Sabtu, Juni 27, 2009

Michael Jackson Meninggal Dunia

Kompas.com, Jumat, 26 Juni 2009 | 05:59 WIB

Mega bintang Michael Jackson dilaporkan meninggal dunia setelah dilarikan ke sebuah rumah sakit di Los Angeles, Kamis (25/6). Laporan tersebut dikeluarkan oleh Los Angeles Times dan Associated Press sementara jaringan televisi CNN belum memastikan laporan kematian bintang berusia 50 tahun itu.

Menurut sumber CNN, Jackson berada dalam kondisi kritis. Brian Oxman, pengacara keluarga Jakson, menjelaskan mendapatkan informasi dari kakak Michael Jaskcon, Randy Jackson bahwa mega bintang itu tidak sadarkan diri setelah menderita cardiac arrest atau mendadak terhentinya kerja jantung di kediaman di Los Angeles barat.
Jackson dilarikan ke UCLA Medical Center setelah petugas pemadam kebakaran Los Angeles menerima laporan itu dari jalur telpon permohonan bantuan darurat 911. Menurut Kapten Steve Ruda dari dinas pemadam kebakaran Los Angeles, permohonan bantuan itu diajukan dari sebuah kediaman di Los Angeles barat pada pukul 12:21 waktu Los Angeles atau 02.30 Jumat (26/6) WIB.
Mega bintang yang berasal dari Gary, Indiana ini dikenal dengan julukan "King of Pop." Jakson merupakan anak ke-7 dari sembilan bersaudara dari sebuah keluarga musisi yang terkenal.
Saat ini, setiap pintu masuk menuju fasilitas gawat darurat UCLA Medical Center dijaga ketat oleh personel keamanan. Bahkan tidak seluruh staf rumah sakit mendapatkan akses masuk ke ruang itu. Beberapa orang yang tampak berada di ruang tunggu sekitar fasilitas gawat darurat UCLA Medical Center tak kuasa menahan haru dan larut dalam kondisi duka dengan saling bertangis-tangisan.

Raja Pop Michael Jackson Meninggal Dunia
TEMPO Interaktif, Jakarta, Jum'at, 26 Juni 2009 | 09:39 WIB

Raja pop dunia Michael Jackson meninggal dunia hari Kamis (25/6) tengah malam, setelah dilarikan ke University California Los Angeles Medical Center. Dia terjatuh akibat serangan jantung di dalam rumahnya di Holmby Hills, Los Angeles, pada siang harinya, dan dipastikan meninggal pada malam harinya. "Dia meninggal di rumah sakit akibat serangan jantung," ujar saudaranya Randy Jackson.

Letnan Fred Corral dari kepolisian Los Angeles mengatakan sebuah otopsi untuk memastikan penyebab kematiannya akan dilakukan pada Jumat (26/6) hari ini, yang hasilnya akan segera diumumkan pada Jumat siang.

Jackson dalam kondisi kritis sejak Kamis siang, Ia kemudian dilarikan ke UCLA Medical Canter oleh dinas pemadam kebakaran Los Angeles, setelah mendapatkan panggilan darurat 911 pada pukul 12.21 waktu Los Angeles. Jackson segera masuk ke fasilitas unit gawat darurat begitu sampai di rumah sakit tersebut, namun jiwanya tak tertolong dalam beberapa jam kemudian. Ia meninggal pada usia 50 tahun.

Seluruh fasilitas umum di UCLA Medical Center, untuk sementara ditutup dan mendapatkan penjagaan ketat, begitu artis yang mendapatkan julukan sebagai 'the king of pop' ini masuk ke rumah sakit tersebut. Beberapa personel keamanan tampak disiagakan, untuk mengantisipasi serbuan kalangan media yang ingin meliput peristiwa ini. Sejumlah penggemarnya, terutama warga Amerika Serikat yang berkulit hitam, sudah tampak berada di UCLA Medical Center, dengan membawa karangan bunga dan tak kuasa menahan haru, menangis dan larut dalam kesedihan yang mendalam.

Menurut penulis buku biografi Michael Jackson, Ian Halperin, sebelumnya Jackson belum pernah dikabarkan menderita penyakit jantung. Pada bulan Desember tahun lalu, Michael Jackson memang sempat masuk rumah sakit, akibat menderita kelainan genetis tubuhnya tidak bisa memproduksi protein Alpha-1 antitrypsin, yang kemudian mempengaruhi kondisi paru-parunya, sehingga Jackson mengalami emphysema (sesak nafas). Ia sebernarnya direncanakan akan menjalani operasi cangkok paru-paru, namun karena kondisi fisiknya yang lemah, operasi itu masih tertunda sampai menjelang kematiannya. Ia dikabarkan juga menderita sejumlah penyakit pada saluran pencernaannya. Untuk itulah, proses otopsi masih diperlukan untuk memastikan penyebab kematian Jackson.
Michael Jakson tak hanya dikenal sebagai bintang penyanyi pop, tetapi juga dikenal sebagai 'icon' kebudayaan pop, yang melawan perspektif rasisme sebagian publik Amerika, dengan keputusannya menjalani operasi penggantian warna kulitnya yang aslinya berkulit hitam menjadi kulit putih, untuk menyatakan bahwa warna kulit sesungguhnya bukanlah sebuah penentu dominasi dalam kebudayaan, karena warna kulit bisa diubah. Sekaligus pernyataannya agar semua orang bisa menerima perbedaan warna kulit.
Sejumlah album legendaris Michael Jackson diantaranya adalah Off the Wall, Thriller dan Bad. "Ia akan dikenang dalam sejarah, bahwa yang menentukan keberhasilannya adalah benar-benar musik dan penampilannya yang luar biasa," ujar aktivis hak-hak sipil Amerika Serikat, Al Sharpton. WAHYUANA


