Selasa, Februari 24, 2009

Kerja Lapangan Danny Boyle

Kompas, Selasa, 24 Februari 2009 | 00:20 WIB

Ninuk Mardiana Pambudy

”Kepada Mumbai, semua yang telah membantu kami membuat film ini dan juga semua yang tidak membantu, terima kasih banyak. Anda semua membuat dia tampak kecil,” kata sutradara Danny Boyle seraya mengangkat piala Oscar di tangannya.
Boyle (52) menjadi orang paling berbahagia ketika film garapannya, Slumdog Millionaire, meraih 8 penghargaan dari 10 nominasi, termasuk 2 penghargaan paling bergengsi, yaitu sutradara terbaik dan film terbaik. Penyerahan Oscar dilakukan di Kodak Theater, Los Angeles, Minggu (22/2) malam waktu setempat.
Ini adalah Oscar pertama untuk sutradara kelahiran Manchester, Inggris, yang dikenal lebih banyak menyutradarai film-film beranggaran kecil. Banyak orang sudah menjagokan Slumdog menjadi film terbaik, dan para juri sependapat.
Boyle menyisihkan empat sutradara lain, yaitu David Fincher (The Curious Case of Benjamin Button), Stephen Daldry (The Reader), Gus van Sant (Milk), dan Ron Howard (Frost/Nixon).
Kemenangan Boyle dalam Oscar sudah diduga setelah dia mendapat penghargaan dari Directors Guild of America. Sebagian besar sutradara yang mendapat penghargaan itu umumnya juga mendapat Oscar.
Slumdog bercerita tentang seorang anak yatim piatu dari daerah kumuh di Mumbai, Jamal Malik (diperankan aktor Inggris keturunan India, Dev Patel) dalam memenangi juara pertama acara kuis televisi Who Wants To Be a Millionaire versi India, dengan kilas balik ke masa kanak-kanak Jamal.
”Anak-anak saya sudah terlalu besar untuk mengingat sekarang (apa yang saya pernah katakan), tetapi ketika mereka masih anak-anak, saya bersumpah di depan mereka bahwa jika keajaiban (memperoleh penghargaan Oscar) ini terjadi saya akan mengubah diri saya menjadi Tigger dalam cerita Winnie the Pooh,” kata Boyle dalam pidato kemenangannya.

Menjadi yatim
Boyle patut bangga dengan Slumdog. Film ini meraih Oscar untuk sinematografi, tata suara, pengeditan film, lagu asli, komposisi musik asli, dan skenario adaptasi terbaik. Selama pembuatan film di Mumbai, Boyle dan timnya menghadapi banyak tantangan, mulai dari ular piton, panasnya udara Mumbai, sampai birokrasi India selama tiga bulan pengambilan gambar.
Bahkan, setelah proses produksi selesai pada Februari 2007, film ini sempat menjadi yatim piatu ketika penyandang dananya, Warner Independent Pictures, salah satu divisi dari industri film raksasa Warner Bros, memutuskan melepas Slumdog.
Fox Searchlight Pictures kemudian mengambil alih film ini yang meraih sukses komersial dan mendapat pujian banyak kritikus film, November lalu. Sejak diputar di bioskop, Slumdog berhasil meraih 150 juta dollar AS meskipun dari Mumbai muncul kritik karena menggambarkan kaum dalit di daerah kumuh.
Sebagai sutradara berpengaruh di negerinya, reputasi Boyle dibangun melalui film beranggaran kecil, seperti Shallow Grave (1995) dan Trainspotting (1996). Film-film Boyle banyak mencampur realisme yang dingin dengan drama, sering kali dengan irama riuh, hal yang tampak nyata dalam Slumdog sehingga melodrama dalam film ini dapat menyenangkan banyak penonton.
Dia juga lebih menyukai bekerja di dunia nyata daripada di studio yang dia sebut ”tidak berjiwa”. Itu yang juga dia lakukan dengan Slumdog.
Lahir dari keluarga Katolik Irlandia yang taat, Boyle pernah menjadi putra altar selama enam tahun dan sempat berpikir ingin menjadi rohaniwan. Akhirnya dia belajar drama dan sastra Inggris di University of Wales di Bangor.
Dia memulai kariernya dari dunia teater karena, katanya, mendekati dunia teater lebih mudah daripada film. Dia menjadi Deputi Direktur Royal Court Theatre antara tahun 1982 hingga 1987.
Pada tahun 1987 Boyle mulai memproduksi film untuk televisi, Scout. Film-filmnya yang lain di antaranya A Life Less Ordinary (1997), The Beach (2000/2001), hingga Sunshine (2007).
”Saya tidak ingin membuat film yang sok, serius. Saya menyukai film yang memiliki semangat. Saat ini, ketika Anda berpikir tentang penghargaan dan ingin memenanginya, Anda berpikir harus membuat film serius, tetapi insting saya mengatakan buatlah film yang bersemangat, penuh kegembiraan,” kata Boyle seperti ditulis IMDb.com.

Kerja total
Di luar penghargaan Oscar, Slumdog mengundang kontroversi tentang pemeran masa kanak-kanak Jamal dan Salim, Rubina Ali (8) dan Azharuddin Ismail (8).
Orangtua kedua anak itu, menurut laporan media setempat, merasa dieksploitasi dan bayaran untuk mereka terlalu rendah. Harian The Telegraph dari Inggris melaporkan, keluarga kedua anak itu keadaannya tidak berubah, tetap tinggal di gubuk. Bahkan gubuk orangtua Azharuddin kena gusur.
Tentang kritik tersebut, Boyle mengatakan, kedua anak itu mendapat jaminan pendidikan dari produser film dan akan mendapat uang dalam jumlah besar setelah berusia 18 tahun asalkan mereka tetap bersekolah.
Boyle menolak menyebut jumlah uang yang akan diterima kedua anak itu dengan alasan dapat mengundang bahaya bagi keluarga itu sendiri dari komunitas mereka, termasuk dari para gangster. Sebagian hasil keuntungan film pun dijanjikan akan diberikan kepada organisasi nonpemerintah yang bekerja untuk pendidikan anak-anak daerah kumuh di Mumbai.
Pemahaman Boyle terhadap Mumbai adalah bagian dari cara dia bekerja langsung di lapangan. Meskipun belum pernah ke India, Boyle tidak ragu-ragu mengambil gambar langsung di lapangan. Bau tak sedap menusuk adalah pengalaman indrawi pertama yang menyergap dia.
”Semua serba ekstrem. Udaranya sangat panas, tehnya terlalu manis; semuanya serba terlalu banyak,” kata Boyle tentang Mumbai kepada CNN.com. ”Tetapi, itu sangat bagus untuk (membuat film) drama, sangat bagus.”
Boyle dan timnya mengambil gambar di jalan-jalan dan di seputar penanda kota berjuluk ”kota mimpi-mimpi” tersebut dan memakai pengguna jalan sebagai figuran. Boyle juga mengambil gambar di kawasan kumuh Dharavi—terbesar di Asia—dan Juhu yang terlihat dari bandara kota itu.
Karena hanya punya waktu terbatas di India, Boyle memutuskan pergi ke kawasan yang dia ingin masukkan ke dalam filmnya, lalu meminta para pemain berlatih di tempat. Bisa dibayangkan bila kemudian mereka menjadi tontonan warga setempat dan hal itu awalnya membuat para pemain gugup.
”Saya ingin merasa benar-benar terlibat dengan kota itu. Saya tidak ingin melihat ke dalamnya, memeriksanya. Saya ingin tercebur ke dalam kekacauan di sana sebanyak-banyaknya. Ada waktu antara pukul 02.00 sampai 04.00 di mana semuanya berhenti dan hanya anjing yang berkeliaran, tetapi di luar waktu itu, tempat itu adalah lautan kemanusiaan,” kata Boyle.



