Selasa, Agustus 19, 2008

Indonesia Ejakulasi Dini 2009

Prolog


* Dikutip dari Prolog Novel Politik "Indonesia Ejakulasi" (Sunardian Wirodono, 2004-2007)


MIMPI remaja, membuat Anonim, begitu ia menyebut dirinya kemudian, tak lagi perawan. Dalam usia ke-14. Saat ia masih SMP, kelas satu. Seorang perempuan tua yang hyper, memperkosanya.
Anonim tidak menangis. Tapi ia menyesal.
“Besok ke sini lagi ya? Aku beliin buku cerita bagus untukmu,” kata perempuan tua itu sambil menyiumi pipi Anonim.
Anonim diam saja.
Perempuan tua itu mengaku pernah pacaran dengan beberapa seniman besar. Dari pelukis, penyair, sutradara film. Ia memberi selembar uang limaratusan pada Anonim.
“Jangan jajan es ya?” katanya sambil memasukkan uang itu ke saku baju Anonim.
Bersijingkat Anonim meninggalkan rumah perempuan tua itu. Hanya beberapa rumah saja jaraknya.
Celakanya setelah itu, ia banyak menghabiskan waktu ke rumah pacar tuanya itu. Ia juga banyak masturbasi. Dan akhirnya diungsikan orangtuanya, ke lain kota. Setelah ketahuan.
Tapi sama saja. Di tempat baru, tempat salah satu saudara ibunya, Anonim ketemu dengan seorang janda kaya. Dan berlakulah hal sama pula. Sampai orangtuanya pusing.
Anonim akhirnya minggat. Entah ke mana.
“Lho, kok malah ngelamun? Pusing ya?”
Anonim terbangun dari lamunannya. Ia duduk di depan komputer. Di sebuah warnet langganan. Ia menoleh ke arah suara yang membuyarkan lamunannya.
Penjaga warnet yang sudah diakrabinya, masih saja berdiri tak jauh darinya. Wajahnya mirip Nicholas Saputra. Namanya Rangga.
“Udah sana pergi!” seru Anonim, mengusir penjaga warnet bertampang bintang film itu. Anonim buru-buru membuka salah satu situsweb.
“Makanya, jangan terlalu banyak lihat situs porno!” Rangga tertawa sambil berlalu. Rambutnya yang kriting, seperti ikut tertawa.
Suara Sade memenuhi ruangan, melantunkan Kiss of Life lembut.
Anonim memasang headseat, karena merasa terganggu.
Tapi tetap saja ia hanya melamun. Tak ada sesuatu yang dikerjakannya.
Lamunannya kembali menerawang. Ke teman-teman sekelasnya waktu SD, SMP, SMA. Cinta monyet pada Yudha, Aniek, Bani, Tyas anak Camat. Yanie. Juga Zubaidah, yang sudah meninggal. Guru Bahasa Indonesia SMP-nya, yang mungil.
“Kamu, Anonim, perhatikan buku di depanmu,” kata Ibu Guru itu, yang melihat Anonim lebih banyak mencuri pandang padanya.
Anonim, dengan malas, melihat tulisan pada buku di depannya.
Puisi Chairil Anwar:


