telah bekerja, kemudian mengikhtiarkan pula, agar supaya Naziisme ini – Weltanschauung ini – dapat menjelma dengan dia punya Munchener Putsch, tetapi gagal. Di dalam 1933 barulah datang saatnya beliau dapat merebut kekuasaan dan negara diletakkan oleh beliau di atas dasar Weltanschauung yang telah dipropagandakan berpuluh-puluh tahun itu.

Maka demikian pula, jika kita hendak mendirikan negara Indonesia Merdeka, Paduka Tuan Ketua, timbullah pertanyaan: Apakah Weltanschauung kita, untuk mendirikan negara Indonesia Merdeka di atasnya? Apakah nasional-sosialisme? Apakah historisch-materialisme? Apakah San Min Chu I, sebagai dikatakan oleh Doktor Sun Yat Sen?

Di dalam tahun 1912 Sun Yat Sen mendirikan negara Tiongkok merdeka, tetapi Weltanschauung-nya telah dalam tahun 1885 – kalau saya tidak salah – dipikirkan, dirancangkan. Di dalam buku The Three People’s Principles, San Min Chu I – Mintsu, Minchuan, Min Sheng: Nasionalisme, demokrasi, sosialisme – telah digambarkan oleh Dr. Sun Yat Sen Weltanschauung itu, tetapi baru dalam tahun 1912 beliau mendirikan negara baru di atas Weltanschauung San Min Chu I itu, yang telah disediakan terdahulu berpuluh-puluh tahun.

Kita hendak mendirikan negara Indonesia Merdeka di atas Weltanschauung apa? Nasional-sosialisme-kah? Marxisme-kah? San Min Chu I-kah, atau Weltanschauung apakah?

Saudara-saudara sekalian, kita telah bersidang tiga hari lamanya, banyak pikiran telah dikemukakan – macam-macam – tetapi alangkah benarnya perkataan dr. Soekiman, perkataan Ki Bagoes Hadi-Koesoemo, bahwa kita harus mencari persetujuan, mencari persetujuan paham. Kita bersama-sama mencarai persatuan philosofische grondslag, mencari satu Weltanschauung yang kita semua setuju. Saya katakan lagi “setuju”! Yang Saudara yamin setujui, yang Ki Bagoes setujui, yang Ki Hadjar setujui, yang Saudara Sanoesi setujui, yang Saudara Abikoesno setujui, yang Saudara Liem Koen Hian setujui, pendeknya kita semua mencari satu modus. Tuan Yamin, ini bukan kompromis, tetapi kita bersama-sama mencari satu hal yang kita bersama-sama setujui. Apakah itu?

Pertama-tama, Saudara-saudara, saya bertanya: Apakah kita hendak mendirikan Indonesia Merdeka untuk sesuatu orang, untuk sesuatu golongan? Mendirikan negara Indonesia Merdeka yang namanya saja Indonesia Merdeka, tetapi sebenarnya hanya untuk mengagungkan satu orang, untuk memberi kekuasaan kepada satu golongan yang kaya, untuk memberi kekuasaan pada satu golongan bangsawan?

Apakah maksud kita begitu? Sudah tentu tidak! Baik Saudara-saudara yang bernama kaum Kebangsaan yang di sini, maupun Saudara-saudara yang dinamakan kaum Islam, semuanya telah mufakat, bahwa bukan negara yang demikian itulah yang kita punya tujuan. Kita hendak mendirikan suatu negara “semua buat semua”. Inilah salah satu dasar pikiran yang nanti akan saya kupas lagi. Maka, yang selalu mendengung di dalam saya punya jiwa, bukan saja di dalam beberapa hari di dalam sidang Dokuritsu Zyunbi Tyoosakai ini, akan tetapi sejak tahun 1918… ialah: Dasar pertama, yang baik dijadikan dasar buat negara Indonesia, ialah dasar Kebangsaan.

Kita mendirikan satu Negara Kebangsaan Indonesia.

Saya minta, Saudara Ki Bagoes Hadikoesoemo dan Saudara-saudara Islam lain, maafkanlah saya memakai perkataan “kebangsaan” ini! Saya pun orang Islam. Tetapi saya minta kepada Saudara-saudara, janganlah Saudara-saudara salah paham jikalau saya katakan bahwa dasar pertama buat Indonesia ialah dasar kebangsaan. Itu bukan berarti kebangsaan dalam arti yang sempit, tetapi saya menghendaki satu nationale staat (negara nasional, dalam bahasa Belanda-Ed.), seperti yang saya katakan dalam rapat di Taman Raden Saleh beberapa hari yang lalu. Satu Nationale Staat Indonesia bukan berarti staat yang sempit. Sebagai Saudara Ki Bagoes Hadikoesoemo katakan kemarin, maka Tuan adalah orang bangsa Indonesia, bapak Tuan pun adalah orang Indonesia, nenek moyang Tuan pun bangsa Indonesia. Di atas satu kebangsaan Indonesia, dalam arti yang dimaksudkan oleh Saudara Ki Bagoes Hadikoesoemo itulah, kita dasarkan negara Indonesia.

Satu Nationale Staat! Hal ini perlu diterangkan lebih dahulu, meski saya di dalam rapat besar di Taman Raden Saleh sedikit-sedikit telah menerangkannya. Marilah saya uraikan lebih jelas dengan mengambil tempo sedikit: Apakah yang dinamakan bangsa? Apakah syaratnya bangsa?

Menurut Renan (Ernest Renan, pemikir orientalis Perancis-Ed.), syarat bangsa ialah “kehendak akan bersatu”. Perlu orang-orangnya merasa diri bersatu dan mau bersatu.

Ernest Renan menyebut syarat bangsa: le desir d’etre ensemble, yaitu kehendak akan bersatu. Menurut definisi Ernest Renan, maka yang menjadi bangsa, yaitu gerombolan manusia yang mau bersatu, yang merasa dirinya bersatu.

Kalau kita lihat definisi orang lain – yaitu definisi Otto Bauer (pemikir dan teoritikus Partai Sosial Demokrat Austria-Ed.) – di dalam bukunya, Die Nationalitatenfrage, di situ ditanyakan: Was ist eine Nation? Dan dijawabnya ialah: Eine Nation ist eine aus Schiksalsgemeinschaft erwachsene Charaktergemeinschaft (bangsa adalah satu persatuan perangai yang timbul karena persatuan nasib-Ed.). Inilah menurut Otto Bauer satu natie.

Tetapi kemarin pun, tatkala – kalau tidak salah – Prof. Soepomo mensitir Ernest Renan, maka anggota yang terhormat Mr.Yamin berkata: Verouderd! Sudah tua! Memang Tuan-tuan sekalian, definisi Ernest Renan sudah verouderd, sudah tua. Definisi Otto Bauer pun sudah tua. Sebab tatkala Ernest Renan mengadakan definisinya itu, tatkala Otto Bauer mengadakan definisinya itu, tatkala itu belum timbul satu wetenschap baru, satu ilmu baru, yang dinamakan geo-politik.