Aktor film Sean Penn dari Amerika Serikat (tengah), Penelope Cruz dari Spanyol (kanan), dan Kate Winslet dari Inggris memegang Piala Oscar mereka setelah masing-masing menang sebagai aktor terbaik, pemeran pembantu wanita terbaik, dan aktris terbaik dalam penyelenggaraan Academy Awards Ke-81, Minggu (22/2) di Kodak Theater, Hollywood, California, AS. Dalam Academy Awards itu diberikan penghargaan sinematik terbaik untuk 24 kategori. Foto by EPA/PAUL BUCK


Data Diri
Nama: Danny Boyle
Tanggal dan tempat lahir: 20 Oktober 1956, Manchester, Inggris
Karya:
- Sebagai sutradara (di antaranya): Slumdog Millionaire (2008, mendapat Oscar 2009), Sunshine (2007), Millions (2004), 28 Days Later... (2002), Alien Love Triangle (2002), Vacuuming Completely Nude in Paradise (2001) (TV), The Beach (2000/2001), A Life Less Ordinary (1997), Trainspotting (1996), Shallow Grave (1995), dan sejumlah film televisi di Inggris
- Sebagai produser: 28 Weeks Later (2007), Twin Town (1997), The Nightwatch (1989, TV), Elephant (1989, TV), The Rockingham Shoot (1987, TV)

Yang Manusiawi Jangan Dianggap Ilahi

Wawancara dengan Jalaluddin Rakhmat:

Dikutip selengkapnya dari Jurnal Islam Liberal, 16 Juni 2002

Sebagai pakar komunikasi yang aktif menggeluti wacana keislaman, Dr. Jalaluddin Rakhmat memiliki kompetensi untuk berbicara masalah freedom of speech sebagai bagian integral dari kebebasan berekspresi yang dijunjung tinggi ajaran Islam. Kang Jalal, demikian sapaan akrab beliau, menumpahkan kegalauannya atas fenomena institusionalisasi agama yang menyebabkan tersingkirnya pendapat-pendapat pinggiran atas nama Tuhan.

Kali ini, Ulil Abshar-Abdalla dari Kajian Islam Utan Kayu (KIUK) mewawancarai Kang Jalal, pengasuh Yayasan Muthahhari, Bandung yang disiarkan Radio 68H dan jaringannya di seluruh Indonesia pada hari Kamis, 13 Juni 2002. Berikut petikannya:


Kang Jalal, Islam memiliki diktum "lâ ikrâha fî al-dîn" (Tidak ada paksaan = dalam beragama -red) dan "lakum dîinukum wa liyadîn" (bagimu agamamu dan bagiku agamaku -red). Nah, dari sini, bagaimana Islam melihat kebebasan berpendapat?
Saya kira rujukannya bukan pada "lâ ikrâha fî al-dîn". Kalau rujukannya dari situ, orang akan mengatakan: "Memang nggak ada sih, paksaan untuk masuk agama, tapi begitu kita sudah berada dalam agama tertentu, seseorang harus beragama!" Kalau mau masuk suatu akidah, begitu masuk dia dipaksa. Ini sama seperti ungkapan "tidak ada paksaan masuk PKB". Tapi setelah seseorang berada di dalam PKB, dia harus dipaksa memenuhi kewajibannya sebagai anggota PKB. Jadi, keterangan tentang kebebasan berekspresi dalam Islam, bisa kita rujukkan kepada dua hal. Pertama, melalui sumber-sumber Islam dari Alquran dan Sunnah. Kedua, melalui praktik-praktik sejarah.

Lantas apa landasan kebebasan berekspresi dalam doktrin agama?
Secara doktrin, kita akan banyak sekali menemukan ayat-ayat Alquran yang memberikan kebebasan kepada manusia, bahkan dalam memilih agama itu sendiri. Ayat-ayat "faman syâ'a falyu'min, wa man syâ'a falyakfur (barangsiapa yang menghendaki bolehlah dia beriman dan barangsiapa yang menghendaki bolehlah dia kafir).

Kalau begitu, ada juga hak untuk tidak beragama yang dihormati oleh Islam?
Ya, ada hak juga untuk kafir sekalipun dari ayat itu. Dan itu dihormati oleh Islam.

Kalau kita lihat dalam sejarah Islam, bagaimana fakta kebebasan berekspresi?
Dalam periode Nabi Saw, kebebasan berpendapat sangat dihormati. Nabi malah melarang orang memerangi pendapat yang berbeda. Di kalangan para sahabat saja, terjadi perbedaan pendapat dalam memahami Sunnah Nabi. Semua itu, berdasar fakta sejarah, diapresiasi oleh Nabi dengan arif.

Dan yang paling penting, Nabi tidak menyebutkan —misalnya— ini yang paling benar dan itu salah.

Namun demikian, dalam perkembangan sejarah ada beberapa skandal tentang pemberangusan kebebasan berpendapat seperti perlakuan terhadap aliran Mu'tazilah maupun kasus inkuisisi yang dilakukan Khalifah al-Makmun.

Bagaimana menjelaskan ini?
Ya, saya kira pemberangusan atau pembatasan kebebasan berpendapat bahkan dimulai sejak zaman kekhalifahan Abu Bakar yang memuncak pada zaman Umar bin Khattab. Lalu, mulai bebas lagi pada masa Ali bin Abi Thalib. Pada zaman Abu Bakar, dimulai larangan periwayatan hadits.

Padahal, seperti yang kita ketahui, hadits merupakan upaya para sahabat yang sezaman dengan Nabi untuk menangkap makna dari ucapan dan perilaku Nabi. Yang disebut Sunnah, menurut Fazlurrahman, adalah opini yang dikembangkan para sahabat berkaitan dengan perilaku Nabi. Mereka memberikan makna pada perilaku Nabi, dan kemudian menuliskannya. Pada zaman khalifah Abu Bakarlah larangan pengumpulan dan periwayatan hadits itu.

Bukankah pelarangan itu ada motifnya, yakni khawatir bisa menyaingi Alquran?
Itu terjadi pada masa Umar bin Khatab. Alasannya memang takut menyaingi Alquran. Khalifah Umar bahkan memenjarakan beberapa sahabat yang meriwayatkan hadits.