Jacko Telah Tiada
Dijadwalkan Konser Juli

BRE REDANA, Jakarta, Kompas - Dunia terkejut. Pemusik yang telah menyerahkan seluruh hidupnya bagi industri pop, Michael Jackson, meninggal dunia di Los Angeles, Kamis (25/6) pukul 14.26 (Jumat pagi waktu Indonesia). Kabar meninggalnya sosok yang ditabalkan sebagai ”King of Pop” ini di Amerika segera melindas berita lain, dari berita politik sampai berita apa pun.
Di jantung New York yang berarti juga jantung dunia hiburan dunia, Times Square, para turis dan pejalan kaki melihat di layar televisi raksasa tulisan: ”Michael Jackson meninggal di usia 50”. Hampir seluruh layar televisi beralih ke berita mengenai Jackson. Kabar duka itu menyebar ke seluruh dunia, memancing komentar para pesohor dari kalangan hiburan sampai ke tokoh-tokoh pemerintahan.
Michael Jackson, yang praktis menyepi sejak tahun 2005, pingsan di rumah sewaannya di lingkungan eksklusif Los Angeles, Holmby Hills, sebelum dilarikan ke rumah sakit Los Angeles County Coroner—semacam rumah sakit jantung setempat. Juru bicara rumah sakit mengumumkan, Jackson meninggal pukul 14.26 karena serangan jantung. Dari berbagai kantor berita, otopsi akan dilakukan hari Jumat (26/6) yang berarti hari Sabtu ini waktu Indonesia.

Panggilan layar
Menambah daftar artis besar yang mati muda, perhatian dunia yang tersedot oleh meninggalnya Jackson barangkali hanya bisa dibandingkan dengan meninggalnya Elvis Presley, John Lennon, dan Putri Diana. Bagi sejumlah penggemar, meninggalnya Jackson pasti lebih mengagetkan lagi karena terjadi menjelang rencana konsernya setelah absen sekitar satu dekade. Jackson merencanakan rangkaian konser ”penghabisan”, dijadwalkan dimulai tanggal 13 Juli mendatang di London.
”Ini panggilan layar terakhir dan saya akan ketemu Anda Juli,” kata Jackson bulan Maret lalu di depan para penggemar yang hanya bisa melihat sekelebatan bintangnya itu. Ucapan tadi disambut histeria, dari teriakan sampai tangisan.
Nyatanya, layar panggung tak bakal pernah terbuka lagi. Ia telah meninggalkan penggemarnya dan siapa saja makhluk di zaman ini yang mustahil bisa menghindarkan diri dari persentuhan dengan industri pop.
Lahir 29 Agustus 1958 di Gary, Indiana, Amerika Serikat, sebagai anak ketujuh dari sembilan bersaudara, Jackson boleh dikata telah menyerahkan seluruh totalitas hidupnya bagi industri pop. Pada usia dini, 6 tahun di tahun 1964, ia telah bergabung dengan saudara-saudaranya (Jackie, Tito, Jermaine, dan Marlon) dalam kelompok yang dikenang orang sebagai The Jackson 5. Di kelompok itu sebagian orang barangkali bisa mengingat, dua bocah cilik, yaitu Jackson dan Marlon, masing-masing bermain conga dan tambourine. Pada perkembangannya, keduanya menjadi lead vocal dengan aksi yang pada masanya sangat menggemaskan.

Pucat
Michael Jackson melesat bagai meteor setelah berkarier secara solo dan bersama produser Quincy Jones pada tahun 1982 melahirkan Thriller—album terlaris sepanjang masa, dengan angka penjualan sejauh ini melampaui 41 juta. Dari perjalanan kariernya, Jackson tidak hanya melahirkan terobosan dari segi musik dengan campuran pop, R&B, rock, dan soul, tetapi juga melumerkan batas antara musik dan presentasi video. Pada Jackson, keduanya hadir serentak memukau pemirsa televisi di zamannya—atau sebutlah, pada masa itulah lahir generasi MTV.
Seluruh penampilan Jackson dikenang sebagian manusia di planet ini dengan gerak elektriknya yang seperti mengandung paradoks, ”maju ke belakang” lewat moonwalk. Sebagian orang Indonesia menyaksikan penampilan itu di Singapura beberapa tahun lalu. Pada waktu itu negeri tetangga tersebut dibanjiri orang Jakarta sampai seperti Pasar Baru—orang menyeberang jalan sesukanya dan membuat petugas di Singapura kewalahan belaka.
Perjalanan dari usia dini masuk dunia hiburan sampai kemudian ke takhta ”King of Pop”, pada akhirnya bukan tidak menuntut bayar pada Jacko—begitu dia disebut. Industri pop secara perlahan tapi pasti telah mengadopsi Jacko menjadi ”anak kandung”-nya.
Gemerlap dan manipulasi citra industri pop telah membawa ”sang raja” itu pada dunia gadungan, di mana yang nyata dan tidak nyata tak lagi bisa dibedakan. Kaburnya batas antara yang nyata dan tidak nyata berikut rekayasa industrial menyatu utuh dalam Jackson: wajahnya dipermak lewat operasi plastik, kulitnya diputihkan, dan seksualitasnya jadi kacau. Berkali-kali dia terkena dakwaan pelecehan seksual terhadap anak-anak.
Ia membangun tempat tinggal yang disebut Neverland, pulau pengembaraan tokoh fiktif yang menolak menjadi dewasa, Peter Pan. Transformasi fisik, kekacauan perkembangan kepribadian, keterasingan, sementara di pihak lain intrusi pers yang kejam terhadap kehidupan pribadi boleh jadi membawa orang-orang dalam posisi seperti ini sampai pada titik yang disebut death wish.
Beberapa artis yang akan tampil bersama Jackson bulan Juli mendatang bersaksi, kaget melihat penyanyi itu. Katanya, Jackson pucat, tubuhnya seperti kertas yang angin pun akan menerbangkannya. Raja pop itu menjelang ujung tragedi: mati dalam sepi.



