Jumat, Juli 31, 2009

Teknologi TV Makin Mengernyitkan Dahi


Kompas, Jumat, 31 Juli 2009

AW Subarkah

Memilih saluran televisi sekarang ini sudah semakin tidak sederhana lagi sekalipun perkembangan di negeri ini masih dalam kategori awal. Televisi yang ada di dalam benak sebagian besar masyarakat masih berupa tayangan yang ditangkap dari pancaran siaran sebuah stasiun TV.Dengan belasan stasiun TV yang mengudara sekarang saja, sudah tidak mudah mencari program-program yang diinginkan. Apalagi ketika migrasi ke sistem siaran digital yang direncanakan tahun 2018 sudah sepenuhnya terjadi, akan lebih rumit lagi, mengingat satu kanal pada sistem analog bisa digunakan sampai enam kanal digital.
Aplikasi teknologi digital akan membawa dampak yang besar bagi industri pertelevisian. Setidaknya, layanan konvensional ini akan terpecah menjadi dua, yaitu penerimaan tidak bergerak (fixed reception) dan penerimaan bergerak (mobile TV) yang menggunakan pita frekuensi UHF.
Kerumitan sebenarnya sudah mulai dirasakan oleh mereka yang sudah berlangganan TV kabel ataupun TV satelit, bukan hanya puluhan kanal, tetapi bahkan bisa sampai ratusan kanal TV. Setidaknya dari sini sudah mulai muncul pemahaman baru menyaksikan acara TV.
Yang lebih dahsyat sebenarnya adalah munculnya Internet Protocol TV (IPTV), yaitu layanan TV yang disalurkan melalui media internet. Layanan terbatas mungkin masih bisa ditandai dengan mudah, tetapi layanan terbuka dari situs-situs yang berasal dari seluruh dunia yang nyaris tidak terbilang jumlahnya.
Semua situs di internet sekarang bisa membuat layanan TV, bergantung pada kemauan pengelola dan tentu juga ketersediaan dana. Bahkan situs dalam negeri seperti Kompas.com sudah memberikan layanan ini sejak tahun lalu hanya karena biaya akses internet yang masih dirasakan mahal dan lambat yang membatasinya.
Soal waktu saja cara baru menikmati layanan TV juga akan memengaruhi masyarakat. Bahkan, pihak pemerintah juga sudah menyiapkan lelang untuk infrastruktur jaringan pita lebar WiMAX yang khusus bagi Indonesia akan ditempatkan pada pita frekuensi 2,3 GHz, selain itu juga mengantisipasi datangnya IPTV itu sendiri.
Memang layanan yang ideal untuk penerimaan tidak bergerak adalah menggunakan serat optik (FO). Beberapa negara, termasuk Singapura, sudah merintis apa yang disebut fiber to home. Namun, untuk kondisi kota besar seperti Jakarta yang tidak teratur, luas tampaknya tidak menguntungkan untuk menggelar jaringan FO.

Generasi keempat
Dunia saat ini memang sudah memasuki generasi keempat untuk layanan telekomunikasi nirkabel. Selain WiMAX yang dirancang oleh para penggerak teknologi informatika, juga Long Term Evolution (LTE) yang dikembangkan vendor-vendor seluler, terutama dari kelompok pengembang GSM.
Teknologi pita lebar inilah yang diharapkan bisa menjadi sarana yang empat-lima tahun lalu dikonsepkan dengan triple play, satu saluran untuk tiga layanan yang berbeda. Selain tetap sebagai sarana berkomunikasi suara, satu saluran itu juga bisa digunakan sebagai sarana hiburan dan data (internet).
Dua layanan yang terakhir ini yang mendorong berkembangnya IPTV, apalagi bandwidth internasional juga sudah semakin lebar. Bahkan, dalam pameran komunikasi dan informatika, seperti CommunicAsia yang berlangsung Juni lalu di Singapura, yang sangat menonjol adalah masalah IPTV.
Topik hangat IPTV sebenarnya bukanlah isu baru, tetapi mereka mulai banyak melihat keuntungan yang bisa didapat, termasuk bagaimana menggaet iklan. Pameran ini juga dimeriahkan dengan lahirnya telepon seluler transparan pertama dunia, LG Crystal GD900, dan generasi terbaru telepon seluler pintar, Samsung Jet.
Pihak Departemen Komunikasi dan Informatika pada saat ini juga telah selesai menyusun Rancangan Peraturan Menteri Komunikasi dan Informatika tentang Penyelenggaraan Layanan IPTV di Indonesia. Pengertian IPTV di sini lebih dimaknai sebagai layanan TV secara tertutup, biasanya juga memberikan layanan berkelas high definition (HD), di mana pengakses adalah pelanggan berbayar dan jaringan sebatas yang dimiliki oleh penyelenggara.
IPTV yang berkembang sejak 2007 ini sekarang makin berkembang, khususnya di kawasan Eropa Barat dan Amerika. Di Indonesia sendiri dikatakan sudah ada beberapa penyelenggara telekomunikasi yang sudah sangat berminat dan siap untuk menyediakan layanan tersebut.
Layanan IPTV menyajikan program-program TV interaktif dengan gambar berkualitas tinggi (HD) melalui jaringan internet pita lebar (broadband). Ragam layanan IPTV di antaranya Electronic Program Guide, Broadcast/Live TV, Pay Per View, Personal Video Recording, Pause TV, Video on Demand, Music on Demand (Walled Garden), Gaming, Interactive advertisement, dan T-Commerce.
Pihak pemerintah lebih condong melihat teknologi infrastruktur jaringan yang akan digunakan mengarah pada penggunaan teknologi packet switched yang berbasis protokol internet. Dengan demikian, IPTV dipandang sebagai salah satu bentuk konvergensi antara telekomunikasi, penyiaran, dan transaksi elektronik.
Sementara secara paralel migrasi penyiaran analog ke TV digital juga baru memasuki tahun pertama dari rencana 10 tahun ke depan. Selain sudah dimulai dengan penyebaran perangkat set-top box agar TV lama (analog) masih tetap bisa menikmati layanan bertransmisi digital, juga sudah ada TV dengan tuner digital sesuai dengan standar Indonesia.
Semua ini akan memberikan tantang baru bagi mereka yang akan terjun ke dunia bisnis pertelevisian, tidak terkecuali bagi mereka yang sudah eksis sekarang. Paradigma baru menonton televisi akan segara berubah, strategi bisnis juga harus menyesuaikan atau tergusur dari arena ini.