Saya kira, ketidaksenangan akan periwayatan hadits berlanjut jauh setelah khalifah yang empat?
Betul, sampai zaman Thâbiîn (penerus sahabat -red) masih banyak orang yang takut meriwayatkan hadits. Akibatnya, salah satu sumber berekspresi dan berpendapat kaum muslim menjadi terbengkalai. Kemudian pasca wafatnya Imam Ali atau sejak masa Muawiyyah, semua pendapat yang bertentangan dengan paham politik Muawiyyah diberangus. Waktu itu terjadi manipulasi besar-besaran terhadap hadits Nabi. Jadi, masa itu ada hadits Nabi yang dilarang untuk diberitakan, dan pada waktu bersamaan, ada juga hadits yang diciptakan. Itu karena kepentingan-kepentingan politik. Lalu siapa saja yang haditsnya bertentangan dengan hadits penguasa, dihukum.

Saya kira, sejarah seperti itu berulang terus sampai sekarang. Kalau kita tanyakan hal ini secara kritis, maka soal yang muncul adalah: "Mengapa pada level doktrinal, Islam menjunjung tinggi kebebasan berpendapat, tapi pada fakta sejarah terjadi skandal-skandal seperti itu?"
Saya kira, itu terjadi juga pada agama lainnya. Kalau kita meniru doktrinnya, kita akan menemukan kebebasan berpendapat. Tapi setelah agama itu terlembagakan (institutionalized), mulai ada hierarki dan doktrin-doktrin yang dianggap resmi dan yang tidak resmi. Yang tidak resmi kemudian dianggap menyimpang dan tidak punya hak untuk tetap hidup bersama doktrin yang resmi. Itu gejala yang sama di setiap agama.

Begitu agama dilembagakan dan ada pengawalnya, kebebasan lenyap. Bisa dijelaskan lebih detail?
Mungkin kita bisa melakukan beberapa analisis. Bisa analisis psikologis, maupun sosiologis. Kita mulai dari analisis sosiologis. Agama yang sudah dilembagakan akan berkaitan erat dengan kekuasaan. Dan –tentu saja-- kekuasaan dilegitimasi oleh suatu ideologi. Sementara, ideologi sebetulnya merupakan pendapat yang sudah dibakukan menjadi pendapat resmi.

Munculnya dualisme pendapat resmi dan tidak resmi yang mengakibatkan pendapat resmi dianjurkan dan yang tidak resmi disingkirkan memang terjadi pada semua agama. Tapi yang ingin saya tanyakan secara spesifik, kenapa itu terjadi dalam agama Islam?
Pertanyaan "mengapa" itu, mungkin butuh jawaban panjang. Namun saya mencoba mencari jawaban yang pendek. Saya kira, ini berkaitan dengan sebuah sikap yang oleh Nabi selalu ditegur. Yaitu, sikap merasa diri yang paling benar. Karena merasa paling benar, maka pendapat-pendapat yang bertentangan dengannya dianggap salah. Karena salah, secara agama harus dihancurkan. Istilah agama menyebut kesalahan itu bâthil. Sementara, doktrin agama menyebutkan adanya pertarungan antara haq dengan bâthil seperti disinyalir Alquran: "Wa qul jâ'a al-haq wa zahaqa al-bhâtil inna al-bhâtil kâna zahûqa" (dan katakanlah: "kebenaran telah datang, dan kebatilan akan sirna. Sesungguhnya kebatilan itu akan (selalu) sirna –red).

Ironisnya, tidak jarang yang dianggap benar adalah pendapat pribadi dia. Pendapat dia dianggap satu-satunya kebenaran.

Kemarin saya sempat berbincang dengan Pak Alwi Shihab. Katanya, salah satu penyebab terjadinya legalisme dalam Islam adalah kecenderungan untuk mengangkat pendapat kita yang sangat manusiawi menjadi sangat Ilahi. Sebetulnya, terkadang yang ada hanya pendapat kita tentang Alquran dan hadits, tapi lantas kita malah berpendapat itulah Alquran dan hadits sebenar-benarnya. Kalau orang seperti ini –misalnya-- berbeda pendapat dengan saya, maka saya diklaim bertentangan dengan Alquran dan hadits. Padahal tak jarang itu hanya pendapat mereka tentang Alquran dan hadits. Kasusnya sama seperti pendapat orang yang menganggap perlunya mendirikan negara berdasar syariat Islam. Di situ, syariat dianggap sangat divine (sangat Ilahi). Padahal, yang kita sebut syariat mungkin sembilan puluh persen sangat manusiawi. Artinya, syariat adalah pemahaman kita tentang syariat itu sendiri.

Sebagai contoh, saya pernah berdebat tentang syariat Islam di Makassar. Pada waktu itu, saya berhadapan dengan "orang-orang salih" yang berusaha menerapkan syariat Islam. Ketika saya bertanya: "Syariat Islam yang mana yang akan Anda terapkan di sini?" Sebab, syariat Islam itu sangat bergantung pada mazhab Anda: apakah syariat Islam ala Taliban, ala PAS di Malaysia, ala NAD di Aceh, Arab Saudi atau Iran? Jadi, penafsiran tentang itu berbeda-beda. Di situ, saya hanya ingin menyadarkan, bahwa apa yang kita sebut syariat, kebanyakan lebih manusia ketimbang yang ilahi. Malangnya, terkadang yang manusiawi itu sudah dianggap ilahi. Bila suatu pendapat sudah kita anggap sakral, maka setiap orang yang bertentangan dengan kita akan kita hancurkan karena dianggap bagian kebatilan.

Dulu ada pelarangan terhadap Darul Arqam, dan sekarang muncul usaha untuk memeriksa ajaran di Pesantren Zaytun Indramayu. Terlepas dari itu, bagaimana kita menyikapi perbedaan-perbedaan pemahaman dalam suatu ajaran?
Saya sendiri beranggapan, biarlah orang-orang Islam mengembangkan pendapat mereka sendiri dan tidak seorang pun di antara kita yang berhak menghakimi suatu kebenaran. Dan perlu diingat, sesuatu yang bisa kita lakukan dalam agama hanyalah mendekati (to aproximate) kebenaran dengan cara kita sendiri. Jadi ketika kita mencoba menghakimi suatu kelompok seperti Pesantren Zaytun, yang perlu dipertanyakan adalah: "Dari mana kriteria penyimpang itu?" Bukankah itu dari kriteria yang kita bikin?

Bukankah problem freedom of speech dalam konteks Indonesia juga sering
terjadi pada masa lalu (Baca: Orde Baru)?

Itu juga pertanyaan saya: kenapa kita baru meneriakkan kebebasan berpendapat sekarang? Sesuai concern saya sudah dari dulu memperjuangkan kebebasan berpendapat dengan resiko apa pun. Saya melihat, sebetulnya sepanjang sejarah, ada saja kelompok-kelompok yang berjuang menegakkan kebebasan berpendapat. Umpamanya di zaman khulafâ al-râsyidîn, muncul orang seperti Abu Dzar al-Ghifari yang oleh Nabi, lidahnya dijuluki sebagai orang yang paling jujur di bawah kolong langit. Itu merupakan pujian Nabi untuk seorang yang memperjuangkan kebebasan berpendapat.