Kemarin – kalau tidak salah – Saudara Ki Bagoes Hadikoesoemo, atau Tuan Moenandar, mengatakan tentang “persatuan antara orang dan tempat”. Persatuan antara orang dan tempat, Tuan-tuan sekalian, persatuan antara manusia dan tempatnya!

Orang dan tempat tidak dapat dipisahkan! Tidak dapat dipisahkan rakyat dari bumi yang ada di bawah kakinya. Ernest Renan dan Otto Bauer hanya sekedar melihat orangnya. Mereka hanya memikirkan Gemeinschaft-nya (persamaan atau persatuannya, dalam bahasa Jerman-Ed.) dan perasaan orangnya, l’ame et le desir (jiwa dan kehendaknya, dalam bahasa Perancis-Ed.) Mereka hanya mengingat karakter, tidak mengingat tempat, tidak mengingat bumi, bumi yang didiami manusia itu. Apakah tempat itu? Tempat itu yaitu tanah air. Tanah air itu adalah satu kesatuan. Allah s.w.t membuat peta dunia, menyusun peta dunia. Kalau kita melihat peta dunia, kita dapat menunjukkan di mana “kesatuan-kesatuan” di situ. Seorang anak kecil pun – jikalau ia melihat peta dunia – ia dapat menunjukkan bahwa kepulauan Indonesia merupakan satu kesatuan. Pada peta itu dapat ditunjukkan satu kesatuan gerombolan pulau-pulau di antara 2 lautan yang besar, Lautan Pasifik dan Lautan Hindia, dan di antara 2 benua, yaitu Benua Asia dan Benua Australia. Seorang anak kecil dapat mengatakan, bahwa pulau-pulau Jawa, Sumatera, Borneo, Selebes, Halmahera, Kepulauan Sunda Kecil, Maluku dan lain-lain pulau kecil di antaranya, adalah satu kesatuan. Demikan pula tiap-tiap anak kecil dapat melihat pada peta bumi, bahwa pulau-pulau Nippon yang membentang pada pinggir timur Benua Asia sebagai golfbreker atau penghadang gelombang lautan Pasifik, adalah satu kesatuan.

Anak kecil pun dapat melihat, bahwa tanah India adalah satu kesatuan di Asia Selatan, dibatasi oleh Lautan Hindia yang luas dan Gunung Himalaya. Seorang anak kecil pula dapat mengatakan, bahwa kepulauan Inggris adalah satu kesatuan.

Griekenland atau Yunani dapat ditunjukkan sebagai satu kesatuan pula. Itu ditaruhkan oleh Allah SWT demikian rupa. Bukan Sparta saja, bukan Athena saja, bukan Macedonia saja, tetapi Sparta plus Athena plus Macedonia plus daeraha Yunani yang lain-lain – segenap kepulauan Yunani – adalah satu kesatuan.

Maka manakah yang dinamakan tanah tumpah darah kita, tanah air kita? Menurut geopolitik, maka Indonesialah tanah air kita. Indonesia yang bulat – bukan Jawa saja, bukan Sumatera saja, atau Borneo saja, atau Selebes saja, atau Ambon saja, atau Maluku saja, tetapi segenap kepulauan yang ditunjuk oleh Allah SWT menjadi suatu kesatuan antara dua benua dan dua samudera – itulah tanah air kita!

Maka jikalau saya ingat perhubungan antara orang dan tempat – antara rakyat dan buminya – maka tidak cukuplah definisi yang dikatakan Ernest Renan dan Otto Bauer itu. Tidak cukup le desir d’etre ensemble, tidak cukup definisi Otto Bauer aus Schiksalsgemeinschaft erwachsene Charaktergemeinschaft itu.

Maaf, Saudara-saudara, saya mengambil contoh Minangkabau. Di antara bangsa Indonesia, yang paling ada le desir d’etre ensemble adalah rakyat Minangkabau, yang banyaknya kira-kira 2 milyun.Rakyat ini merasa dirinya satu keluarga. Tetapi Minangkabau bukan satu kesatuan, melainkan hanya satu bagian kecil dari satu kesatuan! Penduduk Yogya pun adalah merasa le desir d’etre ensemble, tetapi Yogya pun hanya satu bahagian kecil dari satu kesatuan. Di Jawa Barat rakyat Pasundan sangat merasakan le desir d’etre ensemble, tetapi Sunda pun haya satu bagian kecil dari satu kesatuan.

Pendek kata, bangsa Indonesia – Natie Indonesia – bukanlah sekadar contoh satu golongan orang yang hidup dengan le desir d’etre ensemble di atas daerah yang kecil seperti Minangkabau, atau Madura, atau Yogya, atau Sunda, atau Bugis, tetapi bangsa Indonesia ialah seluruh manusia-manusia yang menurut geopolitik, yang telah ditentukan oleh Allah SWT, tinggal di kesatuannya semua pulau-pulau Indonesia dari ujung Utara Sumatera sampai ke Irian! Seluruhnya! Karena antara 70.000.000 ini sudah ada le desir d’etre ensemble, sudah terjadi Charaktergemeinschaft! Natie Indonesia, bangsa Indonesia, umat Indonesia jumlah orangnya adalah 70.000.000, tetapi 70.000.000 yang telah menjadi satu, satu, sekali lagi satu!

(Tepuk tangan hebat)

Ke sinilah kita semua harus menuju: Mendirikan satu Nationale Staat, di atas kesatuan bumi Indonesia dari ujung Sumatera sampai ke Irian. Saya yakin tidak ada satu golongan di antara Tuan-tuan yang tidak mufakat, baik Islam maupun golongan yang dinamakan “golongan kebangsaan”. Ke sinilah kita harus menuju semuanya.

Saudara-saudara, jangan mengira, bahwa tiap-tiap negara merdeka adalah satu nationale staat! Bukan Pruisen, bukan Bayern, bukan Saksen (kerajaan lama di Jerman, lebih dikenal sebagai Prusia, Bavaria dan Saxony-Ed.) adalah nationale staat, tetapi seluruh Jermania-lah satu nationale staat. Bukan bagian kecil-kecil, bukan Venetia, bukan Lombardia, tetapi seluruh Italia-lah – yaitu seluruh semenanjung di Laut Tengah, yang di utara dibatasi oleh pengunungan Alpen – adalah nationale staat. Bukan Benggala, bukan Punjab, bukan Bihar dan Orissa, tetapi seluruh segitiga India-lah nanti harus menjadi nationale staat.