Rabu, Juli 29, 2009

Kemenangan yang Hambar


Kompas, Rabu, 29 Juli 2009 | 03:21 WIB

Syamsuddin Haris

Meski masih menunggu keputusan sengketa hasil pemilu oleh Mahkamah Konstitusi, Komisi Pemilihan Umum akhirnya menetapkan pasangan Susilo Bambang Yudhoyono-Boediono sebagai pemenang Pilpres 2009 dalam satu putaran. Namun, mengapa suasana kemenangan ini terasa agak hambar?
Keberhasilan SBY-Boediono meraih 73,8 juta suara (60,8 persen) dalam pilpres lalu harus diakui sebagai catatan sejarah baru bagi perkembangan demokrasi Indonesia. Melalui dukungan besar itu, Presiden Yudhoyono memperbarui mandatnya untuk kembali memimpin negeri ini selama lima tahun ke depan. Itu artinya periode 2009-2014 merupakan peluang emas Yudhoyono untuk berbuat yang terbaik bagi bangsa karena jelas tak ada lagi kesempatan ketiga untuk dirinya.
Namun, tidak terasa adanya ”gereget” atas kemenangan Yudhoyono. Jenderal kelahiran Pacitan ini bahkan berpidato ”sendirian” di Puri Cikeas dalam menyambut penetapan hasil rekapitulasi suara pilpres yang dilakukan KPU. Belum terekam kiriman untaian bunga dan ucapan selamat para pendukung, apalagi dari lawan politik. Mengapa?

Kegeraman atas KPU
Suasana hati publik yang sedih bercampur geram dan marah pascabom Mega Kuningan bisa jadi adalah salah satu faktor hambarnya penetapan capres pemenang Pilpres 2009. Situasi damai dan kondusif pascapilpres dikoyak bom bunuh diri para teroris pengecut yang tak pernah jelas motif dan tujuannya. Seolah kita sebagai bangsa yang berhasil melembagakan proses demokrasi—kendati masih cacat di sana-sini—tak boleh menikmati segenap kredit dari keberhasilan itu.
Meski demikian, ada tiga faktor penting lain perlu dicatat. Pertama, kegeraman masyarakat atas setiap respons negatif KPU terhadap kritik dan gugatan yang dialamatkan kepada kinerja buruk mereka. Seperti terekam dalam memori publik, KPU tak hanya berkali-kali mengubah jadwal kampanye dan daftar pemilih tetap tanpa perbaikan signifikan, tetapi juga gagal membangun kepercayaan publik.
Lebih jauh lagi, KPU mencoba ”melawan” Mahkamah Konstitusi (MK) dengan menunda eksekusi atas keputusan MK soal cara penetapan kursi legislatif tahap 3, padahal tiap keputusan MK bersifat final. Kini KPU harus siap menghadapi gugatan baru terkait pembatalan beberapa pasal Keputusan KPU Nomor 15 Tahun 2009 tentang mekanisme penetapan kursi legislatif oleh Mahkamah Agung (MA).
Kinerja buruk KPU ini tak hanya membuat publik geram dan hambar menyambut usainya Pileg dan Pilpres 2009, tetapi juga berpotensi mengundang ketidakpastian politik baru terkait perubahan peta politik hasil pemilu pascakeputusan MA. Karena itu, evaluasi mendasar atas kinerja KPU oleh Presiden dan DPR selaku pembentuk komisi mutlak diperlukan.


Pernyataan prematur

Faktor kedua adalah pernyataan Presiden Yudhoyono pascapengeboman Hotel JW Marriott dan Ritz-Carlton, Jakarta. Pernyataan Yudhoyono yang mengaitkan pengeboman dengan hasil pilres, bahkan secara tak langsung menuduh keterlibatan salah seorang kandidat capres, bukan hanya prematur, tetapi juga melukai nurani bangsa yang sedang berduka. Hanya selang dua hari, juru bicara Polri menemukan fakta-fakta awal bom bunuh diri Mega Kuningan dan secara tak langsung membantah pernyataan Kepala Negara.
Bagian lain pernyataan Yudhoyono yang juga mengecewakan publik adalah bahwa seolah akan ada revolusi, pendudukan kantor KPU, dan upaya menghambat pelantikan dirinya sebagai presiden. Entah dari mana aparat intelijen mendapat informasi itu. Yang jelas pernyataan itu justru menjadikan Yudhoyono sebagai sasaran kritik. Yudhoyono tak hanya dianggap mencari simpati dengan pernyataannya, tetapi juga tak percaya diri atas mandat absolut yang diperoleh melalui Pilpres 2009.
Pascapilpres seharusnya menjadi momentum bagi presiden terpilih untuk merajut kembali kebersamaan dan merangkul mereka yang berbeda pilihan politik sehingga terbangun harapan akan Indonesia yang lebih baik. Keindahan demokrasi justru tampak saat semua pihak yang sebelumnya berkompetisi secara politik akhirnya saling merangkul dan bekerja sama membangun negeri seusai pemilu.

