Rabu, Agustus 05, 2009

Mbah Surip Menggendong Nasibnya Kemana-mana



Mbah Surip telah ke mana-mana. Dan kini ia telah di mana-mana. Sebuah perjalanan yang mengagumkan.

Secara pribadi, saya mengenal Mbah Surip sejak 2003, ketika bersama teman-teman waktu itu kami menggarap Drama Komedi Musikal “Es Campur Es” di TV-7, dengan Didi Kempot sebagai maskotnya. Freddy Wisanggeni, yang banyak kenal dengan artis-artis dari Kampung Artis (tempat sesungguhnya Mbah Surip “bekerja” bersama Ari Wibowo, sebagai talent artis), yang mengajaknya pada kami.

Sudah berkostum sebagaimana yang sekarang, meski belum dengan topi rajut rasta itu. Rambutnya sudah gimbal seperti itu, meski ketawanya belum ber-hah-hah-hah. Saya, sebagai musical director waktu itu, memintanya untuk muncul sebagai pemecah ruang. Ia boleh muncul kapan saja, dan dimana saja, hanya untuk berteriak berulang-ulang; “Es campur essssss, es campur esssssssss,…” diiring ketawa lebarnya yang berderai. Dan penonton waktu itu selalu tertawa-tawa menyambutnya.

Jika saya melihat di panggung kelihatan boring dan mulai mengada-ada, saya tinggal menoleh ke arah Mbah Surip dan berteriak; “Mbaaahhhhh,...” Dan ia pun menjalankan tugasnya. Panggung akan kembali segar olehnya. Dan, kami bisa ketawa-ketawa sambil minum kopi, yang oleh dokter Boyke katanya tidak bagus dikonsumsi. Mbah Surip waktu itu bilang, kalau dia yang punya pabrik kopi atau petani kopi bagaimana? Saya sepakat dengan pendapatnya, dan terus minum kopi sebagai cara melawan pendapat orang pinter tentang kesehatan dan sex itu. What ever!

Sesudahnya, ia tak pernah absen, untuk selalu menemani kami. Di sela-sela syuting, ia selalu usil, memainkan semua alat musik yang ada, terutama beberapa alat musik Jawa seperti saron dan kendang. Ia menyanyikan syair-syair ngawur, dengan lagu sekena mulutnya. Nanti teman-teman akan merubungnya (dan Arya Tedja, DOP kita yang okey itu, akan selalu menirukan ulah Mbah Surip), ikut nyelethuk ke sana-kemari. Ia selalu menyegarkan, sekali pun belum ada I Love You Full waktu itu.



Ia khas seniman jalanan. Kehidupannya kemudian, dibentuk oleh hari ini. Beberapa lagu karyanya waktu itu, dan waktu-waktu kemudian, berangkat dari syair-syair yang menurut saya tanpa vibrasi. Itu akan menyusahkan sebenarnya, karena sangat temporer.

Sampai kemudian, waktu itu muncul diskusi yang sangat serius dengannya, bagaimana kalau membuat album musik seri setan, dan dia tertarik sekali. Ide itu dulu saya lemparkan ke Mbah Ranto Edi Gudel (ayahnya Mamiek Podhang, tempat Mbah Surip ngadem sebelum meninggalnya), waktu itu, maunya untuk penyanyi Sentot (kakak Mamiek dan Didi Kempot), karena karakternya pas, kayak setan. Tapi karena Sentot lebih asyik dengan birnya, proyek itu tak jalan. Dan ketika ketemu Mbah Surip, saya melihat orang ini akan jadi “artikulator setan” yang pas, hah hah hah,...

Tapi, begitulah Mbah Surip, easy going to life. Itu kadang yang membuat saya malu. Meski pun saya menyadari, tentu membutuhkan intensitas tersendiri untuk bisa hidup sebagaimana Mbah Surip.

Jika Mbah Surip sekarang muncul, tidak sangat mengherankan. Ia adalah jawaban dari betapa industralisasi di dunia kesenian (musik apalagi), sangat bersifat spekulatif. Itu juga mengapa grup musik seperti Kangen Band, Kuburan, bisa mendapat tempat.

Syair-syair Mbah Surip, mewakili kejenuhan omong besar kita selama ini, dalam hal apa saja. Segala macam kata yang sok puitis, sok sastra, sok manusiawi, sok perjuangan, sok anti-neolib. Dan entah kenapa, semangat rasta yang proletar itu, demikian pas dan penuh gusto pada Mbah Surip. Ia adalah perwakilan, simbol.

Kecenderungan masyarakat untuk antagonisme, anti-hero, anti-tesis, sesungguhnya ruang alternatif yang menantang bagi kalangan kreatif. Tapi sayangnya, wilayah itu sering hanya menjadi domain dari kaum pedagang. Para seniman sering tidak yakin diri, dan kemudian hanya mengatakan; Mbah Surip mujur, RBT-nya akan memberinya Rp 4,5 milyar,...

Apakah ia mujur? Ia telah menggendong ke mana-mana nasib dan perjuangannya. Menggendong gitar kotak buatannya sendiri. Menggendong kepalanya. Menggendong mulutnya. Menggendong kakinya. Dan ia bisa rileks mengatakan, bukan bagaimana membenci pesawat terbang atau mobil-mobil mewah, namun bagaimana kecemburuan itu dibalik menjadi; daripada kamu tersesat, kedinginan sendiri,...