Dunia Berduka bagi Jacko
Madonna Tidak Bisa Berhenti Menangis

Kompas, Sabbtu, 27 Juni 2009 | 03:44 WIB

Los Angeles, Jumat - Dari Sidney hingga Bogota, begitu juga di kota-kota di berbagai belahan dunia, para penggemar berduka bagi Michael Jackson (50). Tidak ketinggalan, selebritis dunia juga mengungkapkan kehilangan mendalam.
Begitu mendengar berita Raja Pop itu meninggal, Rina Masaoka, seorang mahasiswa di Jepang, mengatakan, ”Barangkali ini sama mengejutkannya dengan berita meninggalnya Putri Diana.”
Penggemar Jackson, atau yang juga biasa dipanggil Jacko, di Mumbai, India, Jumat (26/6), mengenang dia di lokasi konsernya di kota itu tahun 1996. ”Berapa orang yang bisa menari seperti dia? Bisa-bisa lehermu patah,” kenang Bal Thackeray (83), yang mengundang Jackson untuk menggelar konser di Mumbai.
Di Beijing, China, penggemar Jackson mengenang Raja Pop karena musiknya telah menjadi soundtrack bagi tahun-tahun pertama negara itu membuka diri kepada dunia hampir 30 tahun lalu. ”Hidupnya mungkin aneh, tetapi musiknya mengiringi saya sejak masa muda saya,” kata Wang Fang (45), pengusaha.
Dari Johannesburg, The Nelson Mandela Foundation turut berbelasungkawa atas meninggalnya Jackson. Mandela menyambut hangat Jackson saat berkunjung ke Afrika Selatan tahun 1999 untuk menerima penghargaan seumur hidup di Kora All Africa Music Awards.
Mark Lester, teman masa kecil Jackson, menuturkan, baru beberapa hari yang lalu dia bercakap-cakap dengan Jackson. ”Dia benar-benar sedang berada di puncak, bekerja keras, dan sangat bersemangat dengan pertunjukannya nanti. Sungguh-sungguh tak dapat dipercaya,” tuturnya.

Pujian dan kekaguman
Selebritis top dunia pun mengungkapkan duka mendalam dan rasa kehilangan. Lisa Marie Presley, putri mendiang Elvis Presley, yang menikahi Jackson pada pertengahan tahun 1990-an, menyatakan sangat sedih, terutama bagi anak-anak yang sangat dicintai Jackson.
Saudari Jackson, penyanyi Janet Jackson, menuturkan, dia sangat sedih dan hancur karena saudaranya mendadak meninggal. Dia langsung terbang ke California untuk bertemu keluarganya.
Penyanyi Madonna menuturkan bahwa dia tidak bisa berhenti menangis. ”Saya selalu mengagumi Michael Jackson. Dunia telah kehilangan salah satu orang terbesar, tetapi musiknya akan hidup selamanya,” tutur Madonna.
Mantan anggota The Beatles, Paul McCartney, yang pernah berkolaborasi dengan Jackson dalam lagu ”Say Say Say” dan ”The Girl is Mine” pada awal 1980-an, memuji Jackson sebagai seorang yang sangat berbakat dengan hati yang lembut. ”Saya merasa terhormat bisa bekerja bersama Michael,” ujarnya.
Penyanyi Celine Dion mengatakan, stres bisa jadi ikut berkontribusi dalam kematian Jackson. ”Saat kita melihat dia, kita merasakan kerapuhannya. Itu buruk karena, ya, dia luar biasa. Namun, tak mungkin manusia hidup seperti itu setiap hari. Apa yang saya lihat sekarang, sayangnya, adalah akibat stres,” tutur Dion kepada Europe 1.
Sederet bintang dunia, seperti penyanyi Justin Timberlake, aktris Brooke Shield, mantan gitaris Guns N’ Roses, Slash; aktris Elizabeth Taylor, dan sutradara Steven Spielberg, juga menyatakan kehilangan besar atas meninggalnya Michael Jackson.
(ap/afp/reuters/fro)

Kematian Muda Sang Raja Pop Dimata Artis-artis Hollywood

Jum'at, 26 Juni 2009 | 09:16 WIB

TEMPO Interaktif, Jakarta - Kematian tragis Michael Jackson betul-betul mengagetkan dunia. Meninggal Kamis (25/6) malam hari di UCLA Medical Center, Los Angeles, pada usia 50 tahun, membuat semua orang terperangah, tak menyangka 'sang raja pop dunia' itu akan pergi secepat itu.

"Dari dalam lubuk hati yang dalam, saya sangat sedih kehilangan teman sejati saya Michael. Dia adalah seorang yang luar biasa, artis dan kontributor bagi seluruh dunia. Saya akan bergabung bersama keluarganya dan seluruh penggemarnya untuk merayakan kehidupannya sekaligus meratapi kepergiannya yang terlalu cepat," ujar artis dan model cantik Brooke Shields dalam statemen resminya.
Sedangkan bekas isteri Michael Jackson, Lisa Marie Presley, yang merupakan anak dari bintang pop tahun 60-an Elvis Presley, dalam pernyataan bela sungkawanya
menyatakan, "saya benar-benar kaget dan sedih atas kepergian Michael. Hatiku bersama anak-anaknya dan keluarganya."

Sahabat karib Michael, aktor Joe Pesci, mengatakan Michael tak hanya seorang entertainer hebat tetapi juga seorang ayah yang baik. "Dia seorang ayah yang baik, dia selalu menyenangkan dengan anak-anak," ujar Pesci.

Aktivis hak asasi manusia Amerika Serikat, Al Sharpton, mengaku sangat sedih tak menyangka atas kepergian Michael, karena beberapa bulan lalu ia sempat bertemu untuk mendukung dan ingin hadir dalam konser Michael di London bulan depan. "Dalam pembicaraan terakhir kami beberapa bulan lalu, saya telah mengatakan akan hadir dalam pertunjukkannya kembali di London, dan dia mengeluh tentang banyak orang yang telah meninggalkannya, tetapi saya bilang itu tidak masalah, karena penggemarmu tidak akan pernah pergi," ujar Al Sharpton.