Belum ada sportivitas
Faktor ketiga adalah belum tumbuhnya kultur sportivitas dalam berkompetisi di negeri ini. Seperti tecermin dari persepakbolaan nasional yang tak kunjung maju, dalam pemilu pun belum ada tradisi menerima kekalahan secara sportif. Pasangan capres yang kalah belum mau menerima kekalahan kendati selisih perolehan suara amat besar sehingga hampir mustahil bisa dikejar melalui bukti kecurangan yang dibawa ke MK.
Benar, pasangan capres yang kalah memiliki hak politik menggugat hasil pilpres. Namun, jika selisih perolehan suara terlampau jauh, pilihan paling bijak adalah sportif mengakui kekalahan dan memberi selamat kepada capres terpilih. Pembelajaran bagi bangsa ke depan sudah dilakukan Kalla-Wiranto dengan tidak ikut menandatangani hasil rekapitulasi suara yang ditetapkan KPU, juga Megawati-Prabowo tidak hadir di kantor KPU.
Saat ini, agenda kolektif bangsa adalah membuktikan kepada dunia bahwa demokrasi di negeri ini tidak tergoyah oleh teror dan bom bunuh diri. Untuk itu kerja sama dan rekonsiliasi para elite politik diperlukan agar kepercayaan masyarakat, domestik, dan internasional segera pulih. Tentu akan amat elok apabila Yudhoyono sebagai presiden terpilih mengambil inisiatif untuk itu.

Syamsuddin Haris Profesor Riset Ilmu Politik LIPI

Selasa, Juli 21, 2009

Budaya Belanja pada Zaman Batavia



Pemandangan di sekitar Harmoni pada akhir abad ke-19. Gedung paling kiri dalam gambar adalah Toko Eigen Hulp, toserba pertama di Batavia, yang berdiri di pangkal Jalan Molenvliet West (Jalan Gajah Mada), lokasi berdirinya Hotel Des Indes di kemudian hari, yang lalu dibongkar pada 1980-an dan diganti oleh pusat perdagangan Duta Merlin hingga sekarang.

Kompas, Kamis, 9 Juli 2009 | Tak mau kalah dengan Singapura yang punya event wisata belanja tahunan Great Singapore Sale, pada 18 Juli sampai 18 Agustus mendatang Jakarta juga akan menggelar Jakarta Big Sale. Bulan belanja ini diselenggarakan dalam rangka menarik wisatawan Nusantara di masa liburan sekolah, sekalian memeriahkan ulang tahun ke-482 Jakarta.

Jakarta sebutulnya sudah jadi surga belanja, shopping city. Ratusan pusat perdagangan dan perbelanjaan—sejak yang disebut toserba, mal, plasa, sampai pusat perdagangan (trade center)—bertebaran di hampir setiap sudut kota. Warga Ibu Kota yang shopaholic bahkan ada yang bilang, mal-mal Jakarta lebih wah, lebih nyaman, dan barangnya lebih komplet dan murah dibandingkan dengan yang ada di negara-negara tetangga.

Sumber-sumber sejarah menunjukkan, toko-toko modern dan budaya berbelanja, termasuk pesta diskonnya, mulai tumbuh kembang di Jakarta pada awal abad ke-19 setelah Gubernur Jenderal Herman Willem Daendels pada 1808 memindahkan pusat kota dari Batavia Lama, daerah Kota sekarang, ke Weltevreden, kawasan di sekitar Harmoni, Lapangan Banteng, dan Medan Merdeka.

Sekitar seabad kemudian, Batavia sudah berkembang kian jauh ke selatan dengan dibangunnya daerah Menteng dan Gondangdia.

Menteng dan Gondangdia mulai dikembangkan pada awal abad ke-20 sebagai kawasan permukiman baru bagi warga Eropa. Sementara itu, pembangunan Weltevreden lebih diarahkan menjadi kawasan perkantoran dan perdagangan. Toko-toko besar umumnya berdiri di sepanjang Molenvliet West (Jalan Gajah Mada), Rijswijkstraat (Jalan Majapahit), Rijswijk (Jalan Veteran), dan Noordwijk (Jalan Juanda).

Daerah pertokoan dan perbelanjaan yang paling ramai di Weltevreden adalah Pasar Baru, yang masih ada sampai sekarang. Di sepanjang jalan-jalan itulah berdiri rumah-rumah toko milik orang Eropa, China, dan Jepang.

Daerah di sekitar Harmoni dikenal sebagai Lingkungan Perancis, Fraanse Buurt karena banyak pedagang Perancis membuka usahanya di sana. Misalnya, perusahaan dan toko roti Leroux & Co di Rijswijkstraat, milik warga keturunan Perancis, Jacques Leroux. Toko yang juga menjual aneka kue dan biskuit ini didirikan pada 1852 dan bertahan sampai akhir abad ke-19.