Mbah Surip mengajarkan kita untuk melihat dengan logika terbalik. Dan itu perlawanan yang pada akhirnya, mendapatkan penghargaan dan tempat. Juga ketika ia mengajak kita untuk tidur lagi, tidur lagi, tidur lagi.

Persis sebagaimana, dalam pandangan (film), Forrest Gump, ketika Amerika mengalami kemacetan, stagnasi. Ketika modernitas tak mampu memberikan jawaban, Forrest kemudian mengajak kita semua, “Run,...!” Lari saja, ke mana saja, sesuka kita. Terus? Yah, kalau capek, pulang saja kembali. Memangnya, ada pilihan lain dalam hidup ini?

Kalau Mbah Surip akhirnya mati, saya kira bukan karena ia kelelahan. Ia pasti sedih karena Boy Utrit meninggal, pada jam 03.00 pagi, sekitar tujuh jam sebelum akhirnya Mbah Surip nyusul. Dugaan saya (diluar kekuasaan dan takdir Tuhan), Mbah Surip merasa bersalah, karena belum bisa membantu Utrit yang jatuh stroke, karena royalti milyaran dalam ring back tone itu belum juga diterima Mbah Surip. Itulah yang menyebabkan, Mbah Surip sembunyi (ngadhem) di rumah Mamiek Podhang, dan tak berani ke rumah Utrit. Iya to Mbah, hayo ngaku saja!

Utrit adalah sobat kentel rastanya (sopir Om Tris di Kampung Artist), orang yang paling tanpa pretensi menemani Mbah Surip. Dan hanya pada Utrit, Mbah Surip menjadi “manusia sebenarnya”, yang bisa terdiam karena under-pressure! Hanya Utrit yang tahu, bagaimana gelisahnya Mbah Surip karena hendak mengawinkan Nina, anaknya yang ke-tiga.

Yang paling asyik, Mbah Surip telah mampu mengibuli anka-anak muda, para jurnalis media, dengan menciptakan citraan dunia lain Mbah Surip, yang konon adalah bergelar MBA atau pernah bekerja di pertambangan di luar negeri. Bahkan, konon lagunya yang fenomenal berjudul "Tak Gendong" diciptakan di bawah jembatan di Amerika Serikat sana. Percaya?

Agak susah membedakan dunia nyata dan dunia khayal Mbah Surip. Orang tidak tahu, bagaimana ia dari Mojokerto, Jawa Timur, ke Jakarta naik sepeda, dan menggendong gitar kotak buatannya sendiri. Dan dengan gitar itu, ia gendhong pula kehidupan dan penderitaannya, ke mana-mana. Perjalanan pergendongan selama 20-an tahun, ia bisa dipakai untuk memahami fenomena Mbah Surip 2009. Tidak ada sesuatu yang ajaib dalam hidup ini, kecuali kita tidak menghargai proses perjalanan gendhong-menggendhong itu.

Ngono ya, Mbah! Rasah sedih! Kan bisa ngopi bareng lagi sama Utrit! Rasah tangi neh, Mbah! Tidur lagi saja!

Sunardian Wirodono
Panasan, 4 Agustus 2009

1 komentar:

  1. KAMI SEKELUARGA MENGUCAPKAN BANYAK TERIMA KASIH ATAS BANTUANNYA MBAH , NOMOR YANG MBAH BERIKAN/ 4D SGP& HK SAYA DAPAT (350) JUTA ALHAMDULILLAH TEMBUS, SELURUH HUTANG2 SAYA SUDAH SAYA LUNAS DAN KAMI BISAH USAHA LAGI. JIKA ANDA INGIN SEPERTI SAYA HUB MBAH_PURO _085_342_734_904_ terima kasih.الالله صلى الله عليه وسلموعليكوتهله صلى الل

    KAMI SEKELUARGA MENGUCAPKAN BANYAK TERIMA KASIH ATAS BANTUANNYA MBAH , NOMOR YANG MBAH BERIKAN/ 4D SGP& HK SAYA DAPAT (350) JUTA ALHAMDULILLAH TEMBUS, SELURUH HUTANG2 SAYA SUDAH SAYA LUNAS DAN KAMI BISAH USAHA LAGI. JIKA ANDA INGIN SEPERTI SAYA HUB MBAH_PURO _085_342_734_904_ terima kasih.الالله صلى الله عليه وسلموعليكوتهله صلى الل


    KAMI SEKELUARGA MENGUCAPKAN BANYAK TERIMA KASIH ATAS BANTUANNYA MBAH , NOMOR YANG MBAH BERIKAN/ 4D SGP& HK SAYA DAPAT (350) JUTA ALHAMDULILLAH TEMBUS, SELURUH HUTANG2 SAYA SUDAH SAYA LUNAS DAN KAMI BISAH USAHA LAGI. JIKA ANDA INGIN SEPERTI SAYA HUB MBAH_PURO _085_342_734_904_ terima kasih.الالله صلى الله عليه وسلموعليكوتهله صلى الل

    BalasHapus