"Untuk Michael yang pergi pada usia muda. Aku tidak mampu berkata-kata," ujar Quincy Jones, produser album Michael berlabel 'Thriller,' "dia entertainer yang sejati dan kontribusinya akan dikenang dunia sepanjang masa. Hari ini, saya sepert kehilangan saudara, dan sebagian perasaan saya hilang bersama kepergiannya."

Neil Portnow, presiden dari perusahaan rekaman The Recording Academy mengatakan, bahwa karir Jakson telah melampaui batas-batas musik dan kebudayaan dan kontribusinya akan selalu dikenang dalam hati setiap orang. "Jarang sekali dunia mendapatkan sebuah hadiah yang mempunyai bakat, magnet, dan visi seperti Michael Jackson. Dia benar-benar icon musik yang inovatif sejak dari kecil," ujar Portnow.

Pendapat lain dikemukakan oleh mantan pentinju kelas berat yang juga bekas teman Jackson, Michael Levine, "Michael mungkin telah lama menjalani masa-masa yang sulit dan sering merusak perjalanan hidupnya sendiri selama bertahun-tahun. Soal bakatnya tak usah dipertanyakan lagi, tetapi ia hidup tidak nyaman dengan berbagai norma-norma yang berlaku di dunia. Sebagai manusia normal, Ia tak mampu menghadapi tingkat stress yang tinggi dalam hidupnya," ujar Levine pada Foxnews.

"Sejak penampilan pertamanya dalam Jakson 5 sampai penampilannya dalam album Moonwalk dan Thriller, Michael adalah sebuah fenomena pop yang tidak pernah berhenti mencoba berkreativitas," ujar Gubernur California Arnold Schwarzenegger dalam ucapan bela sungkawa resminya," meskipun ada sejumlah pertanyaan dalam kehidupan pribadinya, tetapi tak diragukan lagi Michael adalah seorang entertainer besar, dan popularitasnya telah melampui perbedaan generasi dan global. Maria (mantan istri Jackson) dan saya akan bergabung dengan semua warga California merasa kaget dan sedih atas kepergian Michael, dan hati kami bersama dengan keluarga Jackson, anak-anaknya, dan penggemarnya di seluruh dunia," ujar Schwarzenegger yang juga mantan bintang film-film laga Hollywood.

WAHYUANA

Kematian Michael Jackson Seperti Kennedy

Jum'at, 26 Juni 2009 | 07:16 WIB

TEMPO Interaktif, Michael Jackson - Kabar meninggalnya Si Raja Pop Michael Jackson ternyata menyebar cepat. Sejak dia diboyong ke ruang perawatan intensif di UCLA Medical Center Kamis siang waktu Amerika Serikat, ratusan orang berdatangan memadati rumah sakit itu. Jackson di bawa ke rumah sakit setelah dia tak bernapas pukul 12.30.

Akibatnya polisi terpaksa memasang tali kuning bertuliskan "garis polisi dilarang melintas". "Bapak-bapak dan ibu-ibu, Michael Jackson telah meninggal," seorang perempuan yang naik bus di Manhattan berteriak.

Di Time Square, di New York, banyak orang menyatakan sedih saat sebuah papan iklan menayangkan kabar bahwa Jackson telah meninggal. Lalu secara beranting orang-orang di sana mengabarkan berita sedih lewat ponsel masing-masing kepada teman-temannya.

"Ini bukan lelucon. King of Pop benar-benar tiada," kata Michael Harris, 36 tahun, warga kota New York yang mendapatkan kabar itu dari SMS. "Kematiannya ini seperti saat Kennedy dibunuh. Saya akan selalu ingat bahwa saya sedang di Times Square saat Michael Jackson meninggal."


Michael Jackson: Paling Top, Paling Kontroversial
Jum'at, 26 Juni 2009 | 09:06 WIB

TEMPO Interaktif, Jakarta - Michael Jakson, yang meninggal di Los Angeles, Kamis (25/6), memang menjadi salah satu penyanyi dan penulis lagu paling berbakat di dunia. Tapi dia juga menjadi salah satu artis yang paling sering diberitakan karena kontroversi tindakannya.

Ia memang aneh. Ia gemar mengubah wajahnya lewat bedah plastik. Ia sangat eksentrik. Ia pernah disidang karena dituduh melakukan pelecehan seksual terhadap anak-anak.

Jackson lahir sebagai anak ketujuh dari sembilan bersaudara. Keluarga itu memang penuh bakat musik, jadi ayahnya membentuk grup band dengan nama Jackson Five.

Bocah ini bergabung dengan band keluarga yang cukup top di Amerika Serikat itu saat ia belum genap enam tahun. Dua tahun berikutnya--bersama kakaknya, Jermaine Jackson, ia menjadi penyanyi utama. Lewat band ini, Jackson kecil mengasah kemampuan bernyanyi dan menari.

Saat pamor Jackson Five (sempat mengubah nama menjadi The Jacksons) meredup, Michael merilis album solo pada 1979 yakni "Off the Wall". Album ini langsung melejit. Dua lagunya, "Don't Stop 'Til You Get Enough" dan "Rock with You", menduduki puncak tangga lagu Amerika Serikat.

Tapi album yang benar-benar membuatnya top adalah "Thriller" pada November 1982. Jackson menulis empat dari sembilan lagu di dalam album ini. Album ini menjadi album terlaris sepanjang masa dengan penjualan diperkirakan pada kisaran 100 juta buah.