Toko lainnya adalah Oger Freres di ujung Rijswijkstraat, di sudut Jalan Majapahit dan Jalan Suryopranoto sekarang. Ini adalah toko milik dua penjahit Perancis bersaudara yang biasa membuat pakaian bagi tuan-tuan Batavia, mulai dari para pengusaha kaya sampai pejabat Hindia Belanda, baik sipil maupun militer.

Sampai awal abad ke-20, busana-busana buatan Oger Freres dianggap sebagai barometer busana pria Batavia. Toko penjahit kelas atas ini mampu bertahan selama lebih dari seabad sejak pertama dibuka pada 1823.

Pusat perbelanjaan raksasa berbentuk mal belum dikenal di zaman kolonial.
Akan tetapi, konsep department store atau toserba sudah dikenal cukup lama. Toserba pertama sudah berdiri sejak akhir abad ke-19, yakni tahun 1980-an. Nama pasar swalayan pertama itu Eigen Hulp, yang dalam bahasa Indonesia kira-kira artinya ”Mandiri” atau ”Tolong Menolong”.

Uniknya, toserba yang juga pasar swalayan pertama ini pemiliknya bukan konglomerat atau pengusaha kaya, Akan tetapi, sebuah lembaga koperasi. Konsumen Eigen Hulp terutama adalah keluarga-keluarga pegawai pemerintahan Hindia Belanda dan warga sipil lainnya.

Menurut budayawan Betawi, Alwi Shahab, toserba di Molenvliet West (Jalan Gajah Mada) ini memproduksi dan menjual, antara lain, pakaian seragam bagi tentara Hindia Belanda di Batavia.

Sejak awal abad ke-20, toko-toko di Batavia boleh dikata sudah dapat memenuhi segala kebutuhan rumah tangga warga kelas atasnya. Sebagian warga Batavia lebih suka berbelanja di Pasar Baru dan Pasar Senen. Kedua pasar itu dipenuhi toko-toko milik pedagang keturunan Tionghoa, Jepang, dan India, yang biasa disebut orang Bombay. Di kedua tempat itu lebih banyak dijual berbagai barang impor dari negara asal masing-masing pemiliknya.

Toko-toko di Molenvliet bisa dicapai dengan menumpang trem listrik, yang lewat di sana dari Jatinegara atau Tanah Abang menuju Pasar Ikan. Namun, banyak para tuan dan nyonya Belanda yang lebih suka pergi shopping ke Weltevreden memakai kereta kuda atau andong.

Disebutkan pula, pada waktu malam, Noordwijk dan Rijswijk yang diterangi lampu-lampu dari rumah toko merupakan pusat masyarakat Batavia berkumpul, baik untuk berbelanja maupun beristirahat di teras kafe atau hotel.

Sementara itu, Pasar Baru pada malam hari juga merupakan tempat yang ramai oleh warga kota yang ingin berbelanja. Mereka yang berasal dari berbagai suku dan bangsa berjalan berdesak-desakan di trotoar. Mereka yang lebih berada datang naik kereta kuda atau mobil dan melewati Jalan Pasar baru yang sempit.(MULYAWAN KARIM)

Jumat, Juli 10, 2009

"Dari Soekarno Sampai SBY: Intrik dan Lobi Politik Para Penguasa"



Karya Prof. Dr. Tjipta Lesmana , MA

Posted by ramay on Mar 20, '09 1:30 AM for everyone Dari kompas.com

"Behind the Scene" Tingkah Laku Para Presiden Indonesia (1)
Suatu ketika, pada era pemerintahan Gus Dur, Laksamana Sukardi (Menteri Negera Badan Urusan Negara) ikut serta dalam kunjungan kenegaraan ke Eropa dan Asia . Jadwal Presiden sangat ketat sehingga membuatnya teler. Para anggota rombongan pun kelelahan luar biasa. Di Seoul, Gus Dur menerima kunjungan kehormatan Perdana Menteri Korea . Kedua pemimpin negara duduk berdampingan. Perdana Menteri Korea berbicara kalimat demi kalimat yang diterjemahkan oleh seorang penerjemah. Rupanya, karena sangat lelah dan tidak menarik mendengarkan terjemahan, Gus Dur tertidur..

Pada salah satu bagian, PM Korea berujar, "Mr President, we have an excelent nuclear technology for power plant. If you are interested, we would be happy to have it for you. (Tuan Presiden, kami memiliki teknologi nuklir yang canggih untuk pembangkit tenaga. Kalau Anda berminat, kami bisa mengusahakannya untuk Anda)," Pemerintah Korea menawarkan bantuan teknologi nuklir untuk pembangkit listrik Indonesia . Saat itu, Gus Dur tidur pulas sekali. Selesai pernyataan itu diterjemahkan dalam bahasa Inggris, PM Korea menoleh ke arah Gus Dur menunggu jawaban. Namun, tidak ada jawaban. Laksamana cepat-cepat membangunkan Gus Dur. "Gus.... Gus... bangun! Gus... dia tanya apakah kita interested dengan power plant technology yang dia punya." Gus Dur karena baru terbangun dari tidurnya dan belum berkonsentrasi langsung nyeplos, "My Minister ask about your nuclear technology.! (Menteri saya bertanya tentang teknologi nuklir yang Anda miliki)," Laksamana geli bercampur malu. Anggota rombongan pun tersipu-sipu, tidak berani melihat wajah PM Korea. "Kita semua malu. Merah muka kita di hadapan Perdana Menteri Korea ," tutur Laksamana.