Di Indonesia, pada zaman Orba juga ada beberapa orang yang menjunjung tinggi kebebasan berpendapat. Umumnya, mereka masuk penjara dan memikul resiko tinggi. Mungkin baru zaman Gus Dur orang yang bebas berpendapat tidak dipenjarakan. Maka muncullah hiruk pikuk freedom of speech. Mestinya, kita tidak lagi berbicara masalah ini, karena kita sudah menyaksikannya dalam realitas. Idealnya, sejak dulu kita meneriakkan itu. Hanya saja, sekarang —zaman Megawati— kita melihat adanya ancaman terhadap kebebasan berpendapat. Mungkin saya melihat ini secara remang-remang. Tapi ada ketakutan, dan kekhawatiran akan kembali lagi ke zaman Orba.

Tadi ada yang bertanya bagaimana menghadapi kelompok-kelompok yang keras dan tidak menerima adanya perbedaan pendapat seperti yang kita saksikan sekarang. Bagaimana menghadapi mereka ini?
Saya akan jawab dari pengalaman hidup saya saja. Pertama, saya akan mengajak mereka perlahan-lahan kepada kebebasan berpendapat atau penghargaan terhadap cara pandang lain. Biasanya, saya akan membuat mereka ragu lebih dulu atas pahamnya. Sebab sikap ekstrim biasanya muncul karena seseorang terlalu yakin bahwa pendapatnya adalah satu-satunya kebenaran. Saya tunjukkan kepada mereka —secara dialektis— bahwa pendapat mereka keliru dan menggiring mereka untuk menemukan sendiri kekeliruan itu. Tapi cara itu tidak gampang, karena memerlukan forum untuk berbicara seperti itu. Sementara kelompok seperti itu pada galibnya tidak memberikan forum seperti itu kepada kita. Biasanya sudah ada capnya. Misalnya, kelompok Ulil Abshar dari Jaringan Islam Liberal sudah pasti salah. Kalau sudah begini, Anda tidak akan diizinkan untuk masuk ke forum itu. Bila ini yang terjadi, cara yang terbaik adalah qâlû salâma. Saya akan ucapkan salam saja, ketimbang menghambur-hamburkan waktu untuk berdiskusi dengan mereka.

Masalahnya, membuat ragu orang lain selalu diasumsikan sebagai tindakan tasykîk (membuat bimbang -red) yang cenderung dituduh meragukan kebenaran Allah dan rasul-Nya.?
Ya, disitulah kesalahannya. Kita meragukan pendapat mereka, lantas diartikan ingin meragukan kebenaran Alquran dan Sunnah.

Biasanya sebagian kelompok yang anti-dialog itu berkelit dengan dalih bahwa apa yang mereka ungkapkan bukan pendapat pribadi mereka, tapi sejalan dengan yang tertera dalam Alquran dan hadits. Seolah-olah, orang yang meragukan pendapat mereka, telah menentang Alquran dan hadits tadi?
Mungkin kita harus membedakan antara fikih dengan syariat. Saya belakangan ini kembali mendalami fikih dan membuat rangkain tulisan yang nanti akan saya berikan pada Mas Ulil untuk bisa dimasukkan dalam situs islamlib.com. Judulnya "Dahulukan Akhlak di atas Fikih!". Judulnya sederhana saja. Saya ingin menunjukkan bahwa fikih adalah proses atau hasil pemahaman kita terhadap Alquran dan Sunnah. Fikih tidak ada yang seratus persen Alquran dan Sunnah. Fikih, bila dikalkulasikan, mungkin 90 persen adalah pemahaman, sementara 10 persen Alquran dan Sunnah.

Bagaimana jika ada fikih yang seratus persen Alquran dan Sunnah? Menurut saya, itu bukan fikih lagi. Maksudnya begini, ketika kita membuka Alquran, lantas berpendapat bahwa daging babi haram, bagi saya itu bukanlah fikih. Sebab gagasan itu sudah disebutkan secara eksplisit dalam Alquran: "Hurrimat `alaikum al-maitat-u wa al-dam-u wa lahma al-khinzîr" (diharamkan atasmu (daging) mayat, darah dan daging babi -red). Alquran sudah menyebut, secara detail kata haramnya, dan jenis dagingnya secara spesifik.

Nah, dalam hal yang seperti itu, saya tidak akan menentang pendapat Anda, karena itu bukan fikih. Contoh itu seratus persen nash (teks suci –red). Tapi ada pendapat (misalnya) bahwa bersentuhan dengan orang kafir yang basah adalah najis, dan mesti mandi. Kesimpulan fikih itu, tentu saja melalui proses bernalar yang panjang dan ayat Alqurannya sedikit dan tidak eksplisit: "Innamâ al-musyrikûn najasun" (orang musyrik itu najis). Pertanyaannya: Apakah yang musyrik itu orang atau tubuhnya atau bila tubuhnya basah saja? Bagaimana kalau tubuhnya kering? Contoh ini sudah mesti mengalami proses berfikir atau penalaran. Ada kemungkinan, orang-orang yang dihadapi Mas Ulil adalah orang-orang yang berpendapat bahwa pendapat mereka itu semata Alquran. Mereka mungkin akan mengatakan: "Kalau tidak percaya orang musyrik itu najis, baca dong ayat ini: "Innamâ al-musyrikûn najasun." Kita bisa bertanya lebih lanjut: dari mana Anda tahu?

Mungkin contoh lebih kongkrit adalah masalah boleh tidaknya orang non-Islam masuk masjid berdasar dalil "innamâ ya`muru masâjidallâh…" (yang memakmurkan masjid-masjid Allah hanyalah orang beriman saja)?
Betul. Untuk sampai pada kesimpulan begitu, kan melalui proses berpikir. Alquran secara tegas begini: "Sesungguhnya yang memakmurkan mesjid Allah hanyalah orang-orang yang beriman pada Allah…"Ayat itu sebetulnya berbentuk "berita" saja. Tapi apakah defenisi "memakmurkan" di situ termasuk di dalamnya kegiatan memasuki masjid? Terus, ayat itu kan tidak secara eksplisit mengatakan kalau orang kafir tidak boleh masuk masjid. Di situ, yang dikatakan hanya orang mukminlah yang memakmurkan masjid.

Konon, katanya ada `adât al-taqshîr (kata yang berfungsi sebagai pembatas), pada kata innamâ (hanya/saja -red). Kalau ada kata innamâ, itu berarti ada pembatasan. Lalu, ada proses penyimpulaan dengan mekanisme mafhûm al-mukhâlafah (analogi terbalik -red). Ahli fikih sampai pada kesimpulan: "Bila dalam redaksinya hanya orang-orang mukmin yang memakmurkan masjid, maka mafhûm mukhâlafah-nya, yang tidak beriman tidak boleh memakmurkan masjid. Tapi perlu diingat, dalam Ushul Fikih saja, pemakaian mafhûm mukhâlafah ini juga polemik di kalangan ulama. Polemik itu menyangkut apakah ia boleh dijadikan dalil atau tidak? Sebagian ulama mengatakan tidak boleh. Jadi dari sini jelas terlihat banyaknya proses berpikir dalam penyimpulan hukum Islam.