Album itu digemari kulit putih maupun hitam. Ia berduet dengan Paul McCartney lewat "The Girl is Mine". Ia menggabungkan musik yang enak untuk ajojing dengan heavy metal lewat "Beat It" (raungan gitar Eddie Van Halen mengisi lagu itu)

Album itu benar-benar membuat Michael Jackson menjadi bintang paling top pada awal 1980-an. Ia bisa diterima penggemar musik kulit hitam maupun kulit putih. Tak heran, Presiden Ronald Reagan sampai mengundang Michael Jackson ke Gedung Putih. Ciri khas Michael Jackson--sarung tangan hanya dipakai di satu tangan dan baju ala Sargeant Pepper's Lonely Hearts Club Band--menjadi top.

Setelah album "Thriller", Jackon merilis sejumlah album lain yakni "Bad", "Dangerous", "HIStory", dan "Invicible". Album ini tidak bisa dibilang gagal untuk ukuran artis biasa, tapi dibanding dengan "Thriller", kalah jauh. Meski begitu, Jackson tetap top.

Tapi popularitas ini juga membuat keanehan Jackson tidak terkendali. Jackson membeli simpanse bernama Bubbles. Ia mengaku toilet untuk Bubbles dan dirinya sama. Ia juga mengaku menderita vitiligo yang membuat kulitnya memutih. Jackson juga diberitakan berusaha hidup awet muda dengan masuk tabung oksigen. Bintang ini kemudian membeli ranco--disebut Ranco Antah Berantah (Neverland Ranch)--seluas 1.100 hektare.

Berita tentang Jackson tidak berhenti di sini. Ia menulis biografi "Moonwalk" yang mengungkapkan saat kecilnya sering dipukuli ayahnya. Ia mengaku menjalani sejumlah operasi plastik.

Pada pertengahan 1990-an, Jackson dituduh melakukan pelecehan seksual kepada Jordan Chandler, 13 tahun. Kasus ini diselesaikan dengan damai, dengan Jackson membayar ganti rugi US$22 juta (Rp 225 miliar). Tapi kasus ini membuat Jackson terpaksa mengkonsumsi obat penenang. Belakangan ia malah ketagihan obat penenang ini.

Sesaat setelah kasus ini muncul, Jackson menikah dengan Lisa Marie Presley--anak satu-satunya penyanyi top Elvis Presley--tapi hanya bertahan dua tahun.

NURKHOIRI

Minggu, Juni 21, 2009

Boediono dan Neoliberalisme


Analisis Revrisond Baswir

Harian Kedaulatan Rakyat, 20 Juni 2009

DALAM tulisan sebelumnya (KR, 17/5/2009), saya telah mengemukakan secara singkat pengertian, asal mula dan perkembangan neoliberalisme. Kesimpulannya sangat jelas, sebagai pembaharuan liberalisme, neoliberalisme tetap memuja ekonomi pasar. Campur tangan negara, walaupun diundang, hanya dibatasi sebagai pengatur dan penjaga bekerjanya mekanisme pasar.
Yang menarik, dalam pro-kontra neoliberalisme versus ekonomi kerakyatan yang terjadi belakangan ini, hampir semua pihak enggan disebut sebagai seorang neolib. Bahkan, sebagaimana dipertontonkan oleh para ekonom pembela Boediono, dengan sangat memaksa mereka mencoba mengaitkan Boediono dengan ekonomi Pancasila.
Pertanyaannya, mengapa kebanyakan ekonom yang selama ini sangat pro-pasar tersebut tiba-tiba menghindar disebut sebagai seorang neolib? Benarkah Boediono seorang pendukung ekonomi Pancasila? Dan peristiwa apa sajakah yang perlu dicermati untuk mengetahui ideologi ekonomi seseorang?
Pertanyaan pertama dapat dijawab dengan mudah. Pertama, andaikan bukan dalam suasana pemilu, sebenarnya para ekonom pembela Boediono itu tidak memiliki alasan apa pun untuk mengelak dari tuduhan sebagai seorang neolib. Hal itu tidak hanya karena teori-teori yang mereka pelajari hampir seluruhnya berbasis liberalisme dan kapitalisme, tetapi terutama karena dukungan terbuka mereka terhadap pelaksanaan agenda-agenda Konsensus Washington selama ini.