Demikian salah satu cerita yang terungkap dalam buku Dari Soekarno sampai SBY: Intrik dan Lobi Politik Para Penguasa karya Prof Dr Tjipta Lesmana , MA . Buku yang baru diluncurkan Penerbit Gramedia Pustaka Utama pada pertengahan bulan November menguak pola komunikasi politik enam presiden yang pernah memimpin Indonesia , dari Soekarno hingga Susilo Bambang Yudhoyono. Tjipta melakukan penelitian dengan pendekatan kualitatif. Ia melakukan wawancara secara mendalam dengan 25 orang yang dekat dengan keenam presiden itu. Sebagian besar informan adalah mantan menteri sehingga mereka sering berkomunikasi dengan Presiden. Dari pengalaman berinteraksi itulah mereka bercerita dan memaparkan apa saja yang diketahuinya tentang komunikasi politik sang presiden dan kesan mereka terhadap kepemimpinan presiden tersebut.

Buku setebal 396 halaman itu mengungkap gaya komunikasi para presiden Indonesia dalam beragam kondisi. Soekarno digambarkan sebagai sosok yang banyak bicara dengan bahasa lugas, tanpa tedeng aling-aling. Sementara itu, gaya Soeharto berada di ekstrem yang lain, hight context, para pembantunya harus pintar memahami yang tersirat di balik yang tersurat, plus memahami senyumnya yang multitafsir.

Habibie digambarkan sebagai pribadi yang terbuka, tetapi terkesan mau menang sendiri dalam berwacana dan alergi terhadap kritik. Abdurrahman Wahid atau Gus Dur juga memiliki gaya yang sangat terbuka, demokratis, tapi cenderung diktator. Gus Dur sangat impulsif. Ia bisa tertawa terbahak, tetapi bisa juga menggebrak meja sekerasnya di depan komunikannya.

Megawati lain lagi. Meski dipandang cukup demokratis, pribadi Megawati dinilai tertutup dan cepat emosional. Ia alergi pada kritik. Komunikasinya didominasi oleh keluhan dan uneg-uneg, nyaris tidak pernah menyentuh visi misi pemerintahannya. Dan, tanpa diragukan lagi, tulis Tjipta, Megawati adalah seorang pendendam.

Selanjutnya, Susilo Bambang Yudhoyono digambarkan sebagai sosok yang demokratis, menghargai perbedaan pendapat, tetapi selalu defensif terhadap kritik. Hanya, sayang, konsistensi Yudhoyono dinilai buruk. Ia dipandang sering berubah-ubah dan membingungkan publik.

Yang menarik dari buku ini adalah semua analisis ditarik berdasarkan kisah-kisah kecil interaksi sehari-hari antara presiden dan para menterinya. Sebagian kisah itu tak pernah muncul ke publik sebelumnya.

"Behind the Scene" (2): Megawati Lebih Antusias Bicara Soal "Shopping"
MEGAWATI Soekarnoputri adalah Presiden Indonesia kelima. Bisa disebut ia adalah Presiden Indonesia paling pendiam. Putri Bung Karno ini sepertinya seorang pengikut fanatik pepatah kuno "Silence is Gold". Namun, diamnya Megawati sering kali kelewatan. Ia tetap tak bersuara, bahkan ketika negeri ini membutuhkan kejelasan sikapnya. Sampai-sampai (alm) Roeslam Abdulgani, tokoh pejuang 45, berseru, "Megawati bicaralah sebagai Presiden!"

Mengapa Megawati lebih banyak diam? Tjipta Lesmana dalam bukunya Dari Soekarno sampai SBY: Intrik dan Lobi Politik Para Penguasa mengisahkan, pada suatu hari, saat masih menjabat sebagai Presiden, Megawati Soekarnoputri tampak tengah berbincang lama sekali dengan seorang menterinya di kediaman resminya, di Jalan Teuku Umar, Jakarta. Sementara perbincangan berlangsung, seorang pembantu dekatnya yang lain menunggu dengan gelisah. Pasalnya, ia sudah menunggu lama lewat dari waktu yang dijanjikan untuk bertemu. Seusai pembicaraan Megawati dengan menterinya, pembantu ini bertanya kepada si Menteri.. "Lama amat sih kamu ngobrol-nya. Apa saja sih yang dibahas?" "Enggak ada Mas. Kami ngobrol hal-hal lain yang enggak ada kaitannya dengan negara!" jawab sang menteri sambil tertawa lebar (hal 272). Itulah Megawati. Berdasarkan penuturan Laksamana Sukardi, mantan Menteri Negara Badan Usaha Milik Negara, jika berdiskusi dengan pembantunya, lebih sering soal-soal ringan, seperti masakan, tanaman, dan shopping. Pembicaraan dengan topik itu bisa membuat diskusi dengan Megawati berlangsung lama. Namun, jika sudah menyentuh soal pekerjaan atau negara, daya fokusnya sangat terbatas. Konsentrasinya kurang cukup untuk terus-menerus fokus ke permasalahan. Hal ini menimbulkan kesan Megawati orang yang tidak mau repot dalam mengurus negara.