Demikian pula bukan semua negeri-negeri di tanah air kita yang merdeka di jaman dahulu adalah nationale staat. Kita hanya 2 kali mengalami nationale staat, yaitu di zaman Sriwijaya dan zaman Majapahit. Di luar itu kita tidak mengalami nationale staat. Saya berkata dengan penuh hormat kepada kita punya raja-raja dahulu, saya berkata dengan beribu-ribu hormat kepada Sultan Agung Hanyokrokoesoemo, bahwa Mataram – meskipun merdeka – bukan nationale staat. Dengan perasaan hormat kepada Prabu Siliwangi di Pajajaran, saya berkata bahwa kerajaannya bukan nationale staat. Dengan perasaan hormat kepada Prabu Sultan Agung Tirtayasa, saya berkata, bahwa kerajaannya di Banten – meskipun merdeka – bukan suatu nationale staat. Dengan perasaan hormat kepada Sultan Hasanuddin di Sulawesi yang telah membentuk kerajaan Bugis, saya berkata, bahwa tanah Bugis yang merdeka itu bukan nationale staat.

Nationale staat hanya Indonesia seluruhnya, yang telah berdiri di zaman Sriwijaya dan Majapahit dan yang kini pula kita harus dirikan bersama-sama. Karena itu, jikalau Tua-tuan terima baik, marilah kita mengambil dasar Negara yang pertama: Kebangsaan Indonesia.

Kebangsaan Indonesia yang bulat! Bukan kebangsaan Sumatera, bukan kebangsaan Borneo, Sulawesi, Bali atau lain-lain, tetapi kebangsaan Indonesia, yang bersama-sama menjadi dasar satu nationale staat.

Maaf, Tuan Liem Koen Hian. Tuan tidak mau akan kebangsaan? Di dalam pidato Tuan, waktu ditanya sekali lagi oleh Paduka Tuan Fuku Kaityoo (Wakil Ketua, maksudnya Soeroso-Ed.), Tuan menjawab: “Saya tidak mau akan kebangsaan.”

(Liem Koen Hian menanggapi: “Bukan begitu. Ada sambungannya lagi.”)


Kalau begitu, maaf, dan saya mengucapkan terima kasih, karena Tuan Liem Koen Hian pun menyetujui dasar kebangsaan. Saya tahu, banyak juga orang-orang Tionghoa klasik yang tidak mau akan dasar kebangsaan, karena mereka memeluk paham kosmopolitanisme, yang mengatakan tidak ada kebangsaan, tidak ada bangsa. Bangsa Tionghoa dahulu banyak yang kena penyakit kosmopolitanisme, sehingga mereka berkata bahwa tidak ada bangsa Tionghoa, tidak ada bangsa Nippon, tidak ada bangsa India, tidak ada bangsa Arab, tetapi semuanya menschheid – perikemanusiaan!

Tetapi Dr. Sun Yat Sen bangkit, memberi pengajaran kepada rakyat Tionghoa, bahwa ada kebangsaan Tionghoa! Saya mengaku, pada waktu saya berumur 16 tahun, duduk di bangku sekolah HBS di Surabaya, saya dipengaruhi oleh seorang sosialis yang bernama A. Baars, yang memberi pelajaran kepada saya. Katanya: “Jangan berpaham kebangsaan, tetapi berpahamlah rasa kemanusiaan sedunia, jangan mempunyai rasa kebangsaan sedikit pun.” Itu terjadi pada tahun ‘17. Tetapi pada tahun 1918, alhamdulillah, ada orang lain yang memperingatkan saya, ialah Dr. Sun Yat Sen! Di dalam tulisannya, San Min Chu I atau The Three People’s Principles, saya mendapat pelajaran yang membongkar kosmopolitanisme yang diajarkan oleh Baars itu. Dalam hati saya sejak itu, tertanamlah rasa kebangsaan oleh pengaruh The Three People’s Principles itu. Maka oleh karena itu, jikalau seluruh bangsa Tionghoa menganggap Dr. Sun Yat Sen sebagai penganjurnya, yakinlah bahwa Bung Karno juga seorang Indonesia yang dengan perasaan hormat, sehormat-hormatnya, merasa berterima kasih kepada Dr. Sun Yat Sen – sampai masuk ke lobang kubur.

(Anggota-anggota Tionghoa bertepuk tangan)

Saudara-saudara! Tetapi… tetapi… memang prinsip kebangsaan ini ada bahayanya! Bahayanya ialah mungkin orang-orang meruncingkan nasionalisme menjadi chauvinisme (nasionalisme yang berlebihan, ekstrem-Ed.), sehingga berpaham “Indonesia uber Alles (Indonesia di atas semua bangsa-Ed.).” Inilah bahayanya! Kita cinta tanah air yang satu, merasa berbangsa satu, mempunyai bahasa yang satu. Tetapi Tanah Air kita Indonesia hanya satu bagian kecil saja dari dunia! Ingatlah akan hal ini!

Gandhi berkata: “Saya seorang nasionalis, tetapi kebangsaan saya adalah perikemanusiaan. My nationalism is humanity.”

Kebangsaan yang kita anjurkan bukan kebangsaan yang menyendiri, bukan chauvinisme, sebagai dikobar-kobarkan orang di Eropa, yang mengatakan Deutschland uber Alles. Tidak ada yang setinggi Jermania, yang katanya bangsanya minulyo, berambut jagung dan bermata biru – bangsa Arya – yang dianggapnya tertinggi di atas dunia, sedang bangsa lain tidak ada harganya. Jangan kita berdiri di atas asas demikian, Tuan-Tuan. Jangan berkata, bahwa bangsa Indonesia-lah yang terbagus dan termulia, serta meremehkan bangsa lain. Kita harus menuju persatuan dunia, persaudaraan dunia.

Kita bukan saja harus mendirikan negara Indonesia Merdeka, tetapi kita harus menuju pula kepada kekeluargaan bangsa-bangsa.

Justru inilah prinsip yang kedua. Inilah philosofische princiep yang nomor dua, yang saya usulkan kepada Tuan-tuan, yang boleh saya namakan internasionalisme. Tetapi jikalau saya katakan internasionalisme, bukanlah saya bermaksud kosmopolitanisme, yang tidak mau adanya kebangsaan, yang mengatakan tidak ada Indonesia, tidak ada Nippon, tidak ada Birma, tidak ada Inggris, tidak ada Amerika, dan lain-lainnya.

Internasionalisme tidak dapat hidup subur, kalau tidak berakar di dalam buminya nasionalisme. Nasionalisme tidak dapat hidup subur, kalau tidak hidup di dalam taman sarinya internasionalisme. Jadi, dua hal ini, Saudara-saudara, prinsip 1 dan prinsip 2 – yang pertama-tama saya usulkan kepada Tuan-tuan sekalian – adalah bergandengan erat satu sama lain.

Kemudian, apakah dasar yang ke-3? Dasar itu ialah dasar mufakat, dasar perwakilan, dasar permusyawaratan. Negara Indonesia bukan satu negara untuk satu orang, bukan satu negara untuk satu golongan, walaupun golongan kaya. Tetapi kita mendirikan negara “semua buat semua”, “satu buat semua, semua buat satu”. Saya yakin, bahwa syarat yang mutlak untuk kuatnya negara Indonesia ialah permusyawaratan, perwakilan.