Kedua, karena dalam pro-kontra neoliberalisme versus ekonomi kerakyatan itu neoliberalisme secara langsung dibenturkan dengan konstitusi. Maka menentang konstitusi secara terbuka jelas bukan pilihan politik yang bijak. Walau pun demikian, sebagaimana berlangsung 40 tahun terakhir, hal itu sama sekali bukan jaminan bahwa para ekonom pro-pasar itu akan berhenti meminggirkan konstitusi.
Berangkat dari kedua penjelasan tersebut, maka upaya untuk mengenali posisi Boediono terhadap ekonomi Pancasila menjadi lebih mudah untuk dilakukan. Pertama, secara jujur harus diakui, sebagai penyumbang tulisan dalam seminar ekonomi Pancasila yang digelar Fakultas Ekonomi UGM pada 1980 dan turut menyunting buku kumpulan makalah seminar itu, Boediono memang memiliki jasa yang cukup besar dalam mengangkat ekonomi Pancasila kepermukaan.
Pertanyaannya, kiprah apa sajakah yang dilakukan Boediono dalam mengembangkan ekonomi Pancasila setelah seminar tersebut? Beberapa tahun pertama setelah seminar itu, Boediono memang masih cukup aktif terlibat dalam perbincangan mengenai ekonomi Pancasila. Ia, misalnya, bersama Mubyarto, turut berpolemik dengan Arief Budiman. Setelah itu, Boediono juga turut menyumbangkan tulisan untuk buku Wawasan Ekonomi Pancasila yang disunting oleh Abdul Madjid dan Sri-Edi Swasono (1981).
Tetapi setelah bergabung dengan Bappenas pada 1984, Boediono serta merta hilang dari peredaran. Sebagian orang mungkin akan berkata, bukankah dengan menjadi birokrat Boediono justru memiliki kesempatan untuk mengamalkan ekonomi Pancasila?
Perjalanan karier Boediono ternyata berbicara lain. Sebagaimana diketahui, setelah berkarir di Bappenas, Boediono kemudian secara berturut-turut menjabat sebagai Direktur Bank Indonesia, Kepala Bappenas dalam pemerintahan Habibie, menteri keuangan Pemerintahan Megawati, Menteri Koordinator Perekonomian Pemerintahan SBY-JK. Dan terakhir menjadi Gubernur Bank Indonesia. Tentu banyak catatan yang bisa dibuat mengenai sepak terjang Boediono sepanjang karier birokrasi dan pemerintahannya tersebut. Yang jelas, setelah Indonesia mengalami krisis moneter pada 1997/1998 dan Boediono menjabat sebagai Menteri Keuangan Pemerintahan Megawati, pada masa itulah privatisasi BUMN berlangsung secara masif.
Kemudian, pada 2006, ketika Boediono menjabat sebagai menteri koordinator perekonomian, pada masa ini pula pemerintahan SBY-JK sangat gencar menaikkan harga BBM. Pendek kata, dalam dua pemerintahan terakhir, Boediono terlibat secara aktif dalam melaksanakan agenda-agenda ekonomi neoliberal di Indonesia.
Pertanyaannya, di antara beragam peristiwa sepanjang karier birokrasi dan pemerintahan Boediono itu, peristiwa apakah yang sangat tegas mengungkapkan ideologi ekonominya?
Jawabannya dapat ditelusuri dengan menyimak proses amandemen Pasal 33 UUD 1945 pada 2002. Sebagai menteri keuangan, Boediono termasuk yang dimintai pendapat oleh MPR mengenai Pasal 33 UUD 1945. Tetapi berbeda dari Mubyarto yang secara mati-matian membela Pasal 33, Boediono ternyata mendukung amandemen. Mubyarto ketika itu pasti sangat membutuhkan dukungan Boediono selaku pejabat pemerintah. Tetapi fakta berbicara lain. Akibatnya, karena merasa dikeroyok oleh para ekonom neoliberal yang menjadi anggota Tim Ahli PAH IV MPR, kecuali Dawam Rahardjo, maka Mubyarto memutuskan untuk mundur sebagai ketua tim tersebut.
Boediono, yang ketika menggagas ekonomi Pancasila berada di sisi Mubyarto, saat amandemen Pasal 33 UUD 1945 ternyata berada di kubu seberang. Kesimpulannya, wallahua’lam. (Penulis adalah Tim Ahli Pusat Studi Ekonomi Kerakyatan UGM)-e