Mantan pentinggi Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan yang kini hengkang dan mendirikan Partai Demokrasi Pembaruan, Roy BB Janis, menuturkan dalam buku itu, dalam sidang kabinet, Megawati biasanya lebih banyak diam. Kalaupun angkat suara fungsinya hanya sebagai pengatur lalu lintas. Kalau ada dua menteri saling berdebat di sidang kabinet, Megawati hanya menonton, jarang memberikan pendapatnya sendiri atau menengahi keduanya meski perdebatan sudah berada pada tingkat "panas".

Ada cukilan kisah menarik tentang diamnya Megawati. Menjelang tutup tahun 2002 aksi-aksi unjuk rasa antipemerintah, terutama dilancarkan mahasiswa, menunjukkan eskalasi yang tinggi. Aksi ini menyusul kebijakan pemerintah menaikkan harga BBM dan tarif dasar listrik. Di tengah ingar-bingar unjuk rasa itu, beredarlah rumor yang menyebutkan ada pihak-pihak tertentu yang sengaja mengompori rangkaian unjuk rasa itu.

Sebagai orang yang ikut bertanggung jawab atas stabilitas pemerintah, Hendropriyono (Kepala Badan Intelijen Negara), Susilo Bambang Yudhoyono (Menteri Koordinator Politik dan Kemanan), dan Da'i Bachtiar (Kapolri), rupanya terus memeras otak untuk mencari tahu siapa dalang aksi-aksi ini. Lantas, dalam rapat kabinet tanggal 20 Januari 2003, muncul empat nama yang disebut-sebut sebagai pihak yang berada di belakang aksi unjuk rasa. Mereka adalah Jenderal Wiranto, Fuad Bawazier, Adi Sasono, dan Eros Djarot. Tentang Fuad Bawazier, memang diketahui lama adalah mitra bisnis Rini Suwandi yang kala itu menjabat sebagai Menteri Perindustrian dan Perdagangan dalam kabinet Megawati. Kemitraan mereka terjadi jauh sebelum Rini menjadi menteri.

Suatu hari bertemulah Hendropriyono dan Rini Suwandi di kediaman Megawati di Jalan Teuku Umar. Hendro menegur keras Rini soal sepak terjang Fuad. Kata-kata Hendro meluncur tanpa tedeng aling-aling. Teguran itu begitu menyakitkan Rini hingga ia menangis sambil memeluk Megawati.. Apa reaksi Presiden? Megawati hanya tersenyum menyaksikan adegan perang mulut antara dua pembantu dekatnya (hal 276).

Pendendam
Semua orang mafhum, hingga detik ini Megawati emoh bertemu dengan Susilo Bambang Yudhoyono, Presiden berkuasa yang notabene adalah mantan pembantunya di kabinet. Dalam upacara kenegaraan memperingati Ulang Tahun kemerdekaan Indonesia Ke-63, 17 Agustus, tahun ini, Megawati tidak hadir. Ketidakhadirannya diyakini karena faktor Yudhoyono sebagai Presiden.

Tjipta menulis, "Di mata Megawati, Susilo Bambang Yuhoyono tidak lebih seorang pengkhianat, bahkan seorang Brutus yang sadis," (hal 303). Ini semua karena sikap "diam-diam" SBY yang mencalonkan diri sebagai Presiden pada Pemilu 2004. SBY dinilai tidak jantan. Beberapa kali Megawati bertanya kepada SBY apakah akan maju dalam Pemilu 2004. Dengan diplomatis SBY menjawab, "Belum memikirkan soal itu, Bu. Saya masih konsentrasi dengan tugas selaku Menteri Koordinator Politik dan Keamanan." (hal 288). Namun, Megawati dan kubunya menaruh kecurigaan besar terhadap SBY dan timnya. Perseteruan di balik selimut pun terjadi.. Terungkap ke publik bahwa Megawati mengucilkan SBY dari sidang-sidang kabinet. Sikap Megawati ini menguntungkan SBY karena dengan itu SBY tampil di media sebagai korban kezaliman Megawati. Pada 12 Maret 2004 SBY mengirimkan surat pengunduran diri dari kabinet. Dua hari kemudian ia terbang ke Banyuwangi, berkampanye untuk Partai Demokrat. Pada putaran kedua Pemilu 2004 SBY menang gemilang dalam pemungutan suara. Megawati sedih dan menangis.

Semua orang tahu, saat pelantikan SBY di Gedung MPR pada 20 Oktober 2004 Megawati tidak hadir, padahal banyak orang dekat membujuknya datang. Semua orang juga tahu, pagi itu Megawati bahkan tidak duduk di depan pesawat televisinya, tapi sibuk berkebun. Menurut penuturan Roy BB Janis, kegusaran dan kebencian Megawati diartikulasikan dalam rapat DPP PDI-P. "Kalau orang lain, Amien Rais presiden, Wiranto presiden, siapalah, saya datang. Namun, kalau ini (SBY) saya enggak bisa karena dia menikam saya dari belakang," begitu kata Megawati seperti ditirukan Roy (hal 289).

"Behind the Scene" (3): Gus Dur Menggebrak Meja Hingga Meraung-raung
Abdurrahman Wahid alias Gus Dur adalah Presiden Indonesia keempat. Masa kepemimpinannya tidak lama, hanya 21 bulan (20 Oktober 1999-23 Juli 2001). Ia dilengserkan oleh Majelis Permusyawaratan Rakyat yang dipimpin Amies Rais dan digantikan Megawati Soekarnoputri. Meski rentang kepemimpinannya paling singkat dalam sejarah Indonesia , sepak terjangnya banyak menuai kontroversi. Manuver-manuvernya sulit dipahami. Gayanya yang ceplas-ceplos menjadi bumerang bagi dirinya sendiri.