Golput : Bukan Karena Bangun Siang

Lupa. Mungkin ini di Kompas Online. Oktober 2008 (ada yang tahu?)

Ujung ibu jari dan telunjuk Megawati saling menempel membentuk bulatan, tiga jari lainnya dibiarkan terbuka. Bahasa jari yang oleh pemiliknya sendiri diterjemahkan sebagai sikap 'tidak memilih' alias berjejer dalam barisan golongan putih (golput).

Catatan sejarah membuktikan, golongan putih muncul justru dari kesadaran politik.

Ujung ibu jari dan telunjuk Megawati saling menempel membentuk bulatan, tiga jari lainnya dibiarkan terbuka. Bahasa jari yang oleh pemiliknya sendiri diterjemahkan sebagai sikap 'tidak memilih' alias berjejer dalam barisan golongan putih (golput). Jari-jari yang sama sebelumnya digunakan untuk menyeka air mata.

Hari itu, Kamis, 22 Mei 1997. Di halaman rumahnya di Kebagusan III, Pasar Minggu, Jakarta Selatan, Megawati Soekarnoputri menyampaikan pidato dengan suara lantang dan tegas. Sebagai pribadi, "Saya tak akan menggunakan hak politik untuk memilih dalam pemilihan umum.

Latar perkara, kita telah mafhum. Kantor Mega di Jalan Diponegoro diserbu oleh massa yang disokong otorita keamanan waktu itu dan pemerintah hanya mengakui PDI versi Soerjadi. Sampai sekarang pun Mega belum menang untuk menyeret konseptor dan promotor penyerbuan ke penjara.

Megawati memang memilih tak datang ke bilik suara waktu itu. Tapi, lain lagi anjuran Mayjen Theo Syafei, orang dekat Mega. Kata dia, sewaktu menyampaikan orasi di depan 100 mahasiswa Universitas Petra Surabaya, 1997, kalau mau golput jangan diam di rumah. Nanti dicoblosi oleh orang lain.

Datang dan coblosi tiga-tiganya," ajar Theo. "Itu lebih baik karena berarti rakyat menyampaikan protesnya kepada pemerintah lewat pemilu bahwa tak ada wakil rakyat yang dapat dipilihnya." Istilah populer waktu itu, goltus alias golongan tusuk semua.

Cara apa yang dianjurkan untuk golput sekarang?

Jangan tanya ke Theo maupun Megawati. Kalau sekarang ditanya begitu, salah-salah dituduh melanggar undang-undang pemilu karena menganjurkan golput memang dilarang. Walaupun golput telah muncul sedari pemilu pertama digelar di Indonesia, 1955.

Angka golput paling tinggi malah terjadi pada pemilu pertama yang dikenal sebagai pemilu paling demokratis itu. Dari total pemilih terdaftar sebanyak 43.104.464 jiwa, terhitung 12,34 persen masuk kategori golput. Pada pemilu awal orde baru, tahun 1971, persentasenya memang langsung menurun. Hanya 6,67 persen dari 58.558.776 pemilih terdaftar. Tapi, dari pemilu ke pemilu berikutnya, terjadi peningkatan tak kalah tajam. Rata-rata mencapai 2 hingga 2,5 persen. Bila pada pemilu 1977 golput naik menjadi 8,40 persen periode berikutnya mendekati angka 10 persen. Bahkan pada pemilu 1999, setelah Soeharto jatuh yang dianggap sebagai penanda kemunculan reformasi, golput tetap lebih tinggi dari pemilu 1997. Tercatat 10,40 persen dari sebelumnya 10,07 persen.

Penganjur"jangan memilih" di pemilu pertama orde baru, salah satunya yang sampai sekarang dikenal sebagai juru bicara golput, Arief Budiman. Bersama-sama dengan Husein Umar, Julius Usman, Imam Waluyo juga Marsillam Simanjuntak dan Asmara Nababan, Arief mendeklarasikan gerakan moral bernama Golput. Hari itu, hari Kamis, 3 Juni 1971.

Para pemrakarsa menilai pemilu yang digelar oleh Soeharto sangat jauh dari demokrasi. Selain membatasi jumlah organisasi peserta pemilu, dan makin ketahuan pada pemilu 1977 yang hanya menghadirkan 3 parpol, Soeharto melalui perangkat militernya memaksa warga negara memilih Golongan Karya (Golkar). Dan nama golput memang dimaksudkan sebagai 'berdiri di seberang' Golkar. Lambang kampanye golput pun dibuat seperti tanda gambar Golkar. Warna putih tanpa noktah apapun dalam bidang segilima yang dialasi dengan banner.

Jalan yang diretas Arief Budiman dan kawan-kawannya itu bergulir ke pemilu berikutnya. Masih dengan latar soal yang sama, sistem politik Indonesia tak kunjung membaik. Meski gerakan moral ini dianggap kecil, tapi represi pemerintah memperlihatkan kenyataan lain. Golput, bukan sekedar upil yang mengganggu jalur pernafasan.

Buktinya, pemerintah Soeharto sampai perlu memenjarakan sejumlah aktivis. Diantaranya Poltak Ike Wibowo dan Lukas Luwarso, masing-masing dari Universitas Sultan Agung dan Universitas Diponegoro Semarang. Keduanya dianggap bertanggung jawab menggelar unjuk rasa di halaman Fakultas Sastra Universitas Diponegoro, 20 Mei 1992. Momen peringatan Hari Kebangkitan Nasional yang digunakan oleh mahasiswa untuk menyikapi rencana pemilu, 9 Juni. Pemilu yang dinilai tak akan membawa perubahan apapun bagi Indonesia.

Guliran pemilu berikutnya sama saja.

Mahasiswa Universitas Indonesia, 21 Mei 1997, menggelar perhelatan"Aksi Putih Menyambut Pemilu 1997", di kampus Depok. Sekitar seratus mahasiswa mengenakan ikat kepala dari kain berwarna putih untuk melambangkan "bendera Golput". Aksi ini diproklamasikan sebagai puncak kekesalan mahasiswa setelah melihat pemilu 1971 - 1992 hanya dimanfaatkan untuk melanggengkan kekuasaan Golkar.

Aksi serupa terjadi di Malang, Yogyakarta dan Bandung. Di Yogyakarta, ratusan mahasiswa berpawai kendaraan sambil mengibarkan bendera putih. Di jalan, mereka tak diganggu aparat keamanan, lain lagi di kampus. Gedung Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Sunan Kalijaga diserbu oleh Satgas Golkar. Di Bandung, aparat keamanan dari Kodam Siliwangi main adu cekatan dengan mahasiswa. Mereka menyita 5 ribu lembar pamflet yang sedianya disebarkan untuk kampanye golput.