Untuk pihak Islam, inilah tempat yang terbaik untuk memelihara agama. Kita, saya pun, adalah orang Islam – maaf beribu-ribu maaf, keislaman saya jauh belum sempurna – tetapi kalau Saudara-saudara membuka saya punya dada, dan melihat saya punya hati, Tuan-tuan akan dapati tidak lain tidak bukan hati Islam. Dan hati Islam Bung Karno ini, ingin membela Islam dalam mufakat, dalam permusyawaratan. Dengan cara mufakat, kita perbaiki segala hal, juga keselamatan agama, yaitu dengan jalan pembicaraan atau permusyawaratan di dalam Badan Perwakilan Rakyat. Apa-apa yang belum memuaskan, kita bicarakan di dalam permusyawaratan.

Badan perwakilan, inilah tempat kita untuk mengemukakan tuntutan-tuntutan Islam. Di sinilah kita usulkan kepada pemimpin-pemimpin rakyat, apa-apa yang kita rasa perlu bagi perbaikan. Jikalau memang kita rakyat Islam, marilah kita bekerja sehebat-hebatnya, agar supaya sebagian yang terbesar daripada kursi-kursi badan perwakilan rakyat yang kita adakan, diduduki oleh utusan-utusan Islam. Jikalau memang rakyat Indonesia rakyat yang bagian besarnya rakyat Islam, dan jikalau memang Islam di sini agama yang hidup berkobar-kobar di dalam kalangan rakyat, marilah kita pemimpin-pemimpin menggerakkan segenap rakyat itu, agar supaya mengerahkan sebanyak mungkin utusan-utusan Islam ke dalam badan perwakilan ini. Ibaratnya badan perwakilan rakyat 100 orang anggotanya, marilah kita bekerja, bekerja sekeras-kerasnya, agar supaya 60, 70, 80, 90 utusan yang duduk dalam perwakilan rakyat ini orang Islam, pemuka-pemuka Islam. Dengan sendirinya hukum-hukum yang keluar dari badan perwakilan rakyat itu, hukum Islam pula.

Malahan saya yakin, jikalau hal yang demikian itu nyata terjadi, barulah boleh dikatakan bahwa agama Islam benar-benar hidup di dalam jiwa rakyat, sehingga 60 persen, 70 persen, 80 persen, 90 persen utusan adalah orang Islam, pemuka-pemuka Islam, ulama-ulama Islam. Maka saya berkata, baru jikalau demikian, baru jikalau demikian, hiduplah Islam Indonesia, dan bukan hanya Islam yang hanya di atas bibir saja. Kita berkata, 90 persen daripada kita beragama Islam, tetapi lihatlah di dalam sidang ini berapa persen yang memberikan suaranya kepada Islam? Maaf beribu maaf, saya tanya hal itu! Bagi saya hal itu adalah satu bukti, bahwa Islam belum hidup sehidup-hidupnya di dalam kalangan rakyat. Oleh karena itu, saya minta kepada Saudara-saudara sekalian – baik yang bukan Islam, maupun terutama yang Islam – setujuilah prinsip nomor 3 ini, yaitu prinsip permusyawaratan, perwakilan.

Dalam perwakilan nanti ada perjuangan sehebat-hebatnya. Tidak ada satu staat yang hidup betul, betul hidup, jikalau di dalam badan perwakilannya tidak seakan-akan bergolak mendidih kawah Candaradimuka, kalau tidak ada perjuangan paham di dalamnya. Baik di dalam staat Islam, maupun di dalam staat Kristen, perjuangan selamanya ada. Terimalah prinsip nomor 3, prinsip mufakat, prinsip perwakilan rakyat!

Di dalam perwakilan rakyat Saudara-saudara Islam dan Saudara-saudara Kristen bekerjalah sehebat-hebatnya. Kalau misalnya orang Kristen ingin bahwa tiap-tiap letter (huruf, dalam bahasa Inggris-Ed.) di dalam peraturan-peraturan negara Indonesia harus menurut Injil, bekerjalah mati-matian, agar supaya, sebagian besar dari utusan-utusan yang masukn badan perwakilan Indonesia ialah orang Kristen. Itu adil, fair play! (permainan yang jujur, dalam bahasa Inggris-Ed.). Tidak ada negara boleh dikatakan negara hidup, kalau tidak ada perjuangan di dalamnya. Jangan kira di Turki tidak ada perjuangan. Jangan kira dalam negara Nippon tidak ada pergeseran pikiran. Allah subhanahu wa ta’ala memberi pikiran kepada kita, agar supaya dalam pergaulan sehari-hari, kita selalu bergosok, seakan-akan menumbuk membersihkan gabah, supaya keluar daripadanya beras, dan beras itu akan menjadi nasi Indonesia yang sebaik-baiknya. Terimalah Saudara-saudara prinsip nomor 3, yaitu prinspi permusyawaratan!

Prinsip nomor 4, sekarang saya usulkan. Saya di dalam 3 hari ini belum mendengarkan prinsip itu, yaitu prinsip kesejahteraan, prinsip tidak akan ada kemiskinan di dalam Indonesia Merdeka. Saya katakan tadi: Prinsipnya San Min Chu I ialah Mintsu, Min Chuan, Min Sheng: Nationalism, Democracy, Sosialism. Maka prinsip kita harus: Apakah kita mau Indonesia Merdeka, yang kaum kapitalnya merajalela, ataukah yang semua rakyatnya sejahtera, yang semua orang cukup makan, cukup pakaian, hidup dalam kesejahteraan, merasa dipangku oleh Ibu Pertiwi yang cukup memberi sandang-pangan kepadanya? Mana yang kita pilih, Saudara-saudara? Jangan Saudara kira, bahwa kalau Badan Perwakilan Rakyat sudah ada, kita dengan sendirinya sudah mencapai kesejahteraan ini. Kita sudah lihat, di negara-negara Eropa adalah Badan Perwakilan, adalah parlementaire demoratie. Tetapi tidakkah di Eropa justru kaum kapitalis merajalela?

Di Amerika ada suatu Badan Perwakilan Rakyat, dan tidakkah di Amerika kaum kapitalis merajalela? Tidakkah di seluruh benua Barat kaum kapitalis merajalela? Padahal ada badan perwakilan rakyat! Tak lain tak bukan sebabnya, ialah oleh karena badan-badan perwakilan yang diadakan di sana itu, sekedar menurut resepnya Fransche Revolutie (Revolusi Perancis, dalam bahasa Belanda-Ed.). Tak lain tak bukan adalah yang dinamakan demokrasi di sana itu hanyalah politieke demoratie saja; semata-mata tidak ada sociale rechtvaardigheid – tidak ada keadilan sosial, tak ada economische democratie sama sekali.

Saudara-saudara, saya ingat akan kalimat seorang pemimpin Perancis, Jean Jaures yang menggambarkan politieke demoratie. “Di dalam parlementaire demoratie,” kata Jean Jaures, “tiap-tiap orang mempunyai hak sama. Hak politik yang sama, tiap-tiap orang boleh memilih, tiap-tiap orang boleh masuk dalam parlemen. Tetapi adakah sociale rechtvaardigheid, adakah kenyataan kesejahteraan di kalangan rakyat?”