Tjipta menyebut dalam bukunya Dari Soekarno sampai SBY: Intrik dan Lobi Politik Para Penguasa, Gus Dur tidak bisa memisahkan statusnya sebagai kiai dan Presiden Republik Indonesia . Statusnya sebagai kiai bahkan kerap lebih menonjol daripada sebagai Kepala Negara. Akibatnya, komunikasi politik Gus Dur kacau. Sebagai kiai Gus Dur adalah sosok yang terbuka terhadap siapa saja, termasuk terbuka terhadap segala informasi yang dibisikan kepadanya. Celakanya, Gus Dur sering percaya begitu saja pada bisik-bisik orang tanpa pernah lagi mengeceknya. Gara-gara bisik-bisik ini pula ada orang kehilangan kesempatan emasnya berkarier di luar negeri. Laksamana Sukardi, kala itu Menteri Negara Badan Urusan Milik Negara, menuturkan dalam buku tersebut, suatu kali dipanggil Gus Dur ke istana. Gus Dur menyampaikan, ada orang Indonesia yang bekerja di luar negeri dengan reputasi sangat baik. Ia masih muda dan pintar. Gus Dur ingin Laksamana mencarikan posisi untuk orang itu. "Dia pintar sekali. Lalu dia mau ditarik ke New York . Kan sayang kalau ada anak muda yang pintar, masak kerja di luar negeri. Tolong, deh," ucap Gus Dur seperti ditirukan Laksamana. Tak lama setelah hari itu, Laksamana kembali menghadap Gus Dur. Ada posisi lowong sebagai Direksi Indosat. "Gus, ingat enggak ini orang, anak muda yang tempo hari Gus titipkan kepada saya? Dia lebih cocok di Indosat Gus," kata Laksamana. Gus Dur rupanya sudah lupa. Setelah berpikir agak lama, tiba-tiba ia menjawab lantang, "Enggak bisa itu orang!" "Lho, kenapa, Gus?" Laksamana terperanjat. "Dia bawa lari istri orang."

Laksamana kaget setengah mati. Pasalnya, ia sudah menyuruh orang itu keluar dari perusahaan tempatnya bekerja, bahkan diminta secepatnya keluar karena ada perintah Presiden. Orang itu pun sudah ada di Indonesia . Laksamana kemudian meminta orang itu menghadap ke kantornya. "Mas, kok Gus Dur bilang kamu bawa lari istri orang?" tanya Laksamana.

"Demi Allah Pak! Saya masih dengan istri saya yang sekarang," jawab orang itu. Usut punya usut, ternyata Gus Dur mendapat bisikan dari orang tertentu tentang anak muda ini.. Dan, faktanya bisikan itu tidak benar. Anak muda bergelar PhD ini akhirnya bekerja di sebuah bank swasta. Laksamana merasa kasihan. Bagaimana tidak! Kariernya di perusahaan luar negeri itu sudah bagus, tapi gara-gara seorang pembisik nasibnya jadi kacau balau (hal 207).

Gus Dur menangis meraung-raung
Gus Dur juga dikenal sebagai sosok yang emosional. Bila marah, ia bisa menggebrak meja dan kata-kata keras meluncur dari mulutnya. Salah seorang mantan menteri yang tidak bersedia disebutkan namanya menuturkan, ia pernah dimarahi habis-habisan. Ceritanya begini, ada seorang kerabat Gus Dur duduk dalam pemerintahan. Sebut saja namanya XZ. Gus Dur sebenarnya tidak pernah mengangkat XZ. Namun, seorang pimpinan salah satu instansi pemerintah mengangkat XZ sebagai pejabat eselon 1. Mungkin, orang itu berpikir dengan mengangkat kerabat Gus Dur kariernya akan jadi lebih baik mengingat kedekatan XZ dengan Gus Dur. Namun, sebagai pejabat eselon 1, XZ diketahui kerap "memeras" sejumlah konglomerat keturunan Tionghoa. Para pengusaha ini mendapat semacam "bantuan", tapi dengan imbalan yang sangat besar. Sang menteri tersebut, sebut saja AB, melaporkan perilaku XZ kepada Gus Dur. Gus Dur marah. AB dicaci maki Gus Dur karena Gus Dur tidak memercayai laporan AB. Beberapa hari kemudian, AB dipanggil Gus Dur ke istana..

Pertemuan empat mata. Begitu masuk ke ruang kerja Gus Dur, AB melihat Gus Dur menangis meraung-raung. Ia tampak dilanda kesedihan luar biasa.. Lama Gus Dur tidak bisa bicara, hanya menangis dan menangis. AB bingung, tidak tahu apa yang sedang dialami Gus Dur. Ia berusaha menenangkan Gus Dur.. "Gus, tenang, Gus. Tenang, Gus! Ada masalah apa?" ucapnya sambil mengusapi dan memijat-mijat tangan Gus Dur. Sesaat kemudian, Gus Dur berusaha menguasai dirinya, sebelum akhirnya membuka suara. Intinya, ia mengakui kebenaran informasi tentang perilaku XZ yang pernah disampaikan AB. "Saya malu! Sangat malu! Ternyata, apa yang kamu laporkan kepada saya memang benar semua! Kurang ajar dia!" ujar Gus Dur (hal 225). Sejak saat itu dan selama setahun lebih, Gus Dur tidak pernah menyapa XZ.