Masih pada pemilu 1997, tokoh Oposisi Indonesia, Sri Bintang Pamungkas mendirikan partai politik. Namanya, Partai Uni Demokratik Indonesia (PUDI). Alih-alih berkampanye untuk kemenangannya, Sri Bintang malah menganjurkan orang untuk golput. Alasan dia, karena partai-partai peserta pemilu tetap mencalonkan Soeharto sebagai presiden periode 1998-2003. Anjuran golput ala Bintang disampaikan melalui kartu ucapan Hari Raya Idul Fitri. Gara-gara kartu ucapan golput ini, Jaksa Agung Singgih memeriksa Bintang, 5 Maret 1997 dan menahan dengan sangkaan tindak pidana subversif.

Keluarga Besar Nahdlatul Ulama (KBNU) mengeluarkan "Pesan Moral"yang ditandatangani tuju organisasi pemuda di kalangan NU, kecuali Gerakan Pemuda Anshor. Ketika itu, sang ketua, Drh Iqbal Assegaf dicalonkan menjadi anggota DPR dari daerah Jawa Timur. Sementara Konferensi Wali Gereja Indonesia (KWI) menerbitkan Surat Gembala Pra Paskah 1997. Isinya, iimbauan moral kepada para pemilih untuk mengikuti hati nurani dalam menetapkan pilihan.

Bila merasa tidak terwakili dan yakin dengan suara hati yang jernih dan kuat, KWI dapat mengerti kalau hal tersebut mengungkapkan tanggung jawab dan kebebasan dengan tidak memilih," kata Direktur Eksekutif Pelayanan Krisis dan Pelayanan Rekonsiliasi KWI Romo Ismartono kala itu.

Seruan Golput juga muncul melalui kampanye di internet yang menamakan diri situs Golput, 6 Maret 1997. Di luarnegeri, Perhimpunan Pemuda Indonesia (PPI) Jerman dan API Indonesia, 20 Mei 1997, menyuarakan suara senada.

Hari ini? Juru bicara Golput, Arief Budiman, menilai proses demokrasi yang terjadi masih jauh dari harapan. Tapi, "Saya berpendapat, bergolput saat ini hukumnya 'tidak wajib' seperti saat kita bergolput pada tahun 1971.

Alasan Arief, tahun 1971 partai-partai yang tak disukai pemerintah dilarang berdiri atau didirikan kembali. Sekarang, partai-partai berhak berdiri tanpa halangan sepanjang memenuhi kriteria administratif. Maka, kata dia, tak wajib memboikot pemilu 2004. "Cuma, kalau amteri yang akan dipilih kita anggap di bawah standar, apa boleh buat. Golput menjadi halal," tandas Guru Besar Kajian Indonesia di Universitas Melbourne, Australia, ini.

Curi start kampanye, ijazah palsu, Golkar yang jadi lawan golput tetap eksis dan bisa merayu" aktivis mahasiswa penumbang Soeharto ikut di bawah payung beringin, apa materi yang ada masih memenuhi standar? Mari menghitung hari.

Airlambang | Andy Lala Waluyo

Selasa, Februari 17, 2009

Soeharto Raja Presiden 1971-1998


PARA PRESIDEN INDONESIA DAN ALMAMATER

1. Yang paling banyak
Universitas Indonesia adalah universitas yang paling banyak memproduksi menteri. sejak zaman kabinet Orla, Orba, Orde Reformasi, sampai Kabinet Indonesia Bersatunya SBY sekarang ini, alumni UI secara rata-rata paling banyak nyangkut di kabinet. Tapi untuk untuk jadi presiden? Belum pernah.. calon saja belon ada kok. Sepertinya UI hanya spesialis produsen menteri saja.

2. Yang paling produktif
Ternyata ITB adalah perguruan tinggi yang paling produktif sampai saat itu karena sudah mampu menelorkan dua presiden Indonesia, yaitu Soekarno dan Habibie.

3. Yang paling sial
UGM termasuk kategori yang paling sial, salah satu alumninya, sudah S3, professor (Amin Rais) dan selama 5 tahun “magang” di MPR untuk mempersiapkan diri sebagai calon presiden, dan didukung organisasi alumni pula.. eh ternyata gagal total menjadi presiden..

4. Yang paling jago strategi
IPB, ternyata adalah yang paling jago dalam hal strategi. Karena tahu persis kapan harus bertindak.. persis saat-saat ‘injuri time’, yaitu pada hari H-2, sebelum hari pencoblosan, memberikan gelar doctor (S3) untuk calonnya (SBY) dan ternyata sukses besar menjadi presiden…

5. Yang paling hebat
Tapi ITB dan IPB jangan sombong dulu, keduanya butuh waktu lama untuk mendidik alumninya (sampai S3 dan professor segala) untuk bisa menjadi presiden, yang paling hebat adalah UNPAD, karena cukup mahasiswa ‘drop out’ Fak Pertaniannya untuk bisa menjadi presiden (Megawati). Jangan meremehkan drop-out. Karena Gus Dur pun adalah juga seorang drop out. Bedanya, drop out dari Universitas Al Azhar Mesir dan Universitas 1001 Malam Bagdad, Irak.

***

SOEKARNO

SOEKARNO adalah presiden pertama Indonesia. Kepribadiannya terbuka, kharismatik, dan kuat karakternya. Dalam kunjungan ke Amerika Serikat tahun 1961, pers Barat banyak mengritik Soekarno yang megaloman dan flamboyant. Bahkan, dalam soal perempuan, pers Barat menuding Soekarno mata keranjang, play boy, suka mencuri-curi pandang dan melirik jika melihat perempuan cantik.
Soekarno marah dan menyerang balik pers Barat.
“Soekarno mencuri pandang, dan melirik melihat perempuan cantik?” katanya di depan puluhan wartawan internasional yang mengerumuninya. “Jika ada perempuan cantik, Soekarno melihat dengan mata selebar-lebarnya. Bukan melirik, bukan mencuri pandang. Kalau Soekarno punya seratus mata, semuanya akan dipakai untuk melihatnya,...”

***

SOEHARTO

MATERI humor Soeharto, mendominasi buku ini, karena semula memang buku ini hanya berisi humor tentang Soeharto. Karena itu, humor Soeharto bisa didapatkan pada bab-bab lain. Kalau pun dimunculkan salah satunya di sini, hanya sekedar contoh. Sebagai berikut.

ORANG Madura terkenal dengan sifat fanatismenya. Salah satunya bisa disimak dari yang terjadi sekitar tahun 1980-an. Pada jaman Soeharto, orang Madura tak gentar dengan fanatismenya. Salah satunya, dialog berikut antara Soeharto dan orang Madura.
Soeharto : Siapa Presiden RI sekarang?
Madura : Bung Karno,...!
Soeharto : (dengan heran bertanya lagi ) Siapa presiden Indonesia ?
Madura : Soekarno,...
Soeharto : Lho kok bisa begitu? Kan Presiden RI sekarang Pak Harto?
Madura : Siapa bilang? Pak Harto itu ‘kan cuma penggantinya,...!