Kalau sampai waktuku
‘Ku mau tak seorang ‘kan merayu
Tidak juga kau

Tak perlu sedu sedan itu,…


“Ayo Anonim, kamu, maju! Bacakan di depan teman-temanmu!” pinta Ibu Guru yang mungil itu.
Huh, enak saja jadi guru. Nyuruh-nyuruh. Kalau saja bukan Ibu Guru yang di-taksir-nya.
Benar-benar menyebalkan. Membaca puisi dari penyair genit, yang punya banyak pacar. Dasar Chairil! Playboy tengik!
“Aku ini binatang jalang!” teriak Anonim, membacakan deretan kalimat Chairil Anwar, “Dari kumpulannya terbuang,…”
Puisi yang dinilainya jelek itu, selesai juga dibacakannya. Dan ia duduk kembali ke kursinya.
“Tahu apa makna dari puisi tersebut?” Ibu Guru mengedarkan pandangan ke sekeliling kelas. “Ayo, Garin, jelaskan ke teman-temanmu,…!”
Garin Nugroho, murid yang suka tidur di kelas, dengan sok tahu menjelaskan makna puisi Chairil Anwar. Katanya, itu puisi perjuangan melawan fasisme Jepang. Benar-benar sok tahu. Bagaimana kalau itu muncul karena Chairil tak punya uang? Ia kemudian menciptakan sajak, untuk mendapatkan honorarium? Toh, kata sudah berhasil ditekuknya, diluluhlantakkannya, dan seperti pasir ia kuasa memain-mainkannya? Chairil Anwar tak pernah menjelaskan kemudian. Karena mati muda. Akibat sipilis.
Duet Louis Amstrong dan Ella Fitzgerald, melantunkan Summertime. Rangga, si wajah Nicholas Saputra itu, terantuk-antuk di depan komputernya, yang berisi duaributigaratus lagu dalam bentuk MP3. Bajakan semua.
Anonim bangkit dari duduknya. Mendekat ke arah Rangga. Tanpa ngomong pada anak itu, Anonim mengecilkan volume media-player di komputer Rangga.
“Ngganggu, ngerti nggak?” semprot Anonim.
Rangga tak bereaksi. Ia hanya nyengir.
Kembali ke tempat duduknya, Anonim browsing ke beberapa situs. Sampai bosan. Pose nude Britney Spears, tak lagi menarik. Dan baru ia membuka email-nya. Ada tiga surat.
Salah satunya, dari Izumi Nagano. Perempuan Jepang. Cantik. Wartawan Asahi Shimbun, yang mengaku mencintai Anonim setengah ampun.
“Watashi wa totemo aishite imasu,…
[1] Ikuti perjalanan Gus Dur[2] ke Yogya. Coverage about him is needed. It’s important to understand his political career. I have sent some bucks into your account.[3] Kamu check ya?” begitu antara lain bunyi surat elektronik Izumi.
Ngikutin Gus Dur? Ngapain? Dia toh bukan lagi Presiden?
“Sebentar lagi tutup, mau nglembur?” Rangga mengagetkan keasyikan Anonim. Jam sudah menunjuk pukul 02:00. Dini hari.
Buru-buru, Anonim sign-out, dan mematikan komputer di depannya.
“Balik ajalah,…” sahut Anonim.
Anonim berdiri. Di ruang sebelahnya, seorang perempuan juga baru saja menyudahi email-nya, dan menutup program internetnya. Wajahnya cantik, seperti Desy Ratnasari. Tapi yang ini lebih sexy dan sedikit mesum. Si Desy Ratnasari kemudian beranjak meninggalkan ruang.
“He, kok bengong!” Rangga menghardiknya.
“Aku ‘kan lagi liat cewek cantik, lu lagi!” Anonim mendorong jidat Rangga.
“Dasar mata keranjang!”
“Huh, makian kok kuno. Pakai ungkapan yang baru,…”
“Apaan?”
“Cari sendiri. Makanya baca buku. Baca koran. Baca rubrik bahasa Sudjoko atau Remy Sylado. Mereka munsyi sohor!”
“Iya, tapi kamu terus mau ke mana? Balik, atau,…” Rangga membelokkan pembicaraan, karena tak tahu apa artinya munsyi.
Balik ke mana? Anonim sendiri baru sadar. Ia tak pernah jelas dalam soal pulang. Ia lebih banyak tahu soal pergi, daripada pulang. Di Jakarta ia kost pada keluarga Jawa. Itu pun jarang ditidurinya. Kamar kost hanya untuk menyimpan buku-bukunya, koleksi audio-visualnya, dan beberapa pakaiannya yang tak banyak. Ia tidur hampir di sembarang tempat, menggelandang. Dengan tas ransel di punggung. Ada notebook yang selalu dibawanya. External CDRW. Kamera video excel-one. Yang ada di sakunya, hanya dompet berisi ATM. Beberapa lembar rupiah. KTP. Sim A. Juga foto dirinya, waktu sekolah di Rotterdam, Belanda. Itu saja. Selebihnya tersimpan di otaknya.
Sudah beberapa hari ini, dia menghabiskan waktu dari warnet ke warnet. Kadang-kadang ke café-net, kalau pas lagi genit, dan pengin ngadem di mall. Dari nama tempatnya, menunjukkan kelasnya. Warnet, singkatan dari warung internet, penataannya memang tak lebih seperti warung. Asal muat banyak. Agak beda dengan café-net, yang biasanya di mall, plaza-plaza orang kaya, atau lobi hotel yang nyaman.
Meski kali ini ia gagal lagi menjebol server raksasa di Amerika. Tapi tekadnya bulat, suatu saat pasti bisa dijebolnya tembok raksasa itu. Rencana besar sudah dirancang di otaknya. Memangnya hanya Robin Hood saja yang boleh jadi legenda?
Tapi, malam ini, ia mau tidur di mana?
Keamanan Jakarta tidak menentu.
Penculik bergentayangan. Ia tak ingin pengalaman buruk terulang.
Beberapa kali, ia gagal menghubungi Dewi Lailatul, perempuan yang dianggap sebagai kekasih jiwa. Sudah ganti nomor ponsel? Kenapa tidak memberitahukan? Marah? Telpon ke kantornya, selalu dibilang tak ada di tempat. Menghindari? Apa salah dan dosaku?
Anonim merutuki dirinya. Atau, memang dirinya tak pantas memiliki kekasih macam Dewi Lailatul, perempuan setengah bidadari, dari sorga itu?
Bagaimana dengan DR, kekasihnya yang lain lagi? DR sangat sibuk, sebagaimana takdirnya artis sinetron Indonesia. Sementara cemceman Izumi, tentu saja tak bisa ditemuinya dengan gampang, karena di Jepang. Baru saja, malah perempuan Jepang itu menyuruhnya pergi ke Yogya. Itu pun lewat email.
Anonim gelisah.
Pada saat-saat seperti itu, betapa kehadiran perempuan-perempuan yang dicintainya, akan sangat menentramkan. Satu saja syaratnya: Asal tidak datang berbarengan. Bisa hancur dunia.
Ah, ngapain takut pulang? Si Desy Ratnasari tadi, dengan mobil mewahnya yang gemerlap, hanya sendirian. Pada dini hari begini.
Ha, perempuan cantik itu sendirian di Jakarta? Dini hari? Perempuan cantik di warnet? Bermobil mewah? Naluri Anonim langsung bekerja. Jangan-jangan dia intel? Sudah sebulan ini, Anonim merasa was-was terhadap orang di sekitarnya.
Soeharto memang sudah tak berkuasa. Tapi orang-orangnya? Atau bagaimana kalau yang menamakan dirinya Orde Reformasi, berkomplot dengan Orde Baru?
Bagaimana kalau Tutut jadi presiden?
“Bajiiingngaaaaaannnnnnnnnnn,…!!!” Anonim berteriak, sambil mengacungkan tinjunya. Ke langit hitam.
Rangga, penjaga warnet berwajah Nicholas Saputra, kaget bukan kepalang.
“Lu gila. Langit bisa runtuh, lu tinju begitu!”