Maka oleh karena itu Jean Jaures berkata lagi: “Wakil kaum buruh yang mempunyai hak politik itu, di dalam Parlemen dapat menjatuhkan minister (menteri, dalam bahasa Belanda dan Inggris-Ed.). Ia seperti raja. Tetapi di dalam dia punya tempat bekerja – di dalam pabrik – sekarang ia menjatuhkan minister, besok dia dapat dilempar ke luar jalan raya, dibikin werloos (menganggur, dalam bahasa Belanda-Ed.), tidak dapat makan suatu apa.”

Adakah keadaan yang demikian ini yang kita kehendaki?

Saudara-saudara, saya usulkan: Kalau kita mencari demokrasi, hendaknya bukan demokrasi Barat, tetapi permusyawaratan yang memberi hidup, yakni politiek-economische democratie yang mampu mendatangkan kesejahteraan sosial! Rakyat Indonesia sudah lama bicara tentang hal ini. Apakah yang dimaksud dengan Ratu Adil? Yang dimaksud dengan paham Ratu-Adil, ialah sociale rechtvaardigheid. Rakyat ingin sejahtera. Rakyat yang tadinya merasa dirinya kurang makan, kurang pakaian, menciptakan dunia baru yang di dalamnya ada keadilan, di bawah pimpinan Ratu Adil. Maka oleh karena itu, jikalau kita memang betul-betul mengerti, mengingat, mencinta rakyat Indonesia, marilah kita terima prinsip hal sociale rechtvaardigheid ini, yaitu bukan saja persamaan politik, Saudara-saudara, tetapi pun di atas lapangan ekonomi kita harus mengadakan persamaan, artinya kesejahteraan bersama yang sebaik-baiknya.

Saudara-saudara, badan permusyawaratan yang akan kita buat, hendaknya bukan bada permusyawaratan politieke democratie saja, tetapi badan yang bersama dengan masyarakat dapat mewujudkan dua prinsip: politieke rechtvaardigheid dan sociale rechtvaardigheid (keadilan politik dan keadilan sosial, dalam bahasa Belanda-Ed.).

Kita akan bicrakan hal ini bersama-sama, Saudara-Saudara, di dalam badan permusyawaratan. Saya ulangi lagi, segala hal akan kita selesaikan, segala hal! Juga di dalam urusan Kepala Negara, saya terus terang, saya tidak akan memilih monarki. Apa sebab? Oleh karena monarki vooronderstelt erfe-lijkheid (pewarisan yang sudah diketahui terlebih dahulu, dalam bahasa Belanda-Ed.). Turun-temurun. Saya orang Islam, saya demokrat karena saya orang Islam, saya menghendaki mufakat, maka saya minta supaya tiap-tiap kepala negara pun dipilih. Tidakkah agama Islam mengatakan bahwa kepala-kepala negara, baik kalif, maupun Amirul mu’minin, harus dipilih oleh rakyat? Tiap-tiap kali kita mengadakan kepala negara, kita pilih. Jikalau pada suatu hari Ki Bagoes Hadikoesoemo misalnya, menjadi Kepala Negara Indonesia, dan mangkat, meninggal dunia, janganlah anaknya Ki Hadikoesoemo dengan sendirinya – dengan otomatis – menjadi pengganti Ki Hadikoesoemo. Maka oleh karena itu, saya tidak mufakat kepada prinsip monarki itu.

Saudara-saudara, apakah prinsip ke-5? Saya telah mengemukakan 4 prinsip:

1. Kebangsaan Indonesia

2. Internasionalisme atau perikemanusiaan

3. Mufakat atau demokrasi

4. Kesejahteraan sosial.

Prinsip yang kelima hendaknya: Menyusun Indonesia Merdeka dengan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa.

Prinsip Ketuhanan! Bukan saja bangsa Indonesia bertuhan, tetapi masing-masing orang Indonesia hendaknya bertuhan Tuhannya sendiri. Yang Kristen menyembah Tuhan menurut petunjuk Isa al Masih, yang Islam bertuhan menurut petunjuk Nabi Muhammad SAW, orang Buddha menjalankan ibadatnya menurut kitab-kitab yang ada padanya. Tetapi marilah kita semuanya bertuhan. Hendaknya negara Indonesia ialah negara yang tiap-tiap orangnya dapat menyembah Tuhannya dengan cara yang leluasa. Segenap rakyat hendaknya bertuhan secara kebudayaan, yakni tiada “egoisme agama”. Dan hendaknya Negara Indonesia satu Negara yang bertuhan!

Marilah kita amalkan, jalankan agama, baik Islam, maupun Kristen, dengan cara yang berkeadaban. Apakah cara yang berkeadaban itu? Ialah hormat-menghormati satu sama lain.

(Tepuk tangan sebagian hadirin)

Nabi Muhammad SAW telah memberi bukti yang cukup tentang verdraagzaamheid (sifat dapat memahami pendapat yang lain, dalam bahasa Belanda-Ed.), tentang menghormati agama-agama lain, Nabi Isa pun telah menunjukkan verdraagzaamheid itu. Marilah kita di dalam Indonesia Merdeka yang kita susun ini – sesuai dengan itu – menyatakan: Bahwa prinsip kelima dari Negara kita, ialah Ketuhanan yang berkebudayaan, Ketuhanan yang berbudi pekerti yang luhur, Ketuhanan yang hormat-menghormati satu sama lain. Hatiku akan berpesta raya, jikalau Saudara-saudara menyetujui bahwa Negara Indonesia Merdeka berasaskan Ketuhanan Yang Maha Esa!

Di sinilah, dalam pangkuan asas yang kelima inilah, Saudara-saudara, segenap agama yang ada di Indonesia sekarang ini, akan mendapat tempat yang sebaik-baiknya. Dan Negara kita akan bertuhan pula!

Ingatlah prinsip ketiga – permufakatan, perwakilan – di situlah tempatnya ktai mempropagandakan ide kita masing-masing dengan cara yang tidak onverdraagzaam (tidak sabar, memaksa, dalam bahasa Belanda-Ed.), yaitu dengan cara yang berkebudayaan!

Saudara-saudara! “Dasar-dasar Negara” telah saya usulkan Lima bilangannya. Inikah Panca Dharma? Bukan! Nama Panca Dharma tidak tepat di sini. Dharma berarti kewajiban, sedang kita membicarakan dasar. Saya senang kepada simbolik. Simbolik angka pula. Rukun Islam lima jumlahnya. Jari kita lima setangan. Kita mempunyai pancaindera. Apa lagi yang lima bilangannya?

(Seorang yang hadir: “Pendawa Lima.”)

Pendawa pun lima orangnya. Sekarang banyaknya prinsip – kebangsaan, internasionalisme, mufakat, kesejahteraan dan ketuhanan – lima pula bilangannya.