***


HABIBIE

HABIBIE selesai dioperasi jantung dengan sukses di Jerman (habis, di mana lagi). Dia pulang terbang ke Jakarta dengan Lufthansa. Sampai di bandara Cengkareng dia lihat, dari jendela pesawat, sudah banyak para pengagumnya menanti. Baik dari kalangan KMI mau pun dari BPPT.
Habibie tahu, orang-orang itu sangat mencintainya, sangat mengharapkan kesehatannya pulih kembali, dan sebab itu dia ingin memberi kesan bahwa dia punya Gesundheit atawa kesehatan adalah walafiat atawa baik belaka. Waktu turun dari tangga pesawat, dengan gagah dia loncat dari anak tangga terakhir, ke tarmac (aspal landasan).
Di barisan depan penyambut ada Nasir Tamara, pengagumnya nomor wahid. Nasir sangat kaget dan terpesona dengan demonstasi kecil itu, dan datang memeluk Habibie. “Mein Gott” seru Nasir berdecak.
Habibie pun menjawab sambil berbisik, “Ach, Nasir, ingat ya, kalau di depan umum panggil saja saya Pak Habibie!”

***

GUS DUR


SUATU siang yang cerah di perairan Australia, di atas geladak USS Kitty Hawk berkumpullah pemimpin negara Indonesia, USA, dan Inggris untuk membahas soal keamanan di seputar pasifik.
Dalam suatu perbincangan, presiden USA George W.Bush memamerkan keberanian US Marine Corpsnya.
Bush berkata : “Bapak-bapak semua, US Marine adalah prajurit paling berani di dunia. Mau lihat buktinya?”
Bush kemudian memperintahkan kepada prajurit marinirnya. “Mayor! Cepat terjun ke laut dan berenang memutari kapal ini sepuluh kali”.
Mayor tersebut melihat ke bawah laut. Di sana telah berkumpul ikan-ikan hiu ganas yang sangat banyak. Tapi karena perintah Presiden, dia pun melompat dan berhasil berenang memutari kapal sebanyak sepuluh kali. Setelah naik ke geladak, mayor tersebut menghadap Bush sambil berkata, “Perintah telah dilaksanakan, God Bless America!”
Tony Blair tak mau kalah, “Gurkha Inggris adalah yang paling berani.
Kemudian dipanggilnya personil Gurkha, “Sersan! Terjun ke laut dan putari kapal ini sebanyak limapuluh kali.”
Byurrrr, sang sersan Gurkha langsung nyebur. Dan setelah 50 putaran, dia naik ke geladak sambil berkata “Perintah telah dilaksanakan, God save the Queen!”
Gus Dur tidak mau kalah. Dipanggilnya Kopral Jono. Kelasi juru masak di kapal perang TNI AL. “Kopral ! Terjun ke laut, dan putari kapal ini seratus kali!”
Kopral Jono menyahut spontan: “Dasar presiden gila! Masa’ saya disuruh terjun ke laut putari kapal 100 kali! Mana di bawah banyak hiunya lagi, bisa mampus saya! Dasar nggak punya otak huhhh!”
Sang Kopral berlalu pergi sambil ngedumel panjang kali lebar.
Gus Dur terkekeh penuh kemenangan. “Heh, he, he,... Sekarang lihat, siapa
yang prajuritnya paling berani?”

***

MEGAWATI

Setelah peristiwa 27 Juli 1996, kabar santer mengatakan “Megawati tidak mau dipanggil Pak Harto”, kata seorang teman. Bahkan, isyu itu makin dikuatkan, ketika meninggalnya Soeharto pun, Megawati memilih ngelencer ke luar negeri. Alasannya, mendapat undangan khusus dari petinggi negara di Eropa.
Bisa dimengerti, Megawati mungkin benar-benar sakit hati. Sejak ayahnya, Soekarno jadi pesakitan Soeharto paska 1965 sampai kematiannya, kehidupan keluarga Soekarno dipersulit. Bahkan, kuliah Megawati pun berhenti karena amputasi politik yang dilakukan Soeharto.
Tapi, benarkah tiada maaf, hingga Megawati tak mau dipanggil Pak Harto?
Sumpah mampus. Soekarno adalah presiden yang romantis. Hampir semua anaknya, diberi nama yang gagah dan indah. Lihat saja, Guntur, Guruh, Bayu, Taufan, Mega. Megawati sering dipanggil Bu Mega atau Mbak Mega. Lha, masa’ sudah diberi nama cantik macam “Megawati” kok di panggil “Pak Harto”, mana sudi!

***

SBY-JK


Banyak banget yang lucu. Nggak muat tempatnya, sumpih!


Dikutip dari buku "Orba-orbi Raja Presiden dan Murid-muridnya", Alfa Media, Yogyakarta, 2008.

Minggu, Februari 08, 2009

Soeharto dalam Pemasaran Politik PKS


Tempo Interaktif, Rabu, 10 Desember 2008 | 15:16 WIB

TEMPO Interaktif, Jakarta: Sungguh biasa secara artistik, tidak secara politik. Inilah iklan Partai Keadilan Sejahtera (PKS) yang belakangan jadi menu utama di atas meja diskusi kita.