Jumat, Juni 19, 2009

Pilpres Iran : Pemerintah Vs Teknologi Internet


Kompas, Jumat, 19 Juni 2009

Memasuki hari keenam, protes massal terhadap hasil pemilihan presiden Iran kian gencar. Dukungan bagi gerakan reformasi dan kandidat presiden yang kalah (termasuk mantan Perdana Menteri Mir Hossein Mousavi) meluas setelah terjadi bentrokan berdarah dan tewasnya tujuh orang akibat terkena tembakan aparat keamanan Iran, Senin lalu.
Berkat teknologi internet, seluruh dunia dapat menyaksikan dan ikut merasakan apa yang tengah terjadi di Iran melalui pesan singkat atau rekaman kamera video. Potongan gambar dan rekaman video kekisruhan Iran tak henti-hentinya disiarkan berbagai media massa. Pemerintah Iran menilai berbagai media—terutama media asing—”menodai” citra Iran dengan melulu mempertontonkan foto dan gambar kekerasan.
Bahkan, media asing dituding menjadi ”corong” para pemrotes. Garda Revolusioner Iran juga menuduh media yang justru memancing kerusuhan. Akhirnya wartawan media asing dilarang beredar di jalanan dan meliput gelombang protes itu. Padahal, protes kali ini adalah yang terbesar sejak revolusi tahun 1979 yang melahirkan Republik Islam Iran.
Yang boleh dilakukan hanya bekerja dari dalam kantor, seperti membuat berita di dalam kantor, wawancara narasumber melalui telepon, dan memantau siaran berita resmi hanya dari stasiun televisi pemerintah. Pembatasan informasi terhadap wartawan juga pernah terjadi saat revolusi Iran tahun 1979. Saat itu berbagai media masih tergantung sepenuhnya pada jaringan telepon kabel dan teleks perusahaan telekomunikasi milik pemerintah untuk mengirimkan berita ke berbagai negara.
Menurut lembaga pemantau sensor internet, OpenNet Initiative, warga Iran juga pernah hanya bisa mengandalkan internet selama masa kepresidenan Mohammad Khatami tahun 1997 hingga 2005. Ketika itu, puluhan media independen ditutup dan wartawan dipenjara.
Selain menjegal media asing, pemerintah juga menutup akses internet berbagai media independen agar potongan gambar dan rekaman video tentang apa yang terjadi di Iran tidak bocor. Namun, upaya itu sia-sia karena sampai saat ini gambar dan video protes tetap bermunculan di mana-mana meski dengan kualitas yang tidak terlalu baik. Terkadang buram dengan gerak gambar yang tersendat-sendat.
Tidak akan mudah bagi rezim Presiden Mahmoud Ahmadinejad atau Garda Revolusioner Iran untuk menghambat bahkan menutup arus informasi di era internet seperti sekarang. Seperti kata peribahasa ”banyak jalan menuju ke Roma”, warga Iran (mayoritas anak muda) tak kehilangan akal dan berpaling ke situs jaringan sosial, seperti Facebook dan Twitter atau situs Youtube (forum global bagi ekspresi bebas), untuk menyebarkan informasi setiap saat.
Kini otomatis berbagai media sepenuhnya bergantung pada jurnalisme warga. Rekaman gambar dan video yang dipublikasikan para netter (pengguna internet) melalui internet ini yang disiarkan berbagai media asing, antara lain stasiun televisi CNN, dengan penjelasan asal sumber informasi. Pasalnya, mayoritas informasi yang ada di jaringan sosial belum dapat 100 persen dipastikan keasliannya.
Berbagai upaya dilakukan pemerintah untuk menghalangi warga menyebarkan informasi. Selain internet, jaringan telepon juga dibatasi dan dipantau. Pakar masalah sensor di internet di Universitas Harvard, John Palfrey, mengatakan, pemerintah harus menutup seluruh akses ke dunia maya jika ingin mencegah warga menyebarkan pesan singkat, foto, atau surat elektronik (e-mail). Ini yang dilakukan rezim Korea Utara, Kuba, Moldova, dan Myanmar.
Solidaritas ”netter”
”Barisan dukung Mousavi tetap sesuai rencana jam 5 sore,” begitu salah satu pesan singkat atau ”tweet” di Twitter.
”Semoga sukses. Jangan bawa mobil,” bunyi pesan lain.
”Kata teman saya, ada 100 siswa yang ditahan. Para bajingan itu menyerang kita tanpa alasan jelas. Banyak sekali gas air mata yang dilempar ke arah kita. Saya minta tolong ke siapa saja yang bisa datang ke sini. Jangan tinggalkan kami,” begitu bunyi ”tweet” yang lain seperti yang dikutip di cnn.com.
Pesan-pesan berisi dukungan atau pengumuman seperti ini yang berseliweran setiap saat di Twitter. Meski dibatasi hingga 140 karakter, Twitter menjadi alternatif vital setelah pemerintah memblokir fasilitas pesan singkat (SMS) di telepon genggam. Khawatir pemerintah melacak identitas pengguna Twitter, banyak pengguna Twitter di luar negeri yang mengubah identitas dan alamatnya agar seakan-akan terlihat berada di Iran. Tujuannya untuk membingungkan pemerintah.
Saking pentingnya Twitter di Iran, Pemerintah AS meminta pengelola Twitter menunda jadwal perawatan. Pasalnya, Twitter harus dimatikan untuk sementara (kira-kira satu jam) jika dalam proses perawatan.
Meski jaringannya masih terbilang lamban, jumlah pengguna internet di Iran ”luar biasa”. Laporan OpenNet Initiative tahun 2007 menyebutkan lebih dari 23 juta dari 70 juta jumlah penduduk Iran memiliki akses internet (lebih dari 60 persen berusia di bawah 20 tahun).
Kesulitan akses internet Iran ini ditangkap simpatisan siber (cyber) di seluruh dunia yang beramai-ramai membantu warga Iran mengelabui sensor. Netter mengatur komputer dengan setelan proxy server yang bisa dipakai di dalam Iran. ”Kalau semua orang pakai proxy yang bisa mengubah rute lalu lintas Twitter, sulit dilacak dan tidak bisa diblokir,” kata konsultan teknologi AS, Nitin Borwankar.
Internet adalah jaringan yang akan mencari jalan-jalan alternatif untuk memastikan masuknya arus data tanpa hambatan. Pada prinsipnya, internet pasti akan mencari jalan saat terbentur hambatan. Berhasil atau tidak tergantung kelihaian pengguna internet.
Para pengguna Twitter di berbagai negara mengubah setelan waktu dan lokasi agar mereka terlihat seperti mengirim pesan dari Iran. Bukan hanya itu, netter juga mengirimkan perangkat lunak untuk membongkar filter internet atau ”menyerang” situs-situs yang mendukung Ahmadinejad. ”Ini terjadi spontan,” kata Memarian, pengamat jurnalisme di University of California, Berkeley.
Menurut Memarian, kini internet berperan sangat penting di Iran. Memarian juga mengaku ragu pemerintah akan bisa memblokir jaringan telepon dan satelit di seluruh negeri karena itu juga akan mengganggu komunikasi militer dan kepolisian. Bisa saja memblokir jalur-jalur tertentu, tetapi tidak akan bisa memblokir semua jaringan.(REUTERS/AFP/AP/LUK)