"Behind the Scene" (4): Habibie, Presiden Pintar yang Tidak Pernah Mau Kalah
Meski sekian lama menjadi bagian dari masa Pemerintahan Soeharto dan menganggap Soeharto adalah guru sekaligus bapaknya, gaya kepemimpinan Habibie jauh bertolak belakang dengan orang yang dihormatinya itu. Muladi, mantan Menteri Kehakiman di era Orde Baru, menuturkan, sidang kabinet yang dipimpin Soeharto selalu berlangsung dalam suasana mencekam. Para menteri takut angkat tangan mengajukan diri untuk bicara. Sementara itu, di zaman Habibie, para menteri justru berebut mengacungkan jari. Muladi menggambarkan, susana sidang kabinet seperti sebuah seminar: riuh, panas, kadang gebrak-gebrak meja seperti mau berkelahi. Habibie sendiri yang merangsang suasana seperti itu karena dia memang senang berdebat. Semakin didebat, ia semakin bersemangat. Karena semua menteri boleh bicara dan perdebatan dibuka seluas-luasnya sebelum diambil keputusan, sidang kabinet bisa berlangsung sampai larut malam.

Habibie, menurut Tjipta dalam bukunya "Dari Soekarno sampai SBY: Intrik dan Lobi Politik Para Penguasa", adalah seorang extrovert. Gaya komunikasinya penuh spontanitas, meletup-letup, cepat bereaksi, tanpa mau memikirkan risikonya. Tatkala Habibie dalam situasi penuh emosional, ia cenderung bertindak atau mengambil keputusan secara cepat. Seolah ia kehilangan kesabaran untuk menurunkan amarahnya. Bertindak cepat, rupanya salah satu solusi untuk menurunkan tensinya. Karakteristik ini diilustrasikan dengan kisah lepasnya Timor Timur dari Indonesia .. Semua orang terkejut, terutama Almarhum Ali Alatas yang kala itu menjabat sebagai Menteri Luar Negeri, ketika Habibie tiba-tiba mengumumkan kepada dunia internasional tentang pemberian opsi kepada rakyat Timor Timur: tetap bergabung dengan Indonesia atau melepaskan diri sebagai negara merdeka. Tjipta menganalisa, biang keladi dari keputusan besar ini adalah sepucuk surat Perdana Menteri Australia kala itu, John Howard, yang ditujukan kepada Habibie pada Desember 1998. Menurut penuturan Juwono Soedarsono, Habibie marah membaca isi surat Howard yang meminta Indonesia mempertimbangkan hak politik rakyat Timor Timur untuk menyatakan penentuan nasib sendiri. Habibie merasa surat itu seperti tantangan sekaligus kritik terhadap Pemerintah Indonesia . "Karena Habibie mempunyai tabiat tidak mau kalah dengan siapa pun maka tantangan itu pun secara spontan dijawab," tulis Tjipta. Dalam sidang kabinet 27 Januari 1999, kebijakan pemberian opsi ini dipertanyakan oleh Hendropriyono yang kala itu menjabat sebagai Menteri Transmigrasi. "Kalau plebisit kalah, bagaimana? Siapa bertanggung jawab? Ini kan nanti akan terjadi eksodus, eksodus dari para transmigran yang sudah 25 tahun di sana . Siapa yang bertanggung jawab?" cecar Hendro seperti ditulis dalam buku itu. Habibie dengan sigap menjawab, "Saya bertanggung jawab." Fahmi Idris, Menteri Tenaga kerja kala itu, segera menimpali, "Tanggung jawab apa, Presiden?" Wajah Habibie tampak merah. Seorang menteri dari Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) lantas menengahi situasi panas ini. (halaman 154)

Bagaimana dengan SBY?
Selanjutnya, bagaimana dengan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY)? Tjipta menilai, SBY adalah sosok yang perfeksionis. Ia selalu tampil rapi dengan tutur kata yang tertata. SBY pasti sadar bahwa ia seorang pria yang dikaruniai Tuhan dengan wajah cukup ganteng, dan ia betul-betul memanfaatkan ketampanannya setiap kali tampil di depan pers. Seolah kegantengannya dan penampilannya yang dandy merupakan daya tarik tersendiri yang harus selalu 'dijual' kepada publik setiap kali ia tampil. "Pakaian yang dikenakan?apakah berupa setelan jas atau batik?selalu berkualitas No. 1 dengan warna, motif, dan ukuran mantap, mencerminkan seleranya berbusana yang tinggi. Ketika itu ia mungkin lebih pas diberikan predikat sebagai 'foto model' atau 'aktor' daripada seorang 'kepala negara'," tulis Tjipta.

Sebagai seorang perfeksionis, lanjut Tjipta, SBY selalu berusaha berkomunikasi dengan bahasa tubuh dan verbal yang sempurna. Namun, gaya bahasanya sering kali high-context, cenderung berputar-putar, terutama ketika ia belum siap dengan keputusannya. Sayang, tidak banyak hal tersembunyi yang terungkap dalam analisis terhadap gaya komunikasi politik SBY. Tjipta banyak menggunakan contoh dari pemberitaan di media massa . Mungkin para pembantunya belum ada yang berani bicara terbuka karena Bapak Presiden masih berkuasahttp://ramaycollection.multiply.com/*
(Selesai)