Namanya bukan Panca Dharma, tetapi – saya namakan ini dengan petunjuk seorang teman ahli bahasa — namanya ialah Pancasila. Sila artinya “asas” atau “dasar”, dan di atas kelima dasar itulah kita mendirikan Negara Indonesia, kekal dan abadi.

(Tepuk tangan riuh)

Atau, barangkali ada Saudara-saudara yang tidak suka akan bilangan lima itu? Saya boleh peras sehingga tinggal 3 saja. Saudara-saudara tanya kepada saya, apakah “perasan” yang tiga itu? Berpuluh-puluh tahun sudah saya pikirkan dia, ialah dasar-dasarnya Indonesia Merdeka, Weltanschauung kita. Dua dasar yang pertama, kebangsaan dan internasionalisme – kebangsaan dan perikemanusiaan – saya peras menjadi satu: itulah yang dahulu saya namakan Sosio-nasionalisme.

Dan demokrasi yang bukan demokrasi Barat, tetapi politiek-economische demoratie – yaitu politieke demoratie dengan sociale rechtvaardigheid, demokrasi dengan kesejahteraan – saya peraskan pula menjadi satu: inilah yang dulu saya namakan Sosio-demokrasi.

Tinggal lagi Ketuhanan, yang menghormati satu sama lain.

Jadi yang asalnya lima itu telah menjadi tiga: Sosio-nasionalisme, sosio-demokrasi dan Ketuhanan. Kalau Tuan senang kepada simbolik tiga, ambillah yang tiga ini. Tetapi barangkali tidak semua Tuan-tuan senang kepada Trisila ini, dan minta satu, satu dasar saja! Baiklah saya jadikan satu, saya kumpulkan lagi menjadi satu. Apakah yang satu itu?

Sebagai tadi telah saya katakan: Kita mendirikan negara Indonesia, yang kita semua harus mendukungnya. Semua buat semua! Bukan Kristen buat Indonesia, bukan golongan Islam buat Indonesia, bukan Hadikoesoemo buat Indonesia, bukan Van Eck buat Indonesia, bukan Nitisemito yang kaya buat Indonesia, tetapi Indoesia buat Indoesia. Semua buat semua! Jikalau saya peras yang lima menjadi tiga, dan yang tiga menjadi satu, maka dapatlah saya satu perkataan Indonesia yang tulen, yaitu perkataan “gotong-royong”. Alangkah hebatnya! Negara Gotong-Royong!

(Tepuk tangan riuh-rendah)

“Gotong-royong” adalah paham yang dinamis, lebih dinamis dari “kekeluargaan”, Saudara-saudara! Kekeluargaan adalah satu paham yang statis, tetapi gotong-royong menggambarkan satu usaha, satu amal, satu pekerjaan, yang dinamakan anggota yang terhormat Soekardjo satu karyo, satu gawe. Marilah kita menyelesaikan karyo, gawe, pekerjaan, amal ini, bersama-sama! Gotong-royong adalah pembantingan tulang bersama, pemerasan keringat bersama, perjuangan bantu-binantu bersama. Amal semua buat kepentingan semua, keringat semua buat kebahagiaan semua. Holopis-kuntul-baris buat kepentingan bersama! Itulah gotong-royong!

(Tepuk tangan riuh-rendah)

Prinsip gotong-royong di antara yang kaya dan yang tidak kaya, antara yang Islam dan yang Kristen, antara yang bukan Indonesia tulen dengan peranakan yang menjadi bangsa Indonesia. Inilah, Saudara-saudara, yang saya usulkan kepada Saudara-saudara.

Pancasila menjadi Trisila, Trisila menjadi Ekasila. Tetapi terserah kepada Tuan-tuan, mana yang Tuan-tuan pilih: Trisila, Ekasila ataukah Pancasila? Isinya telah saya katakan kepada Saudara-saudara semuanya. Prinsip-prinsip seperti yang saya usulkan kepada Saudara-saudara ini, adalah prinsip untuk Indonesia Merdeka yang abadi. Puluhan tahun dadaku telah menggelora dengan prinsip-prinsip itu.

Tetapi jangan lupa, kita hidup di dalam masa peperangan, Saudarna-saudara. Di dalam masa peperangan itulah kita mendirikan negara Indonesia. Di dalam gunturnya peperangan! Bahkan saya mengucap syukur alhamdulillah kepada Allah Subhanahu wa ta’ala, bahwa kita mendirikan negara Indonesia bukan di dalam sinarnya bulan purnama, tetapi di bawah palu godam peperangan dan di dalam api peperangan. Timbullah Indonesia Merdeka, Indonesia yang gemblengan, Indonesia Merdeka yang digembleng dalam api peperangan, dan Indonesia Merdeka yang demikian itu adalah negara Indonesia yang kuat, bukan negara Indonesia yang lambat-laun menjadi bubur. Karena itulah saya mengucap syukur kepada Allah SWT.

Berhubungan dengan itu – sebagai yang diusulkan oleh beberapa pembicara-pembicara tadi – barangkali perlu diadakan noodmaat-regel (aturan darurat, dalam bahasa Belanda-Ed.), peraturan yang bersifat sementara. Tetapi dasarnya, isinya Indonesia Merdeka yang kekal abadi menurut pendapat saya, haruslah Pancasila. Sebagai dikatakan tadi, Saudara-saudara, itulah harus Weltanschauung kita.

Entah Saudara-saudara memufakatinya atau tidak, tetapi saya berjuang sejak tahun 1918 sampai 1945 sekarang ini untuk Weltanschauung itu. Untuk membangun nasionalistis Indonesia, untuk kebangsaan Indonesia; untuk kebangsaan Indonesia yang hidup di dalam perikemanusiaan; untuk permufakatan; untuk sociale rechtvaardigheid; untuk Ketuhanan. Pancasila, itulah yang berkobar-kobar di dalam dada saya sejak berpuluh tahun. Tetapi, Saudara-saudara, diterima atau tidak, terserah kepada Saudara-saudara. Tetapi saya sendiri mengerti seinsyaf-insyafnya, bahwa tidak ada satu Weltanschauung dapat menjelma dengan sendirinya, menjadi realiteit dengan sendirinya. Tidak ada satu Weltanschauung dapat menjadi kenyataan – menjadi realiteit – jika tidak dengan perjuangan!

Jangan pun Weltanschauung yang diadakan oleh manusia, jangan pun yang diadakan oleh Hitler, oleh Stalin, oleh Lenin, oleh Sun Yat Sen!