Senin, Juni 08, 2009

Budaya Pop di Jantung Perpolitikan Kontemporer


Diambil Selengkapnya dari Kompas, Minggu, 7 Juni 2009

IGNATIUS HARYANTO

Kebudayaan populer di Indonesia semakin menarik untuk diperbincangkan. Ia dibicarakan bukan semata-mata untuk menunjukkan bagaimana isi kebudayaan populer yang berevolusi dari waktu ke waktu, tetapi ia akan menarik jika dilihat sebagai juga buah tarik-menarik politik dan ideologi dari masa ke masa. Mungkin tak banyak yang percaya kebudayaan populer di mana pun ada kaitannya dengan dinamika politik yang ada.
Tentu saja politik di sini dimengerti bukan sebagai politik institusional, terkait dengan melulu masalah partai politik, pemilu, calon presiden, dan lain-lain, tetapi yang paling penting praktik kebudayaan populer hari ini ada di jantung perpolitikan Indonesia saat ini. Begitu tesis sentral Ariel Heryanto sebagaimana ditulisnya dalam pengantar buku ini.
Buku ini berisi sembilan tulisan yang membahas khusus kebudayaan populer di Indonesia dengan mengambil tema spesifik dan menarik untuk dibaca lebih lanjut.
Penulisnya para sarjana yang sebagian besar asal Australia atau berpendidikan di Australia (umpamanya Dr Rachmah Ida, Ketua Jurusan Komunikasi, Universitas Airlangga, lulusan dari Curtin University, Perth), dan ada juga yang bekerja sebagai aktivis LSM di Indonesia. Editornya, Ariel Heryanto, pengajar di Australian National University, Canberra, Australia, yang telah lama menekuni masalah budaya populer di Indonesia.
Keragaman tulisan dalam buku ini membahas mulai dari soal maskulinitas, sensor, dan kekerasan dalam sejumlah film di Indonesia (Marshall Clark), kemudian perbandingan film remaja di Indonesia dan Thailand (David Hanan), juga soal cara mengonsumsi film asal Taiwan, Meteor Garden, oleh penduduk di kampung Surabaya (Rachmah Ida). Ada juga ulasan menarik soal Indonesian Idol (Penelope Coutas), ulasan soal acara gosip di televisi dan soal redomestifikasi perempuan (Vissia Ita Yulianto), ulasan atas kondisi pertelevisian di Indonesia (Edwin Jurriens), serta evolusi musik di Yogyakarta (Max M Richter). Ariel Heryanto selain menulis pengantar buku ini juga menulis satu bab yang mengulas tentang representasi ketionghoaan dalam film-film Indonesia pasca-1998.
Saat bicara tentang politik dari budaya populer kita akan melihat kategori utama dalam kajian seperti ini adalah ideologi, representasi, pola konsumsi, regulasi, dan produksi. Ini akan mengingatkan kita akan bagan sirkuit kebudayaan yang pernah digagas akademisi Cultural Studies di Inggris; Paul du Gay, Stuart Hall, dan kawan-kawan (1997) dalam buku serial Culture, Media, and Identities. Kelima hal di sini saling berkait. Tak ada yang paling memengaruhi dibanding yang lain, tetapi semuanya punya kemungkinan peran yang sama.
Kedekatan budaya
Buku ini khusus membedah kasus-kasus budaya populer di Indonesia dan ia hadir dengan konteks spesifik di mana wilayah ini belum lama terbebas dari kungkungan kekuasaan otoriter. Kondisi ini memberi nuansa khas untuk melihat bagaimana media dan budaya yang terekspresi diproduksi dan dikonsumsi banyak pihak.
Oleh karenanya menjadi menarik membaca bahasan Clark ketika mengulas dua film Rudi Soedjarwo, Mengejar Matahari dan 9 Naga. Dua film ini mengisahkan dunia para pria remaja dengan segala dinamikanya. Film yang sangat ”laki-laki”, bersama dengan film-film lain pasca-1998, rupanya harus berhadapan dengan para penyensor baru yang datang dari kalangan agama yang puritan. Clark juga menekankan, film-film ini juga menegaskan karakter budaya kekerasan dalam masyarakat, tetapi soal penyensoran dari kalangan agamawan bisa berakibat besar untuk perkembangan film mainstream dan independen di Indonesia.
Tulisan menarik lainnya datang dari Rachmah Ida yang menunjukkan kegemaran penduduk di kampung di Surabaya akan serial televisi Meteor Garden. Ida menekankan soal adanya cultural proximity (kedekatan budaya) dari kultur para lelaki di dalam serial itu dengan keyakinan yang dimiliki para penontonnya yang terutama para perempuan (mahasiswi dan ibu rumah tangga).
Kedekatan budaya ini ditunjukkan untuk membedakan dengan, misalnya, serial lain di televisi kita yang sempat didominasi tampilan ala Hollywood. Para pria pemikat hati ini tampil dengan karakter yang tampan, trendy, baik hati, tidak kasar (tidak mengumpat-umpat seperti yang sering dilakukan para pria dalam film Hollywood), tidak bertato, bukan perokok, serta bentuk tubuh sempurna.
Di luar tampilan fisik, serial ini lebih menonjolkan aspek ”ketimuran” dalam hubungan antara pria dan wanita. Seks bebas tak tampil dalam serial ini. Kalaupun ada adegan pria dan wanita tidur bersama, lebih tampil dalam keromantisan tidur berdampingan. Beda dengan tampilan Hollywood yang pria dan wanita mudah jatuh dalam hubungan one night stand.
Representasi politik
Tulisan tentang Indonesian Idol dalam buku ini juga bahasan menarik. Penulisnya, Penelope Coutas, mau menunjukkan, Indonesian Idol sebagai bagian dari Idola yang ”imperialisitik”—karena ikon ”Idol” ada di mana-mana; American Idol, Malaysian Idol, Singaporean Idol, bahkan ASEAN Idol—lalu juga citra dari Indonesian Idol, hal tentang pemasaran Indonesian Idol, hingga ideologi acara yang sama.
Kita pun diingatkan akan pandangan imperialisme kultural yang pernah kita dengar pada dekade 1960-an ataupun akhir 1980-an. Indonesian Idol sebagai waralaba dari program serupa dari produksi Amerika bisa dilihat sebagai imperialisme kultural yang menokohkan si tokoh sebagai sesuatu yang tak jauh berbeda dari yang dihasilkan di Amerika. Pengemasan acara, gaya bernyanyi, pilihan lagu, lebih mencerminkan paduan global dan lokal—atau glocal dalam pandangan Annabelle Sreberny-Mohammadi—hal yang global ada di lokal dan yang lokal ada di global.
Dalam situasi ini, budaya populer adalah representasi dari politik, sementara politik pun kerap mengambil budaya populer sebagai cara penyampai pesan. Masih ingat pemandangan dalam setiap kampanye pemilu? Penyanyi dangdut selalu jadi andalan para juru kampanye partai mana pun. Jangan tanya siapa yang lebih didengar karena massa terlihat mengerumun saat iringan gitar band mulai berkoar, sementara massa memecah saat juru kampanye partai mulai mengambil corongnya.
Budaya populer di Indonesia saat ini terus berkembang dalam tarik-menarik dengan budaya lokal, nasional, dan global, sementara di sisi lain, lanskap budaya populer harus juga berhadapan dengan para regulator budaya yang baru, yang tampil dalam sosok mereka yang mengaku moralis, tetapi selalu intimidatif jika kehendaknya tak dituruti.

Ignatius Haryanto Direktur Eksekutif LSPP, Jakarta