[1] Aku sangat merindukanmu.
[2] Gus Dur, nama populer KH Abdurrahman Wahid.
[3] Aku butuh laporan orang itu. Ini penting untuk melihat perjalanan politiknya. Aku sudah kirim duit kemarin, ke rekening tabunganmu.

Cara Gampang Jadi Presiden

TERTARIK menjadi Presiden Republik Indonesia tahun 2009 mendatang? Segera baca tulisan ini, karena akan segera diketahui, apa saja kiat-kiatnya. Jangan katakan bahwa bercita-cita menjadi presiden sesuatu yang muluk, tidak realistis, bombastis, ngayawara, bullshits, nonsens.

Jangan percaya kata-kata sisnis dan bau pesimisme itu. Sekaranglah waktunya untuk kita. The dreams come true! Bangun dunia kita dengan lebih optimis. Kalau ada orangtua yang terpaksa perlu kita percaya, mungkin cuma Sukarno, yang mengatakan; “Gantungkan cita-citamu setinggi langit!” Selebihnya, omong kosong!

Baru dua alinea Anda baca, sekali berhenti, maka separoh kekalahan sudah terjadi. Bagaimana tidak? Karena hanya mereka yang punya tekad membara, termasuk menyelesaikan bacaan ini, akan bisa masuk kriteria menjadi kandidat Presiden Republik Indonesia.

Siapa yang bisa menduga, bahwa Barrack Obama, yang pernah tinggal di daerah kumuh Menteng Atas Indonesia, menjadi kandidat presiden Amerika Serikat? Siapa menyangka bahwa ibu rumah tangga Qori Aquino, menjadi presiden Philipina? Sama seperti yang tak kita duga sama sekali, siapa menyangka SBY menjadi presiden Indonesia? Persis dengan ketidakmengertian kita, bagaimana MJK bisa menjadi wakil presiden Indonesia!