De Mensch – manusia – harus perjuangkan itu. Zonder (tanpa, dalam bahasa Belanda-Ed.) perjuangan itu tidaklah ia akan menjadi realiteit! Leninisme tidak bisa menjadi realiteit zonder perjuangan seluruh rakyat Rusia, San Min Chu I tidak dapat menjadi kenyataan zonder perjuangan bangsa Tionghoa, Saudara-saudara! Tidak! Bahkan saya berkata lebih lagi dari itu: Zonder perjuangan manusia, tidak ada satu hal agama, tidak ada satu cita-cita agama, yang dapat menjadi realiteit. Jangan pun buatan manusia, sedangkan perintah Tuhan yang tertulis di dalam kitab Qur’an, zwart op wit (hitam di atas putih, dalam bahasa Belanda-Ed.), tertulis di atas kertas, tidak dapat menjelma menjadi realiteit zonder perjuangan manusia yang dinamakan umat Islam. Begitu pula perkataan-perkataan yang tertulis di dalam kitab Injil, cita-cita yang termasuk di dalamnya tidak dapat menjelma zonder perjuangan umat Kristen.

Maka dari itu, jikalau bangsa Indonesia ingin supaya Pancasila yang saya usulkan itu, menjadi satu realiteit, yakni jikalau kita ingin hidup menjadi satu bansa, satu nationaliteit yang merdeka, ingin hidup sebagai anggota dunia yang merdeka, yang penuh dengan perikemanusiaan, ingin hidup di atas dasar permusyawaratan, ingin hidup sempurna dengan sociale rechtvaardigheid, ingin hidup dengan sejahtera dan aman, dengan ketuhanan yang luas dan sempurna – janganlah lupa akan syarat untuk menyelenggarakannya, ialah perjuangan, perjuangan, dan sekali lagi perjuangan!

Jangan mengira bahwa dengan berdirinya negara Indonesia Merdeka itu perjuangan kita telah berakhir. Tidak! Bahkan saya berkata: Di dalam Indonesia Merdeka itu perjuangan kita harus berjalan terus, hanya lain sifatnya dengan perjuangan sekarang, lain coraknya. Nanti kita bersama-sama, sebagai bangsa yang bersatu-padu, berjuang terus menyelenggarakan apa yang kita cita-citakan di dalam Pancasila.

Dan terutama di dalam zaman peperangan ini, yakinlah, insyaflah, tanamkanlah dalam kalbu Saudara-saudara, bahwa Indonesia Merdeka tidak dapat datang jika bangsa Indonesia tidak berani mengambil resiko – tidak berani terjun menyelami mutiara di dalam samudera yang sedalam-dalamnya. Jikalau bangsa Indonesia tidak bersatu dan tidak menekadkan mati-matian untuk mencapai merdeka, tidaklah kemerdekaan Indonesia itu akan menjadi milik bangsa Indonesia buat selama-lamanya, sampai ke akhir zaman! Kemerdekaan hanyalah diperdapat dan dimiliki oleh bangsa, yang jiwanya berkobar-kobar dengan tekad: Merdeka! “Merdeka atau mati!”

(Tepuk tangan riuh)


Saudara-saudara! Demikianlah saya punya jawab atas pertanyaan Paduka Tuan Ketua. Saya minta maaf, bahwa pidato saya ini menjadi panjang lebar, dan sudah meminta tempo yang sedikit lama, dan saya juga minta maaf, karena saya telah mengadakan kritik terhadap catatan Zimukyokutyoo yang saya anggap verschrikkelijk zwaarwichtig (seolah-olah sangat berat, dalam bahasa Belanda-Ed.) itu.

Terima kasih!

(Tepuk tangan riuh-rendah dari segenap hadirin)

Minggu, Mei 23, 2010

Menonton Kembali Leo Kristi di Yogyakarta

JIKA tak salah ingat, Leo Kristi bersama Konser Rakyat sudah lebih dari 10 tahun tak menyambangi Yogya dengan pementasannya. Itu pun, jumlah pementasan Leo Kristi tidaklah cukup banyak. Setidaknya, sepanjang 1979 - 1984, Leo Kristi baru berpentas empat kali di kota Gudeg (mohon koreksi jika salah).
Tenggang waktu itu, berkait dengan "tingkat produktivitas" Leo Kristi, dalam konteks industri rekaman musik indonesia dan konteks kesenian, memberikan "persoalan-persoalan tersendiri" jika hal itu mau didekati dari sisi kesenian sebagai media komunikasi.
Maka, pertunjukan musik Konser Rakyat Leo Kristi 22 Mei 2010 di Concert Hall "Dorodjatun" Taman Budaya Yogyakarta, memetakan itu semuanya. Setidaknya, terdapat tiga kelompok penonton Leo Kristi pada malam itu. (1) Komunitas penggemar musik KRLK yang menamakan kelompoknya sebagai Komplek (Komunitas Penggemar Leo Kristi) L-Kers, (2) Penggemar lagu-lagu Leo Kristi ornop (non organisasi, individu), dan (3) Generasi muda Yogyakarta, yang memiliki apresiasi kesenian yang relatif lebih terbuka karena imbas dari revolusi teknologi informasi dan pergaulan modernitas mereka.
Pada tiga kelompok ini, tanggapan atas komunikasi seni pada malam itu berbeda-beda. Pada kelompok pertama, karena acara itu adalah acara mereka, komunikasi kesenian adalah ritual. Mereka sangat faham sekali dengan apa yang akan terjadi dan terlibat.
Karena itu, mereka bisa ektase menikmati, karena bukan sekedar hiburan melainkan juga berkomunikasi antar anggota sebagai satuan keluarga fanatik.
Ini agak berbeda dengan kelompok kedua, para penggemar KRLK Ornop, adalah para fanatik Leo Kristi yang juga sudah lama mengenali Leo. Mereka adalah pembeli kaset-kaset Leo, mengapresiasi dan mengagumi, dan setidaknya pernah menjadi bagian dari perjalanan hidupnya. Kelompok ini memang direpresentasikan oleh (kebanyakan para perupa) yang pada pementasan malam itu mendominasi ruang dengan celotehan-celotehan khas gaya seniman (perupa) Yogyakarta, yang akhirnya juga mengundang komentar Leo. "Sak karepmu,... (apapun celotehanmu)!"
Pada kelompok kedua ini, mereka tidak menginginkan celotehan Leo, yang memang menurut saya juga tidak jelas maunya apa. Menjadi cerewet, sok pinter, dan sok Inggris. I love you, Leo! Mereka hanya menginginkan, Leo berdendang dengan lagu-lagu yang sangat dikenali kelompok ini. Dan itu yang tak sudi dilakukan oleh Leo yang memang sangat sulit untuk "diatur".
Pada kelompok tiga, sudah barang tentu, jika Leo Kristi tidak diketahuinya sebagai bagian dari memori kesenian, mungkin juga dianggap sebagai bagian dari musik alternatif yang mereka juga sangat kenali sebagai bagian dari keinginan mendapatkan hal yang lain. Sekali pun, dalam komunikasi seni pada malam itu, tidak ada informasi yang bisa mereka dapatkan, karena memang tidak ada komunikasi untuk "the lost generation" ini. Dan Leo dalam kasus ini, adalah seniman yang tidak sangat peduli.
Persoalan Leo Kristi (juga akhirnya tentu pada grup konser rakyatnya), justeru berada dalam soal ini. Dan tampaknya pula, bisa jadi ini memunculkan fanatisme tersendiri bagi penggemarnya, yang akhirnya berhimpun untuk "melindungi" Leo Kristi sebagai bagian dari cagar alam musik Indonesia.
Komunitas LKers pada akhirnya menjadi fasilitator dari pementasan musik-musik Leo Kristi dan Konser Rakyat-nya, baik di Jakarta dan (kemudian) di berbagai kota. Apalagi dengan munculnya masyarakat maya melalui internet (facebook, twitter, dan sejensinya itu), sosialisasi dan komunikasi komunitas ini terbantu penyebarannya.
Pentas musik KRLK pada akhirnya ditopang oleh penggemarnya dalam pengertian basic, yakni para anggota LKers saweran, atau munculnya sponsor pribadi yang (bisa dipastikan) mereka adalah generasi yang tumbuh bersama Leo, yang mungkin mereka kini berada dalam posisi atau status sosial midle-up. Para penggemar fanatik sejak remaja, hingga mereka mempunyai anak remaja pula. Suasana barisan depan kursi penonton di TBY malam itu misalnya, persis panitia reuni. Kotak-kotak makanan, minuman, foto-foto bersama, hadir suami-isteri dan anak, saling salaman, berpelukan, ciuman, bersay-hello, saling mengenalkan bahwa mereka dari luar kota (Purwokerto, Semarang, Solo, Jakarta), ekspresi kebahagiaan dari inferiority complex, atau kebangaan atas eksklusifitas kaum minoritas.
Yang semula seolah menjadi "anti tesis", pada akhirnya terasakan sebagai comfortable zone yang membuai Leo. Setidaknya, Leo akhirnya merasa nyaman bisa seenaknya berpentas semacam itu. Padahal, untuk aktivitas itu, biaya produksi yang dikeluarkan tidak sedikit. Bisa antara 50 hingga 100 juta rupiah. Tetapi tidak pernah sama sekali pementasan ini diujikan sebagai pertunjukan yang masyarakat harus membayar senimannya. Pementasan-pementasan Leo Kristi yang dikelola LKers, semuanya digratiskan (itu berbeda dengan ketika di Yogya pada 1979, 1980, dan 1984) itu panitia penyelenggara menjual karcis bagi mereka yang mau menontonnya.
Dan membandingkan pementasan-pementasan KRLK, ketika secara rutin pentas tiap 17 Agustus di TIM Jakarta, juga di rumah Wapres Adam Malik misalnya, hingga pementasan-pementasan gratisan komunitasnya ini, secara kualitatif semakin personal, alias semakin ekslusif. Artinya pula, di luar komunitas itu, KRLK semakin tidak terpermanai.