Secara artistik, iklan berdurasi 31 detik itu tak istimewa. Narasinya terlampau verbal: ”Mereka sudah lakukan apa yang mereka bisa, mereka sudah beri apa yang mereka punya, mereka guru bangsa kita, mereka pahlawan kita, mereka motivator kita, mereka ilham bagi masa depan kita. Terima kasih guru bangsa, terima kasih pahlawan, kami akan melanjutkan langkah bersama PKS untuk Indonesia sejahtera.”
Suara sang narator juga seperti tercekat di kerongkongan. Pecah. Tak bulat dan jauh dari bertenaga seperti teriakan khas Soekarno. Lebih mirip teriakan demonstran pada hari-hari antara 1997 dan 1998. Visualisasinya berupa gerak perpindahan slide standar, menampilkan sosok Soekarno, Soeharto, KH Ahmad Dahlan, KH Hasyim Asy’ari, M. Natsir, Mohammad Hatta, Jenderal Sudirman, dan Bung Tomo.
Tapi iklan itu tak biasa secara politik. Ia mendulang kontroversi lumayan panjang, terutama lantaran sosok Soeharto. Sebagian kalangan menolak penahbisan sang Jenderal Besar sebagai pahlawan dan guru bangsa. Sebagian kalangan bahkan langsung menaruh PKS di keranjang partai antireformasi.
Iklan itu pun menjadi salah satu pertaruhan penting PKS dalam mengulang sukses Pemilu 2004. Sebegitu penting dan genting perkara ini bagi PKS? Produktif atau kontraproduktifkah iklan itu bagi upaya PKS meraih target 15 persen suara atau 20 juta pemilih dan menjadi tiga besar?
Mari kita telisik perkara ini dengan teropong ”pemasaran politik” (political marketing). Sukses sebuah iklan dinilai dari keberhasilannya memperluas dukungan bagi produk politik (partai, kandidat, kebijakan, dan presentasi ketiganya) yang ditawarkan.
Masalahnya, tak ada iklan yang bisa efektif menjangkau semua karakter calon pemilih. Fungsi sebuah iklan pun mirip-mirip penepuk lalat. Anda mesti berkonsentrasi pada satu atau beberapa lalat saja. Ketika sang lalat tertepuk, Anda mesti menerima konsekuensi serta merta: lalat-lalat lain akan terbang menjauh dari jangkauan. Untungnya, tepukan bisa diulang-ulang untuk memperbanyak jumlah korban.
Begitulah logika kerja sebuah iklan politik. Semakin tegas, benderang, spesifik, dan tajam sasaran yang dibidiknya, semakin besar potensi sukses sang iklan. Sebagaimana menepuk lalat, Anda lalu bisa membuat banyak iklan untuk beragam sasaran bidik.
Celakanya, pemilih bukanlah lalat. Setiap karakter pemilih membutuhkan langgam ”tepukan” berbeda. Beriklan banyak untuk sasaran bidik beragam boleh saja. Tapi hasilnya akan lain manakala langgam iklan-iklan itu tak berkesesuaian, apalagi jika berbalas pantun, saling menyerang. Maka, alih-alih memperluas daya jerat, sang iklan akan membikin kabur identitas partai dan para pemilih potensialnya.
PKS rupanya tak ingin makan buah simalakama itu. Mereka tak membuat banyak iklan dengan target bidik beragam. Mereka membuat satu porsi gado-gado: Satu iklan yang menggabungkan banyak ikon, untuk satu kali tepukan. Plaaak! Berapa banyakkah yang tertangkap dan yang terbang menjauh?
Asumsikanlah bahwa PKS merupakan partai rasional yang dikelola politikus akil balig. Maka, iklan ”Soeharto guru bangsa” bisa jadi dilandasi kesadaran PKS tentang pentingnya ketokohan dalam menentukan pilihan sekaligus tentang sempitnya ceruk pasar partai-partai berbasis massa Islam.
Berdasarkan pendataan Litbang Kompas (2008), dalam Pemilu 1999, ceruk pasar itu hanya didiami 37,54 persen dari total pemilih. Sekalipun jauh lebih besar ketimbang ceruk partai berbasis massa Kristen, kedaerahan, dan etnik (1,42 persen), ceruk itu lebih kecil daripada ceruk partai-partai berbasis massa majemuk (61,04 persen). Dalam Pemilu 2004, perbandingan ketiga ceruk pasar ini tak bergeser terlalu jauh, menjadi 38,33 persen berbanding 2,14 persen berbanding 59,53 persen.
Celakanya, sebagaimana dibuktikan Dwight King dan Anies Baswedan (2005), para pemilih Indonesia bukanlah pelintas batas. Jangankan menyeberang ke partai-partai majemuk, para pemilih partai Islam cenderung mengalihkan dukungannya ke partai berbasis massa Islam lainnya. Pemilih ceruk lain juga setali tiga uang.
Pertarungan pokok pun terjadi di dalam ceruk, bukan lintas ceruk. Fakta ini tegas terlihat di Jakarta. Di daerah pemilihan paling prestisius yang dimenangi PKS pada Pemilu 2004 ini, tujuh partai berbasis massa Islam meraih 1.891.641 suara (46,89 persen); hanya berselisih kecil dengan suara yang diperoleh 16 partai berbasis massa majemuk (1.911.666 suara atau 47,39 persen). Sedangkan sisanya, 5,72 persen atau 230.657 suara, diraih partai berbasis massa Kristen (PDS).
Ternyata, para pemilih Jakarta bukanlah para pelintas batas ceruk. Dari Pemilu 1999 ke 2004, PBB, PPP, dan PAN masing-masing kehilangan berturut-turut 0,7 persen, 9,7 persen, dan 9,1 persen suara. Hilangnya 19,5 persen suara itu beralih ke tiga partai berbasis massa Islam lainnya, yakni PKB (bertambah 0,1 persen), PBR (3 persen), dan terutama PKS (bertambah 18,4 persen).
Situasi di ceruk pasar majemuk juga serupa. Suara PDIP dan Partai Golkar yang hilang (berturut-turut 25 persen dan 2,1 persen) ternyata lari ke sang pendatang baru, Partai Demokrat (20,2 persen) dan partai-partai majemuk lainnya.
Menyadari fakta itu, PKS rupanya merasa perlu membuat upaya luar biasa yang tak lazim untuk menjangkau para pemilih secara lintas ceruk. Mereka berusaha menjangkau para pemilih partai Islam sekaligus partai nasionalis-plural. Alasannya, mustahil PKS bisa meraih 15 persen suara hanya dari dalam ceruk sempit partai-partai berbasis massa Islam.
Pada titik itulah iklan ”Soeharto guru bangsa” menemukan relevansinya. Iklan itu adalah alat penepuk PKS untuk menggaruk pemilih dari semua ceruk. Iklan ini pun senapas dengan upaya PKS membuka selubung dirinya, berusaha menjadi inklusif via beragam cara. Mereka mendatangi sejumlah puri (belum pura) terpenting di Bali, mengumumkan bahwa calon anggota legislatif PKS tak harus orang PKS dan tak harus orang Islam. PKS menerbitkan buku tebal berisi platform partai yang menegaskan pemihakan pada demokrasi dan kemajemukan, melanjutkan dan meluaskan jargon partai dari ”bersih dan peduli” menjadi ”bersih, peduli, dan profesional”, dan seterusnya.
Maka, di satu sisi, iklan ”Soeharto guru bangsa” adalah sebuah upaya rasional sebuah partai yang berusaha melakukan ekspansi pasar secara segera. Tetapi, di sisi lain, iklan itu menegaskan alpanya PKS pada sumber-sumber utama pendongkrak suara mereka dalam Pemilu 2004.
Dalam Pemilu 2004, selain dari kerja organik partai, sukses PKS berasal dari dua sumber pokok: moderasi yang terjadi di kalangan pemilih muslim (sebagaimana ditunjukkan oleh serial riset R. William Liddle dan Saiful Mujani) dan sukses PKS membuat positioning-diferensiasi-branding yang tepat berhadapan dengan partai-partai Islam lainnya.
Pemilu 1999 dan 2004 menunjukkan bahwa kalangan Islam puritan, radikal, fundamentalis—atau apa pun namanya—adalah kelompok kecil bersuara nyaring. Alih-alih fundamentalisasi, arus utama yang terjadi di kalangan pemilih muslim adalah moderasi, bergerak makin ke tengah. Kepada merekalah PKS datang menawarkan citra, identitas, dan integritas partai yang berbeda dari partai-partai Islam konvensional. PKS menawarkan platform yang atraktif ketika partai-partai Islam lain masih terus sibuk dengan syair-syair lapuk yang diulang-ulang.
PKS pun berhasil membengkakkan raihan suaranya karena berhasil menjadikan dirinya sebagai kalimatun sawa, titik temu, bagi para pemilih muslim-rasional-kalkulatif. PKS alpa bahwa mereka inilah yang potensial menjauh terbang akibat tepukan iklan ”Soeharto guru bangsa” itu.
Maka, jika tak ada upaya-upaya pemasaran politik baru yang layak, sangat boleh jadi, iklan itu membikin PKS mengeluarkan ongkos politik teramat mahal. Sekalipun, tentu saja, sebuah partai tak akan mati terbunuh oleh sebuah iklannya.

EEP SAEFULLOH FATAH, Anggota Komunitas ”Para Penagih Janji”