Apa yang dikatakan oleh para pengamat, akademisi, atau para pedagang riset dan polling, hanyalah teoritisasi dari sesuatu yang sudah terjadi. Post factum. Meski ada yang jumawa semacam Denny J.A., yang konon sudah bisa memprediksi kemenangan pasangan SBY-MJK, ketahuilah, tidak ada yang mempercayainya waktu itu. Tidak juga SBY-MJK. Tidak juga Deny J.A., sekali pun nama yang terakhir ini masuk dalam “man of the year” atau “the king maker”, sebagai iklan-iklan di koran tentang dirinya, yang dibuat oleh dirinya pula.

Jadi, fakta itu menunjukkan, sebelum segala sesuatunya terjadi benar-benar, kita tidak boleh membunuh mimpi atau cita-cita kita, untuk menjadi presiden. Bahkan untuk Pemilu 2009 sekali pun. Masih ada waktu, masih ada kesempatan. Bagaimana caranya? Tentu saja, baca buku ini sampai tuntas.

Tidak ada yang sulit di dunia ini. Apalagi di Indonesia. Karena jika kita percaya pada keajaiban, begitu banyak keajaiban yang bisa diharap terjadi di Indonesia. Gus Dur saja, pendekar demokrasi itu, lebih percaya wangsit kyai langitan, daripada mekanisme sebuah partai modern, yang mengandalkan kedaulatan anggota partai. Sebagaimana namanya, keajaiban tidak mengenal rumus-rumus eksak. Tidak mengenal angka-angka polling. Justeru rumus keajaiban yang non-eksak itulah yang sering dicuri, untuk menjadi pembenaran bagi seluruh keajaiban yang direkayasa. Bukankah jika diperlukan segala macam angka-angka eksak dan akademis itu, semuanya bisa dihadirkan secara ajaib. Dan kita menganggapnya sangat wajar, betapa pun ajaibnya itu.

Bagaimana bisa? Tentu saja, untuk sampai pada pemahaman filosofis dari tesis itu, tidak bisa didapatkan segera dari pengantar pendek ini. Sekali lagi, jika Anda sudah tuntas membaca buku ini, akan segera tahu, bahwa memang tidak ada sesuatu yang sulit. Tidak sesuatu yang tidak mungkin. Tidak ada sesuatu yang absurd, di bumi persada Indonesia.

Buku ini, dipersembahkan bagi para calon presiden Republik Indonesia, masa kini dan mendatang. Sebelum sampai pada cita-cita, jangan berhenti membaca buku ini. Meski harus diwariskan kepada anak-cucu-buyut-canggah, dan seterusnya dan seterusnya hingga tujuh puluh turunan, cita-cita menjadi presiden Indonesia adalah sah. Tetaplah optimis. La tahzan, kata sebuah buku laris. Bergembiralah. Jangan bersedih.

Sebagaimana sahabat-sahabat saya yang juga tetap optimis. Tetap bekerja dan berkarya, di belantara Indonesia, di pelosok-pelosok desa, meski tidak populer, karena media hanya milik para selebritas dan narsis. Mereka tetap mencintai Indonesia, meski yang memerintah Indonesia tidak mereka sukai. Adrian, yang masih terus mendampingi anak-anak Suku Anak Dalam di Sumsel. Taki, yang rela menyusuri sungai-sungai liar di Barito, dan membantu penduduk setempat dalam hal medis. Gugun, di balik-balik gunung wilayah “pedalaman” Jawa Barat. Maliko, di Aceh yang jauh dari televisi dan wartawan. Barko, di Papua yang “nyamuknya ganas-ganas” tapi tetap enjoy mendidik anak-anak Papua (kisahmu lebih dahsyat dari film-film kita). Bubun di perbatasan Indonesia dan Timor Leste, yang sering dicurigai tentara. Belum lagi Puti, Raja dan Ratu, Badilla, Dolitel, dan masih seabreg lagi lainnya di Lebak, Sidoarjo, Sorong, Lombok, Solok,...

Mereka pastilah menanti, Anda-lah yang menggantikan menjadi Presiden Republik Indonesia. Terima kasih kepada para sahabat-sahabat baik seperti itu. Dengan cara seksama dan dalam tempo yang sesingkat-singkatnya. Tidak akan sampai setengah hari. Bersegeralah. Dan jadilah presiden Republik Indonesia!

Yogyakarta, Desember 2007 - Agustus 2008

S.W.