Impresi. Amatiran
Akibat lebih jauh dari semua ini, pementasan Konser Rakyat Leo Kristi memang selalu amatiran. Dari tematik pementasan, sama sekali tidak terepresentasikan, hingga akhirnya sering pementasannya tidak pernah memberikan impresi mendalam, kecuali impresi personal karena kedekatan emosional penontonnya pada sang pujaan. Ia hanya media katarsis personal, namun tidak pernah mampu menggerakkan, karena pada sisi konseptual, Leo juga bukan seorang yang mampu meyakinkan. Celotehan-celotehannya malam itu, tidak ada yang baru, kecuali disampaikan dalam English version saja.
Leo Kristi, tentu saja bukan Bob Dylan. Dan Leo juga sangat meyakini itu, karena ia lebih memuja Woody Guthrie (1912-1967), orang yang bukan saja juga dikagumi oleh Bob Dylan, melainkman bahkan didaku sebagai guru penyanyi balada itu. Tentu saja Leo juga tak akan nyaman dibandingkan dengan Bob, karena kalah jauh produktivitasnya. Namun, menyamakan diri dengan Woody Guthrie, tentu Leo juga harus mengerti, bahwa masyarakat di mana Woody tumbuh, tidak didapatkannya di Indonesia. Dan sebagai sesuatu yang "menggerakkan", Woody sebagai seniman betapa sangat inspiratif.
Maka, Konser Rakyat Leo Kristi kemudian hanya menjadi "memukau" ketika dinikmati dari kaset, CD, atau MP3 yang eksklusigf tersimpan dalam media-player para pemujanya. Dan pada sisi itu, betapa impresi syair-syairnya yang ajaib itu, menjadi lebih kuat, berbanding dengan artikulasi dan aksentuasi penyanyian Leo yang begitu piawai menggunakan mulut sebagai salah satu unsur alat musik yang integral. Pada sisi itulah, proses kesenian Leo kristi begitu sangat menggetarkan.
Sementara di panggung? Aksi Leo Kristi bagi saya cenderung menyedihkan. Karena Leo Kristi semestinya juga menghargai saya sebagai orang yang (karena hafal lagu-lagunya) tahu, bahwa dia lupa syairnya, dia lupa mestinya masuk ke refrain atau coda. Dia orang yang asyik dengan diri-sendiri, dan sesungguhnya tak cukup waktu saya (penonton lain juga) untuk "memomong" bayi besar bernama Leo Kristi yang sudah berumur 61 tahun itu.
Pengalaman saya pribadi, ketika menjadi director music pada tv program musik (2003 di TV-7), ketika mengundang Konser Rakyat Leo Kristi sebagai bintang tamu, menyadarkan saya, Leo sesungguhnya membutuhkan orang lain yang mampu meyakinkannya tentang framing media. Karena ketika tampil untuk pengambilan gambar, Leo Kristi bersama grupnya, begitu mempesona karena perfect dan clean.
Sepulang menonton konser rakyat Leo Kristi di TBY malam itu, saya jadi teringat film "This Is It" Michael Jackson (yang mestinya baru akan dipentasan Juli 2010 mendatang di London). Michael Jackson di situ tampak, bukan hanya seorang penghibur, melainkan seorang yang menguasai materi, musik, lyric, bahkan koreografi. Dari proses latihannya saja, This Is It sangat perfect.
Saya sebagai penggemar berat Leo Kristi, sangat tersinggung ketika ada yang mengatakan "jangan bandingkan Leo Kristi dengan Michael Jackson" karena segala sesuatunya berbeda. Bagi saya, Leo Kristi lebih besar dari Jacko. Sayangnya, ia hidup dalam masyarakat yang berbeda dengan para fanatikus Jacko. Bahkan, berbeda dengan masyarakat pemuja Woody Guthrie, pemusik rakyat pujaan Leo Imam Soekarno itu.
Jadi? Saya baru sampai pada kesimpulan, bahwa menonton (dan menikmati) Konser Rakyat Leo Kristi adalah memaknai salah satu keajaiban kesenian di Indonesia. Dan saya tetap saja setia mendengarkan rekaman lagu-lagu Leo Kristi.

Sunardian Wirodono
Penggemar Konser Rakyat Leo Kristi, Ornop